
Saat pesawat yang ditumpangi Raymond tiba di bandara Kota New York City, jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 11.00 waktu setempat. Ia segera berjalan keluar dari arrival gate dan memesan taksi bandara untuk membawanya ke Kota Broocklyn. Untunglah ia sempat tidur sebentar selama penerbangan dari Venice, kalau tidak ... bisa-bisa ia pingsan di tengah jalan
Raymond membuka ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Alex Smith sebelum ia naik pesawat sembilan jam yang lalu.
Rumah Sakit Kings County. Lantai 8.
Sepanjang perjalanan pikirannya kembali bercabang. Cemas karena memikirkan keadaan Lorie sekaligus cemas akan reaksi wanita itu saat bertemu dengannya. Karena terlalu fokus dengan pemikirannya, pria itu sampai hampir terlonjak dari kursi ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia menatap nama yang tertera di layar ponsel dengan nanar.
Alice.
Raymond terlalu terkejut sehingga terbengong sampai nada deringnya berhenti tanpa diangkat. Saat layar ponselnya kembali menyala, ia langsung menyentuh bulatan hijau yang muncul sebelum nada dering sempat terdengar.
“Alice?” panggilnya dengan nada suara yang terdengar sedikit ragu.
Pria itu sama sekali tidak menyangka jika Alice akan menghubunginya lebih dulu. Ia pikir ... hubungan mereka benar-benar sudah tidak bisa diperbaiki lagi, tapi tiba-tiba wanita meneleponnya seperti ini ....
“*Kamu ada di mana*?”
“Aku ... baru saja tiba di New York.”
Raymond mendadak tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Lidahnya terasa kelu. Pemikiran yang begitu banyak dalam tempurung kepalanya seolah menguap begitu saja. Otaknya tiba-tiba kosong melompong, sama sekali tidak mau bekerja sama meski ia sudah memaksa untuk memikirkan cara terbaik untuk membujuk Alice.
“*Masih tentang Lorie*?” tanya Alice setelah hanya mendengar deru napas Raymond di telinganya selama beberapa menit.
“Itu ... dia sedang dirawat di rumah sakit, Alice. Aku ingin menjenguknya ....”
“*Dia lebih penting dariku? Dari hubungan yang sudah kita bangun selama tiga tahun ini, Raymond? Kamu serius*?”
“Aku merasa bertanggung jawab—“
“*Atas dasar apa? Memangnya kamu yang membuatnya diculik dan masuk rumah sakit*?”
__ADS_1
Raymond memijit pelipis dan menghela napas.
“Bukan seperti itu, Sayang. Kamu tahu aku hanya mencintaimu, tidak pernah sekali pun aku berbuat hal yang macam-macam atau menyakitimu. Mengapa kamu begitu egois dan kekanakan?”
“*Aku egois dan kekanakan?! Egois katamu*?!”
Nada suara Alice naik beberapa oktaf. Raymond bahkan seolah bisa melihat bahwa tunangannya itu sekarang sedang berjalan mondar-mandir, mungkin dia masih berada di dalam ruang ganti atau ruang rias, mungkin juga sambil melempar beberapa barang karena kesal.
“Tolong mengerti aku satu kali ini saja, Sayang. Aku bersumpah, setelah aku menemuinya, aku akan segera menyusulmu. Oke?”
Kali ini Raymond bisa mendengar Alice menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras. Wanita itu melakukannya beberapa kali hingga akhirnya deru napasnya menjadi lebih tenang.
“*Aku menghubungimu untuk memperbaiki hubungan kita, Raymond. Aku sungguh ingin ini berjalan baik untuk kita berdua*.”
“Aku tahu. Aku sangat menghargainya, Sayang ... terima kasih ....”
“Alice ....”
“*Berjanjilah*.”
Raymond mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum menjawab, “Baik, aku berjanji.”
“*Bagus. Mungkin aku akan menyusul setelah show di Boston selesai*.”
“Oke. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu.”
“*Hum. Aku mencintaimu*.”
__ADS_1
Raymond terpekur dan menatap ponselnya meski Alice sudah memutuskan panggilan teleponnya. Kening pria itu mengernyit dalam, seolah sedang memikirkan suatu masalah yang sangat pelik dan rumit. Seingatnya, dulu Alice tidak pernah bersikap seperti ini. Dulu gadis itu begitu manis dan imut ... tidak pernah menuntut apa pun meski mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Namun, sekarang ia seperti sedang melihat Alice yang berbeda ... Alice yang begitu egois dan arogan.
Atau, barangkali selama ini ia yang menutup mata terhadap sifat buruk kekasihnya itu?
“Tuan, kita sudah sampai.”
“Oh.”
Pria itu membuka dompetnya dan membayar ongkos taksi, kemudian turun dan menyeret kopernya memasuki pelataran rumah sakit. Ia mencari lift dan langsung menuju lantai delapan.
Dua ....
Empat ....
Tujuh ....
Raymond merasa tercekik. Ia membuka kancing kemejanya yang paling atas agar bisa bernapas dengan normal. Detak jantungnya hampir kehilangan ritme ketika lift berdenting di lantai delapan. Ia menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya ketika pintu di hadapannya bergeser dan terbuka lebar. Dalam satu tarikan napas panjang, pria itu mencekal *handle* kopernya dan menarik benda itu keluar.
“Tuan Dawson?”
Raymond menoleh ketika mendengar namanya dipanggil.
“Ya?”
“Mari, ikut saya. Tuan Alex sudah menunggu Anda.”
Raymond menatap pria bersetelan necis di hadapannya sekilas, kemudian mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Untuk sesaat ia mempertanyakan apakah keputusannya untuk datang ke tempat itu sudah benar.
***
__ADS_1