
Malam pun menjelang. Tara dan Gio terlihat sudah rapi karena pasangan suami istri itu akan pergi ke rumah kedua orang tua Tara. Untuk menghadiri acara makan malam bersama karena Tika malam ini juga akan dilamar oleh Dion, sang kekasih pujaan hati Tara.
"Kenapa kalau wanita suka berdandan lama sekali?" tanya Gio ketika ia melihat Tara masih saja sibuk memoles wajah dengan bedak secara tipis-tipis.
"Jalan saja Gio, jangan bertanya padaku karena aku juga tidak tahu!" jawab Tara ketus. "Ayo jalan, jangan malah menatapku seperti singa yang sedang kelaparan, nanti matamu aku colok," lanjut Tara yang berpikir Gio menatapnya dari tadi. Sehingga membuat gadis itu dengan cepat memasukkan bedaknya ke dalam tas lagi dan segera menatap lurus ke depan.
"Apa semua wanita begini?"
"Pertanyaan macam apa itu Gio? Semua wanita begini itu apa maksud kamu?" Tara terpaksa menoleh ke samping di mana Gio sedang duduk menyetir dengan santai.
Gio yang di tanya malah menggeleng. "Tidak jadi, aku tidak jadi bertanya, kamu juga tidak usah tahu." Gio menjawab sambil tetap fokus menyetir karena malam ini suasana di jalan raya sedang dilanda kemacetan.
"Pria aneh!" gerutu Tara yang tidak puas dengan jawaban sang suami. "Ditanya malah jawabnya begitu, dasar laki-laki yang sangat menyebalkan. Tidak bisakah menjawab dengan baik dan benar. Huh, membuatku kesal saja! Jangan sampai gara-gara ini mood-ku jadi berubah," ucap Tara.
Gio melirik Tara sepintas, sebelum laki-laki itu kembali menatap lurus ke depan. "Kamu saja yang terlalu berlebihan Tara, masa gara-gara ini moodmu jadi berubah, sangat tidak masuk akal sekali. Sedikit-sedikit kamu malah mengaitkannya dengan suasana hatimu yang mudah kesal padaku. Sehingga membuatmu selalu saja menyalahkan aku yang terlihat salah di kedua bola matamu itu," sahut Gio yang tidak mau kalah. Apalagi di tuduh merusak mood sang istri. "Lain kali, jangan asal menyalahkanku. Karena aku tidak suka disalahkan begitu."
"Mulut-mulutku, kenapa kau yang menjadi sewot begini?" tanya Tara sambil berdakap tangan. "Kau sudah mulai membuat suasana hatiku menjadi berantakan malam ini."
Gio tidak menimpali sang istri karena ia tahu jika Tara terus di lawan adu mulut maka ia tidak akan pernah menang sama sekali. Oleh sebab itu, Gio memilih mengalah saja daripada nanti urusannya malah jadi panjang. Mengingat tinggal beberapa menit lagi mereka akan sampai di kediaman Arzan dan Yana.
__ADS_1
"Kenapa kau diam?"
"Aku fokus menyetir Tara, sudahlah jangan dibahas lagi. Karena itu tidak penting," jawab Gio tanpa melihat wajah sang istri. "Jangan marah-marah, nanti papa dan mamamu malah mengira kalau aku ini laki-laki yang jahat, sehingga membuat mereka berpikiran buruk padaku."
Tara membuang pandangan ke samping ketika ia mendengar Gio berkata seperti itu. "Cih! Sungguh menyebalkan sekali!" gerutu Tara pelan. "Laki-laki sok tau!" lanjutnya.
"Jangan marah nanti wajahmu cepat keriput," kata Gio membalas kalimat Tara.
"Terserah! Mau mukaku keriput itu bukan urusanmu!"
Gio hanya bisa mengelus da da dan menghela nafas.
***
"Silahkan turun tuan putri," ucap Gio sambil tersenyum ramah.
"Eleh, sok manis dan baik!" seru Tara yang selalu saja berkata ketus pada Gio. "Sana masuk duluan, tidak usah menungguku!"
Gio lagi-lagi harus menghela nafas karena sikap Tara yang seperti ini kepada dirinya. "Jangan begini terus Tara, aku nanti tidak mau masuk ke dalam rumahmu karena tuan rumahnya saja begini, tidak ramah bintang lima," kata Gio. Karena laki-laki itu berharap Tara merubah sedikit saja sikapnya itu. "Ayo, kita masuk sama-sama." Pada akhirnya Gio malah mengajak Tara masuk bersama-sama.
__ADS_1
Tara baru saja akan membalas kalimat Gio, tapi tiba-tiba saja matanya malah tidak sengaja melihat Tika dan Dion yang sedang berdiri di teras rumah itu.
"Dua manusia yang pantas di asingkan," gerutu Tara membatin di saat melihat Dion melingkarkan tangan di pinggang sang kakak. "Sungguh sangat menjijikan sekali," sambungnya membatin.
Gio yang melihat Tara diam saja melambai-lambaikan tangan di depan wajah sang istri. "Tara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gio.
Tara bukannya menjawab, tapi gadis itu malah menarik tangan Gio dan dengan cepat bergelayut manja di lengan sang suami sambil berkata, "Jangan, dan jangan banyak cincong!"
Gio tiba-tiba saja kaget dengan tingkah laku Tara. "Apa-apaan gadis ini, tadi cuek dan marah-marah. Tapi sekarang dia tanpa aba-aba malah bergelayut manja di lenganku," gumam Gio di dalam benaknya.
*
Yana terlihat sangat senang ketika wanita itu melihat putri dan menantunya telah datang. "Duduk dulu sayang, ajak suamimu," kata Yana dengan senyum yang mengembang di bibir wanita itu. "Tunggu sebentar Mama mau mengambil kue kesukaan kamu dulu."
"Ma, tidak usah repot-repot," ucap Tara saat melihat mata Yana terlihat begitu lelah dan letih. Karena Tara tahu pasti sang ibu bekerja seharian sendirian membuat hidangan sebanyak itu yang ada di atas meja. "Mama duduk saja ya, nanti kalau aku mau, aku bisa ambil sendiri ke dapur," sambung Tara. Sehingga membuat Yana duduk kembali di kursi sebelah gadis itu.
"Ah, Mama jadi tidak enak hati," celetus Yana.
"Tidak apa-apa, Mama duduk saja di sini." Tara tersenyum manis pada sang ibu. "Oh ya, ngomong-ngomong Kak Tika tadi mau pergi kemana?" tanya Tara yang menanyakan kemana Tika dan Dion tadi akan pergi.
__ADS_1
"Kakak kamu mau pergi menjemput kedua calon mertuanya," jawab Yana.
Tara manggut-manggut tanda mengerti, dan sebenarnya ia tahu bahwa Dion tidak memiliki orang tua, sebab laki-laki itu pernah bercerita padanya bahwa, Dion besar di panti asuhan. Akan tetapi, Tara yang tidak mau membuat sang ibu kepikiran. Oleh sebab itu, ia memilih diam saja dan berpura-pura tidak tahu.