
Dengan penerbangan malam, Lorie sudah tiba di Kota Broocklyn pukul enam pagi keesokan harinya. Alex sudah mengatur seorang sopir untuk menjemputnya, jadi ia tidak terlalu kesulitan.
Sopir yang tampak masih muda itu membantunya membawakan koper dan beberapa tas tambahan yang berisi oleh-oleh untuk triplets. Kemarin setelah tiba di kantor, ia langsung meminta Jenty untuk membelikan beragam mainan anak-anak dengan model terkini untuk para bocah laki-laki, juga boneka-boneka yang lucu untuk para gadis cilik.
Dalam perjalan sebelumnya ke Kota Venice, terjadi hal yang tidak terduga sehingga ia tidak sempat membawakan apa-apa untuk para keponakannya itu. Jadi sekarang ia ingin menebusnya. Untung saja masih ada cukup waktu untuk menyiapkan kejutan sebelum ia pergi ke bandara.
“Apa keadaan Amber sudah lebih baik?” tanya Lorie kepada sang sopir setelah ia memasang sabuk pengaman. Ia memang sengaja tidak menelepon atau mengirim pesan kepada gadis itu karena takut mengganggu waktu istirahatnya.
“Ya, Nona Lorie. Dia menjadi lebih bersemangat saat semalam Tuan Besar mengatakan Anda akan segera tiba,” jawab sang sopir.
“Oh, syukurlah.”
Lorie sungguh merasa lega. Tadinya ia berpikir mungkin kondisi Amber akan memburuk, tapi sepertinya itu hanya kecemasannya saja yang berlebihan.
Mereka tiba di The Spring Mountains satu jam kemudian. Cahaya matahari sudah menyinari seluruh kediaman yang megah itu ketika Lorie turun dari mobil. Dua orang pelayan menyambut dan membantunya membawakan barang-barangnya ke dalam.
“Selamat pagi, Tuan Alex, Billy,” sapanya saat melihat Alex dan Billy sedang duduk di ruang tamu.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Alex.
“Tidak buruk. Semua baik-baik saja, Tuan.”
“Alex sudah memintamu untuk naik jet pribadi saja agar lebih nyaman, kenapa menolaknya?” celetuk Billy.
__ADS_1
“Aku tidak suka sendirian di dalam pesawat yang luas. Rasanya sangat sepi,” jawab Lorie seraya tersenyum tipis. Ia duduk di sebelah Billy dan bertanya, “Bagaimana keadaan Amber? Kata sopir, dia sudah lebih bersemangat?”
“Ya, mendengar kamu akan pulang, kondisi fisiknya membaik secara ajaib. Dia makan lebih banyak dari biasanya dan tidak menangis saat disuntik,” jawab Billy.
Alex mengangguk mengiyakan. Sepertinya putrinya itu sungguh merindukan Lorie.
“Baguslah kalau begitu. Sepanjang jalan aku mencemaskan kondisi tubuhnya.” Lorie mengembuskan napas lega. Ia sudah khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis kecil itu.
“Bagaimana kondisimu sendiri?” tanya Billy.
“Hanya mudah lelah. Selebihnya baik-baik saja berkat suplemen tambahan yang diramu khusus oleh Ana,” jawab Lorie.
“Bagus. Kalau begitu pergilah beristirahat. Setelah Amber bangun nanti, mungkin dia akan mendominasi dirimu dari pagi sampai malam.”
“Billy benar, pergilah istirahat. Aku akan meminta pelayan untuk membangunkanmu saat Amber juga sudah bangun,” ucap Alex. Ia tidak mau putrinya sembuh tapi justru membuat kondisi Lorie memburuk.
Lorie bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Baiklah kalau begitu. Aku ke kamar dulu.”
“Hm,” gumam Alex.
“Selamat beristirahat,” kata Billy.
Lorie mengangguk sekilas dan berjalan menuju kamar yang biasa ia tempati ketika tinggal di kediaman Keluarga Smith. Ruangan itu tampak bersih dan rapi. Sepertinya seprai dan kain gorden baru saja diganti. Aroma pinus yang segar menelusup ke dalam indra penciumannya, memberi rasa tenang dan damai.
__ADS_1
Ia membuka kopernya yang berada di sisi ranjang dan menata isinya di dalam lemari. Setelah itu, ia pergi mandi sebentar sebelum berganti pakaian dan naik ke tempat tidur.
Selama masa kehamilan, ia benar-benar mudah lelah, juga mudah mengantuk. Namun, ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Lebih baik mudah mengantuk daripada ia tidak bisa tidur sama sekali.
Baru saja hendak memejamkan mata, terdengar suara ketukan di depan pintu kamarnya. Lorie segera turun dan menuju pintu untuk membukakannya.
“Nona, Tuan meminta kami untuk mengantarkan sarapan,” ucap salah seorang pelayan setelah pintu di hadapan mereka terbuka.
“Oh. Terima kasih.” Lorie menyingkir dan memberi jalan agar troli makanan dapat lewat. Benda itu diletakan di samping meja marmer yang berada di dekat jendela.
“Kalau ada hal lain yang Anda butuhkan, silakan panggil kami,” ucap sang pelayan sambil membungkuk sopan.
Lorie mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada para pelayan itu. Setelah mereka pergi, Lorie menutup pintu dan menghampiri troli makanan.
Aroma sup rempah yang kuat menguar di udara saat ia membuka tutupnya. Aroma aneka masakan itu menggeletik ujung-ujung saraf perasanya sehingga Lorie merasa liurnya sudah hampir tumpah.
Ia tidak bisa menghabiskan makanan yang didapatnya dalam pesawat tadi, rasanya terlalu pedas sehingga ia tidak sanggup. Sejak hamil, ia memang alergi terhadap makanan pedas dan masam.
Wanita itu duduk di kursi dan mulai memilah hidangan yang menurutnya paling menggugah selera, kemudian menyendokkannya ke piring dan mangkuk.
Tanpa sadar seulas senyum terkembang di bibir Lorie. Kembali ke tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah memang terasa lebih nyaman.
Ia sedikit tidak sabar menunggu Amber bangun dan menemaninya bermain atau bercerita. Semoga dengan begitu rasa rindu mereka berdua bisa terobati.
__ADS_1
***