
Tubuh Raymond seperti melayang saat kembali ke mobilnya. Tidak diacuhkannya tatapan aneh dari orang-orang dan bisik-bisik spekulasi yang diucapkan oleh mereka. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh pernyataan Alice yang terus berputar di kepalanya, juga memikirkan cara bagaimana untuk menghadapi Lorie.
Ia merasa sedih dan kecewa karena Lorie tidak memberitahunya perihal anak mereka, tapi juga tidak sanggup menanyakannya secara langsung. Ia tahu Lorie lah yang paling terluka dari semua kejadian ini.
“Tuan, maaf ... mobil Anda menghalangi jalan,” tegur seorang satpam dari samping kaca jendela.
Raymond meliriknya dengan kesal, lalu menyalakan mobil dan melesat pergi dari sana. Ia berputar mengelilingi kota beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di pelataran rumah sakit. Tangannya meremas kemudi dengan kuat, meremas seolah ingin menghancurkan benda itu dengan seluruh kekuatannya. Napasnya terengah, seakan ia baru raja berlari ribuan mil tanpa beristirahat. Tubuh dan jiwanya lelah, tapi ia juga tidak ingin pulang tanpa mendapatkan kepastian.
Oleh karena itu, setelah berhasil meredakan degup jantungnya sedikit, setelah bisa mengatur emosinya yang tidak stabil, Raymond membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Pandangan matanya sangat tidak fokus. Ada kalanya ia berhenti dan bersandar di tembok, termangu seperti orang linglung, lalu maju lagi selangkah demi selangkah di sepanjang koridor rumah sakit.
Saat akhirnya sampai di depan kamar rawat inap yang ditempati Lorie, Raymond hanya mematung di depan pintu. Beberapa kali tangannya terangkat hendak menyentuh gagang pintu, tapi pada akhirnya kedua tangan itu kembali terkulai tak bertenaga.
Ia sungguh tidak bisa menghadapinya. Seperti seorang pengecut, ia terlalu takut untuk masuk dan bertanya kepada Lorie. Hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit dan nyeri.
Pria itu bersandar di pintu dan menempelkan keningnya di sana. Tanpa sadar butiran air kembali menggenang di pelupuk matanya dan membuat pandangannya mengabur. Satu demi satu meluncur turun dan jatuh ke lantai. Seluruh tubuhnya gemetaran menahan isak tangis.
Hidup sampai sebesar ini, ia belum pernah menangisi sesuatu seperti sekarang ... tapi itu adalah anaknya, ya Tuhan ... itu adalah anaknya ....
Ia belum sempat melihat seperti apa rupanya. Bukankah ini terlalu kejam?
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Raymond menoleh ke samping ketika mendengar suara yang sedikit familiar itu. Sedetik kemudian, tubuhnya menegang dan tangannya mengepal. Matanya yang merah dan sembab tampak menyedihkan, tapi amarah yang berkobar dalam dirinya menuntut untuk dilepaskan.
Ia menatap lurus ke arah lawan bicaranya dan bertanya, “Apakah bayi itu betul milikmu?”
Daniel yang tiba-tiba ditanya seperti itu tertegun sejenak. Aura penuh kebencian dan permusuhan yang terpancar dari tubuh Raymond membuatnya mengernyit. Apa pria itu sedang menyalahkan dirinya?
Salah sendiri tidak bisa menjaga wanitanya dengan baik, mengapa hendak melampiaskannya kepada orang lain?
Tentu saja semua perubahan ekspresi di wajah Daniel itu tertangkap oleh Raymond. Kedua tangannya terkepal semakin erat. Jika bukan karena baji*ngan itu yang mengaku-ngaku bahwa bayi itu adalah miliknya, apakah ia akan mundur? Apa ia akan membiarkannya mendekati Lorie meski hanya satu langkah?
“Katakan, apa bayi itu milikmu atau bukan?” desak Raymond sambil menggertakkan giginya.
Daniel mendengkus dan membalas, “Apa itu penting sekarang? Dia sudah tidak ada.”
Jawaban yang terkesan asal-asalan itu meruntuhkan benteng kesabaran Raymond. Semua emosi yang ditahannya sejak tadi meluap seperti magma yang menggelegak dari perut bumi. Dalam satu langkah cepat yang tidak terbaca, ia melompat maju dan meninju Daniel hingga membuat pria itu terjungkal. Ia menduduki pria itu dan mengayunkan tinjunya dengan membabi buta.
“Tentu saja penting, kau bajing*an! Kalau aku tahu, aku akan menjaga mereka dengan baik! Dasar sampah!” raung Raymond dengan murka. Wajahnya benar-benar sudah terlihat seperti iblis yang ingin mencabut nyawa seseorang.
__ADS_1
Saat Raymond akan melayangkan tinjunya ke rahang Daniel lagi, pria itu berkelit dengan cepat sehingga tinju Raymond hanya menghantam ubin.
Daniel berguling dengan cepat dan mengangkat kakinya, menendang pinggang Raymond dengan keras sehingga lawannya itu terpental menabrak tembok. Ia lalu menumpu tubuhnya dengan tangan kanan dan menerjang ke depan.
“Kau yang bajing*an!” balasnya dengan geram. “Menghamilinya lalu lepas tangan begitu saja! Masih berani menyebutku sampah?!”
Kali ini Daniel yang menimpa tubuh Raymond dan memukulinya bertubi-tubi. Sesekali Raymond menangkis dan membalas, lalu pada satu momentum berhasil meninju pangkal leher Daniel dengan keras sehingga pria itu tersedak dan kehabisan napas.
Raymond bangkit dan berdiri di hadapan Daniel yang sedang meringkuk menahan rasa sakit. Seluruh wajahnya babak belur dan pakaiannya compang-camping. Akan tetapi, penampilan Daniel pun tak kalah kacau jika dibandingkan dengan Raymond. Secara keseluruhan, kedua pria itu benar-benar terlihat seperti gelandangan yang menyedihkan.
“Kau orang luar, tidak mengerti apa-apa dan membuat penilaian dari sudut pandangmu sendiri?” Raymond mencibir dan meludahkan darah dari mulutnya.
Ia meraih kerah baju Daniel dan mengambil ancang-ancang untuk memukulinya lagi. Namun, satu seruan dari balik tubuhnya membuatnya mengurungkan niat itu.
“Kalian berdua orang gila yang tidak punya otak! Berhenti atau aku akan meminta satpam menyeret kalian pergi dari tempat ini!”
Raymond menoleh dan mendapati Billy sedang memelototinya dengan sadis dari balik pintu. Akhirnya ia hanya bisa mengumpat dalam hati dan melepaskan cekalan di kerah baju Daniel dengan keras.
“Aku belum selesai berurusan denganmu!” geramnya sebelum berjalan dengan cepat menghampiri Billy.
__ADS_1
***