
Gio memajukan wajahnya dan memiringkan kepala, tepat ketika bibir laki-laki itu akan mendarat tinggal beberapa senti lagi ke bibir Tara. Tiba-tiba saja gadis itu dengan cepat menolak sang suami.
"Jangan sentuh aku dulu Gio! Aku belum siap!" kata Tara ketus sambil menahan dada bidang laki-laki itu.
Refleks Gio memundurkan sedikit wajahnya, ketika laki-laki itu mendengar perkataan sang istri. "Bukankah tadi kamu yang meragukan kejantananku, Tara?" tanya Gio dengan cara berbisik. "Lalu kenapa sekarang kamu malah menjadi takut seperti ini?"
Tara kesulitan menelan salivanya, ketika mata gadis itu malah tidak sengaja melihat jajaran roti sobek sang suami. "A-aku bu-bukan ta-takut Gio! Ta-tapi aku haya be-belum siap," jawab Tara gugup dengan sedikit alasan yang masuk akal. Meskipun gadis itu saat ini tengah berbohong. "Menyingkir dari atas tubuhku Gio! Kau sangat berat sekali," rengek Tara dengan tubuh yang gemetaran. Karena posisi Gio saat ini tepat berada di atas tubuh gadis yang saat ini sedang berusaha mengontrol detak jantungnya.
Gio bukannya mendengar ucapan Tara, tapi laki-laki itu malah memasukkan tangannya ke dalam baju Tara dan tangan laki-laki itu begitu nakal yang malah mengelus punggung sang istri, memberikan sentuhan pada kulit gadis yang merasa sedikit ketakutan itu. Sedangkan tangan yang satunya bergerak cepat dari perut yang kini sampai ke da da gadis itu.
"Gio hentikan!" jerit Tara histeris. Karena sentuhan laki-laki itu hampir saja membuat gadis itu menjadi hampir gila. Sebab, Tara merasakan ada sesuatu yang menjalar di setiap peredaran darahnya hingga sampai ke ubun-ubun gadis itu.
"Meskipun kamu berteriak dan menjerit, tenang saja karena tidak akan ada yang mendengarmu. Jadi, kamu bisa puas men de sah di dalam kamar ini. Dan aku minta kamu lebih baik men de sah daripada berteriak serta menjerit-jerit yang tidak ada gunanya," ujar Gio yang malah meminta sang istri untuk men de sah. Sehingga memuat Tara langsung saja terdiam. "Tara, percayalah setelah ini kamu akan terbiasa, meskipun ini yang pertama akan merasa agak sedikit sakit."
__ADS_1
Jantung Tara berdegup keras, saat ia menatap sepasang mata hazel milik sang suami. Ditambah tangan Gio malah terpusat di da da gadis itu dan terus saja bergerak. Membuat Tara seolah-olah terbuai dengan gerakan tangan nakal sang suami. "Gio, aku mohon jangan sekarang," ucap Tara lirih karena gadis itu baru kali ini merasakan sensasi yang sangat berbeda.
Gio menatap wajah Tara dengan ekspresi yang sama-sama saat ini sedang menahan sesuatu. Dan dengan hitungan detik Gio malah menarik dres selutut yang digunakan oleh Tara. Detik itu juga kini di tubuh gadis itu cuma melekat b ra dan juga cdnya. Membuat Gio semakin melebarkan netranya tatkala melihat dua benda padat milik Tara super jumbo dan dua benda kenyal serta padat itu hampir saja menyembul keluar dari wadahnya saat ini.
"Apa kamu masih pe rawan?" tanya Gio tiba-tiba di tengah-tengah aura panas dari tubuhnya. Akibat laki-laki itu saat ini sedang menahan has ratnya.
Tara yang mendengar itu malah menjambak rambut sang suami. "Kau pikir aku ini wanita apaan, yang tidak pe rawan lagi, hah!" Tara detik itu juga membuka penutup gunung kembarnya sendiri. "Lihat pakai kedua bola matamu itu Gio, punyaku masih ori bukan bekas apalagi kw!" seru Tara yang merasa kesal sendiri. Sebab sang suami malah meragukan ke pera wanan gadis itu.
