
The Spring Mountains.
Amber yang sangat merasa bersalah kepada Lorie bersikap sangat baik. Gadis kecil itu melayani di sisi Lorie dan memperlakukannya seperti Ibu Suri. Siapa pun tidak boleh membuat Lorie kesal, termasuk kedua kakaknya, bahkan ayahnya tidak diperbolehkan untuk memberi tugas atau pekerjaan kepada Lorie sampai dia benar-benar sembuh. Amber juga meminta pelayan untuk menyajikan hidangan yang enak dan bergizi setiap hari.
Lorie menghabiskan waktunya selama dua minggu penuh di Spring Mountains dan berhasil menambah bobot tubuhnya sebanyak lima kilogram. Ia merasa telah berubah menjadi seekor ba*bi peliharaan yang gemuk. Meski demikian, ia sangat bersyukur atas semua perhatian gadis itu sehingga kondisi tubuhnya pulih dengan cepat.
“Aunty!”
Lorie terlonjak saat mendengar seruan si peri kecil yang menggema di sepanjang lorong. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gadis imut itu sedang berlari ke arahnya dengan penuh semangat. Rambutnya dikuncir ekor kuda bergoyang ke kanan dan kiri seirama gerakan kakinya. Dia masih memakai pakaian seragam. Jelas dia baru pulang dari sekolah. Lorie sedikit curiga melihat tingkah bocah yang tampak terlalu bersemangat itu.
“Apa yang sedang Aunty lihat?” tanya gadis itu setelah tiba di depan Lorie.
“Hanya sedang melihat pemandangan,” jawab Lorie seraya mengelus puncak kepala Amber.
Amber melongok ke balik pundak Lorie, memperhatikan deretan pohon pinus di halaman belakang rumahnya dan mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.
“Apa bagusnya pohon-pohon itu,” gerutunya dengan bibir mengerucut.
Lorie terkekeh mendengar keluhan itu. “Kamu anak kecil mana mengerti,” balasnya.
Amber mencibir dan memutar bola matanya.
“Aku bukan anak kecil,” protesnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian matanya bercahaya dan terlihat penuh semangat. Perubahan emosi yang sangat cepat itu membuat Lorie menggelengkan kepala dengan tak berdaya. Sepertinya ia harus menyarankan Tuan Alex untuk memasukkan Amber ke sekolah akting.
“Apa lagi yang membuatmu bersemangat seperti itu?” goda Lorie seraya mencubit pipi sang gadis cilik.
“Tadi aku bertemu paman tampan di depan gerbang utama. Dia terlihat sangat sopan dan lembut. Aku meminta sopir untuk berhenti. Ketika aku menurunkan kaca jendela mobil, dia menghampiri dan bertanya apakah Aunty ada di sini,” jawab Amber dengan sedikit ekspresi main-main di wajahnya.
Gadis itu lalu mendekat ke telinga Lorie dan berbisik, “Aunty, apa kamu berselingkuh dari Paman Daniel?”
Senyuman di wajah Lorie menghilang dengan cepat. Ia mengulurkan tangan untuk menjewer telinga Amber sambil berkata, “Gadis kecil, pergi belajar! Kamu terlalu mencampuri urusan orang dewasa, takutnya aku salah bicara di depan ayahmu dan—“
“Tidak!” sela Amber dengan cepat. “Aku bersalah. Tidak berani mengganggu Aunty lagi.”
Ayahnya pernah memarahi dan memberi hukuman karena ia terlalu suka ikut campur urusan Aunty Lorie dan Paman Daniel. Ayahnya yang kejam itu melarangnya keluar dari kamar saat akhir pekan. Benar-benar ayah yang tiran!
Lorie menyeringai puas. Ia menyentil kening Amber dengan pelan sambil berkata, “Pergi belajar dan kerjakan tugasmu.”
Apakah Raymond datang lagi?
Bukankah beberapa waktu ini pria itu sudah tidak pernah mencarinya? Dia juga berhenti menelepon dan mengirim pesan. Lalu, mengapa sekarang tiba-tiba dia muncul di sini?
Saat Lorie masih sibuk dengan pikirannya,seorang pelayan menghampirinya dan mengatakan bahwa pria di depan gerbang utama mulai membuat keributan.
“Dia mengatakan tidak akan pergi sebelum Nona keluar, bahkan jika Tuan Alex atau Tuan Billy mematahkan kaki dan tangannya, dia tidak akan pergi,” lapor pelayan itu.
__ADS_1
Lorie mengela napas dan memijit pelipisnya. Apa pria bodoh itu tahu apa yang dikatakannya? Takutnya Tuan Alex dan Billy akan benar-benar mematahkan kaki dan tangannya.
“Apa yang harus saya sampaikan kepadanya, Nona?” tanya pelayan yang masih berdiri di depan Lorie.
“Tidak perlu. Aku akan turun. Terima kasih.”
“Baik, Nona.”
“Oh. Tolong jangan menyinggung masalah ini di hadapan Tuan Alex atau Billy ... juga Dokter Ana.”
“Anda tenang saja, jangan cemas.” Sang bibi menjawab dengan penuh pengertian, kemudian pergi dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Lorie berjalan di atas hamparan batu kerikil yang membentang sepanjang jalan setapak menuju gerbang utama. Dari jarak beberapa meter, ia sudah bisa merasakan tatapan intens yang ditujukan kepadanya. Tiba-tiba Lorie merasa hampir pingsan. Untunglah ia hanya terhuyung sebentar dan kembali menemukan pijakan yang kokoh.
Raymond yang melihat hal itu merasa cemas dan tanpa sadar berteriak, “Lorie, hati-hati!”
Lorie tidak memberi reaksi apa pun. Namun, apa yang muncul di permukaan jelas berbeda dengan apa terjadi dalam hatinya.
Itu adalah hujan badai dan petir!
***
jangan lupa likee yaa
__ADS_1
thank you!
❤