
Yana menyambut kedatangan Tara dan Gio dengan sangat antusias, karena baru kali ini Gio juga ikut menginap.
"Masuk Tara jangan hanya diam saja," kata Yana sambil memegang lengan putrinya itu. "Tapi tunggu dulu, apa kamu habis menangis, sebab mata kamu saat ini terlihat sangat sembab," tanya Yana langsung membuat Tara dengan cepat mengucek kedua matanya.
"Tadi di jalan aku kelilipan Ma, maka dari itu mataku terlihat seperti menangis. Kalau Mama tidak percaya tanya saja sama Gio." Tara menjawab sang ibu dengan cara berbohong dan ia juga sekarang malah menyuruh Yana bertanya pada Gio.
"Apa benar itu Nak, Gio?" tanya Yana yang sekarang terlihat beralih menatap menantunya itu.
Sedangkan Gio yang ditanya terlihat menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, sebelum laki-laki itu menjawab pertanyaan mertuanya itu. "Hm, iya ma, tadi Tara di jalan kelilipan." Meski Gio saat ini sedang berbohong tapi laki-laki itu berharap, kalau mertuanya itu percaya dengan jawabannya yang tadi.
"Wah kalau benar begitu, maka kamu ambil insto di kotak P3K itu," ujar Yana yang sekarang menyuruh putrinya itu mengambil obat tetes mata. "Sana ambil Tara biar mata kamu tidak iritasi sayang," sambung Yana.
"Biar aku saja yang mengambilnya ma, mama hanya perlu menunjukkan di mana tempat tetes mata itu," kata Gio yang memilih untuk mengambilkan sang istri. Supaya ibu mertuanya itu semakin yakin kalau Tara benar-benar kelilipan. Sehingga menyebabkan mata istrinya itu memerah.
__ADS_1
"Di dekat kamar kakak kamu Tika, tepat di dekat tembok," ujar Yana memberitahu Gio.
Saat Gio mendengar dekat kamar Tika, perasaan laki-laki itu sudah tidak enak. Namun, mau bagaimana lagi ia sudah terlanjur menawarkan diri pada ibu mertuanya tadi. "Baiklah ma, kalau begitu aku mau mengambilnya dulu," ucap Gio yang kemudian berjalan menjauh. Dengan perasaan yang tidak menentu.
*
Saat Gio akan mengambil kotak obat P3K itu, tiba-tiba saja sebuah tangan langsung saja mengambil obat tetes mata itu.
"Avantika, aku tidak punya banyak waktu. Sini berikan aku obat tetes mata itu." Gio mengatakan itu dengan tatapan wajah yang sangat datar. "Tara saat ini sedang membutuhkan obat itu," ujar Gio yang terpaksa mengatakan itu pada Tika. Supaya wanita itu memberikan Gio obat itu.
"Sana ambil!" seru Tika yang malah membuang obat tetes mata itu ke dalam kamarnya, kebetulan pintu kamar wanita itu terbuka dengan sangat lebar. "Sana Gio ambil, dengan cara masuk ke dalam kamarku," sambung Tika yang kimi malah menyuruh Gio untuk masuk ke dalam kamarnya hanya untuk mengambil obat tetes mata itu.
Sedangkan Gio langsung saja menggeleng kuat, karena sebenarnya Gio tahu kalau selama ini Tika lah yang telah menghasut sang ibu supaya Lydia terus-terusan minta cucu dari Gio dan Tara. Sehingga membuat Lydia lama-lama menjadi tidak menyukai Tara hanya karena cerita karangan yang telah dibuat oleh wanita licik yang ada di depan Gio saat ini. Membuat laki-laki itu tidak bisa mempercayai Tika dengan mudah, mengingat ini semua bisa saja menjadi jebakan yang dibuat oleh kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Avantika, kamu saja yang mengambilnya untuk adikmu Tara. Karena aku sudah tahu isi otak licikmu itu," ucap Gio tersenyum sinis. Karena laki-laki itu kini malah menjadi sangat membenci Tika. Atas perbuatan dan kelakuan wanita itu sendiri. "Ingat Avantika, mau bagaimanapun kamu menjebakku, aku tidak akan pernah masuk ke dalam perangkapmu, karena kita ibarat kamu pemula sedangkan aku pemain. Semoga sampai sini kamu paham wahai kakak ipar," kata Gio penuh penekanan.
"Ambil untuk Tara, dan jika tidak maka aku akan memberitahu semua ini pada mama Yana dan papa Arzan," ancam Gio, karena ia tidak mau kalau sampai Tika mencoba ingin membuat hubungan rumah tangganya dengan Tara menjadi renggang. "Tunggu apa lagi? Sana ambil!"
Tika merasa sangat kesal dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Gio. Sehingga membuat Tika bukannya mengambil obat tetes mata itu, melainkan wanita itu malah memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, dan dengan sangat keras menutup pintu kamar itu. Dan tak lama terdengar suara Tika yang menjelek-jelekan Tara di depan Gio.
"Bekas orang saja di bangga-banggain, hedeh! Kayak tidak ada wanita lain saja!" seru Tika dari dalam kamarnya.
Sehingga membuat Gio yang masih berdiri di sana bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Kamu kaya raya Gio, tapi kenapa kamu malah memilih Tara buka aku? Kenapa Gio?!"
"Huh, terlepas dari Mommy, ternyata di sini juga ada yang akan menjadi penguji rumah tanggaku dan Tara," gumam Gio pelan dan memilih untuk segera pergi saja dari sana. Daripada nanti laki-laki itu emosi dan memberikan kakak iparnya itu pelajaran. "Memang lebih baik, aku dan Tara hanya tinggal berdua di rumah impian kami, supaya tidak terganggu dengan benalu seperti Avantika ini," sambung Gio. Yang tidak rela kalau sang istri di jelek-jelekkan oleh Tika seperti saat ini.
__ADS_1