Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 108


__ADS_3

Kedua orang itu sarapan dengan tenang, tidak banyak bicara satu sama lain. Setelah selesai makan, Raymond meminta Lorie untuk beristirahat, sementara ia membereskan peralatan makan di atas meja.


Lorie mengamati dan menyadarai bahwa semua gerakan Raymond tampak alami, tidak terkesan kaku sama sekali. Hal itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati, apakah saat bersama Alice, dia juga bersikap semanis dan selembut ini?


Wajah Lorie tiba-tiba menjadi muram. Ia kesal terhadap dirinya yang berpikiran sempit dan cemburu karena hal-hal yang diciptakannya sendiri. Benar-benar picik.


“Ada apa?” tanya Raymond yang baru saja mengembalikan tutup nampan ke tempat semula.


Lorie mengerjap dan menjawab, “Tidak ada.”


“Mau jalan-jalan sebentar di luar?” tawar Raymond. “Kemarin hujan, pagi ini udara pasti sangat sejuk dan segar, bagus untukmu.”


“Eng ... tidak usah. Aku mau beres-beres untuk pulang saja.”


“Oh. Oke. Mau aku bantu?”


Alis Lorie berkedut. Raymond yang seperti ini benar-benar ... bagaimana mengatakannya? Ekspresi wajahnya yang serius dan penuh kesungguhan itu membuatnya terlihat sangat lucu, membuat Lorie tiba-tiba memiliki niat untuk mempermainkannya sedikit. Pasti akan lebih menyenangkan saat melihatnya salah tingkah.


“Kamu mau membantu?” tanya Lorie untuk memastikan.


“Ya,” jawab Raymond dengan cepat. “Katakan saja, apa yang harus aku lakukan.”


“Itu ... bisa tolong bereskan barang-barangku yang ada di lemari. Masukkan saja ke dalam koper hitam yang ada di rak paling bawah.”

__ADS_1


“Oke.”


Raymond berdiri dan berjalan menuju kamar perawatan Lorie. Ia membuka pintu lemari kayu yang ada di ruangan itu dan melihat barang-barang yang ada di dalamnya. Bagian paling atas berisi pakaian dalam dan sisa pembalut. Tidak masalah, ia sudah biasa melihatnya.


Pria itu bersikap tenang, lalu menunduk untuk mengambil koper di bagian bawah. Ia membuka koper dan mulai menata baju-baju Lorie di dalamnya. Sisa pembalut diletakkan sama rata dengan tumpukan baju itu.


Pakaian dalam diambilnya paling akhir dan disusun di tumpukan paling atas. Ia berdeham pelan saat melihat bra hitam dengan renda-renda mungil di sekelilingnya, satu setelan dengan ****** ***** hitam berenda yang terlihat sangat seksi.


Pikiran Raymond teralihkan untuk sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka Lorie akan memakai pakaian dalam seimut itu. Seolah baru saja diinjeksi oleh morfin, pria itu merasa pandangannya mengabur dan ia mulai melayang. Permukaan bra itu terasa sangat lembut di telapak tangannya dan ia tidak tahan untuk meremasnya pelan.


Tes ... tes ....


Cairan hangat yang mengalir dari hidungnya membuat Raymond terkesiap. Ia langsung melempar satu setel pakaian dalam itu ke atas koper, lalu menutup area hidungnya dengan tangan dan berlari ke kamar mandi.


Lagi.


Raymond sungguh tidak percaya dengan reaksi tubuhnya sendiri. Area di pangkal pahanya terasa sangat sakit karena mengeras dengan tidak terkendali.


Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Lorie memberi pengaruh sebesar itu terhadap dirinya? Bahkan bersama Alice selama tiga tahun tidak pernah membuatnya terang*sang seperti ini.


Raymond yang kebingungan hanya bisa menatap pantulan wajahnya di cermin dengan ekspresi penuh cemoohan. Sekarang ia benar-benar merasa dirinya sudah menjelma menjadi seorang bajingan me*sum yang tidak tahu malu.


“Ray?” panggil Lorie dari balik pintu. “Kamu baik-baik saja?”

__ADS_1


“Ya,” jawab Raymond dengan suara sengau karena masih memijit hidungnya untuk menghentikan pendarahan.


“Hanya sakit perut lagi,” imbuhnya dengan penuh ketidakberdayaan.


“Benarkah hanya sakit perut?” tanya Lorie. Nada suaranya terdengar sedikit tidak percaya.


“Ya,” balas Raymond dengan singkat. Ia tidak mau banyak bicara untuk saat ini. Mana mungkin mengakui bahwa ia bergairah sampai mimisan hanya karena menatap satu setel pakaian dalamnya. Sungguh konyol dan memalukan.


Lorie yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi merasa sedikit aneh. Tadinya ia ingin muncul tiba-tiba saat Raymond sudah selesai membereskan barang-barangnya, ingin melihat ekspresi wajahnya yang malu-malu. Siapa sangka pria itu justru berlari ke kamar mandi sambil menutupi hidung dan mulutnya sebelum ia menyapanya.


Lalu sekarang dia bilang sakit perut? Apakah dia muntah? Keracunan makanan?


“Perlu aku panggilkan dokter?” tanya Lorie.


“Tidak! Tidak perlu. Akan baik-baik saja sebentar lagi.”


Lorie mengernyit karena jawaban yang aneh itu, tapi juga tidak mau mendebat Raymond. Pada akhirnya ia pergi dan berjongkok dengan sangat hati-hati di dekat koper, lalu menutup resletingnya.


Ia sedikit meringis ketika bagian bawah perutnya sedikit tertarik ketika ia hendak berdiri. Ia mendesis menahan sakit, tapi tetap mengetatkan rahangnya dan berjuang untuk bangun.


Sialan. Kalau tahu akan begini lebih baik tadi ia biarkan saja koper itu terbuka.


***

__ADS_1


__ADS_2