Sedangkan Gio yang melihat itu semua semakin terlihat seperti laki-laki normal pada umumnya, dimana adik kecilnya yang ada di bawah sana sudah tidak sanggup laki ia tahan. Dan pada akhirnya Gio malah membenamkan wajahnya pada dua benda kenyal itu. Sehingga detik berikutnya terjadilah adegan bercocok tanam antara dua pasangan suami istri itu. Namun, sebelum itu Gio sempat berbisik pada daun telinga sang istri berkata, "Sakit cuma sebentar, selebihnya akan terasa sangat nik mat."
"Lho kok Tara sama Gio belum datang sih, Ma?" tanya Arzan ketika ia belum melihat batang hidung putri serta menantunya itu. Di saat matahari berada di tengah-tengah langit yang berwarna biru dan sedikit memiliki awan putih seputih salju. "Apa Mama lupa memberitahunya?" Arzan bertanya lagi pada sang istri, yang saat ini terlihat sedang memilih-milih kartu undangan yang akan dicetak.
"Papa ini bagaimana sih, Tara bukannya pulang kuliah jam 2 siang, mentang-mentang Tara udah nggak tinggal di rumah ini lagi, Papa malah lupa," jawab Yana tanpa melihat ke arah sang suami. "Tadi pagi, ketika Mama menghubunginya Tara bilang akan langsung ke sini bersama Gio," lanjut Yana.
__ADS_1
Membuat Arzan mendekati sang istri. "Tapi tadi Papa sempat menghubungi dosen Tara, katanya mereka sedang libur, untuk menyambut bulan puasa," ucap Arzan memberitahu sang istri. "Apa Tara membohongi Mama?" Mendengar pertanyaan itu Yana mengangkat wajah, sehingga wanita itu bisa melihat kalau sang suami saat ini sedang duduk di depannya yang dibatasi meja.
"Papa ini, selalu saja berpikiran buruk, bisa saja Tara saat ini dan Gio sedang membuat cucu buat kita," seloroh Yana yang selalu saja membela Tara dalam keadaan apapun. Meski putrinya itu sedikit keras kepala dan juga egois. "Sudah lebih baik Papa pergi saja pantau sampai di mana pekerjaan tukang dekorasinya, karena Mama yakin sebentar lagi Tara dan Gio akan datang. Karena feeling seorang ibu sangatlah kuat."
"Terus feeling seorang ayah itu tidak kuat, begitu maksud Mama?"
"Bukan begitu Pa, tapi ikatan batin ibu dan anak itu memang sangat kuat. Maka dari itu Mama berkata seperti itu," jawab Yana.
Arzan menyengitkan dahi. "Baiklah, Mama yang menang. Kalau begitu Papa akan melihat tukang dekorasinya dulu," pamit Arzan yang lalu berdiri. "Mama jangan bingung-bingung memilih kartu undangan, saran Papa sih cari saja undangan yang simple," sambung Arzan yang sudah tahu saat ini Yana pasti sedang pusing mencari surat undangan yang cocok untuk Tika.
Ketika Yana akan membalas ucapan sang suami, tiba-tiba saja Tara dan Gio datang.
"Mama, aku datang!" seru Tara dengan cara jalan gadis yang sudah tidak perawan itu terlihat sedikit aneh. "Papa, anak Papa ini sudah datang," lanjut Tara yang menyapa sang ayah.
__ADS_1
"Kenapa jalan kamu seperti itu?" tanya Arzan yang merasa heran.
Tara dengan santainya menjawab, "Aku habis terpeleset di kamar mandi Pa, makanya cara jalanku begini." Tara berharap kedua orang tuanya percaya, karena ia tidak mungkin akan mengatakan yang sejujurnya, kalau ia sudah di unb oxing oleh sang suami.