
Raymond akhirnya berhasil mengumpulkan kekuatan dan tekad untuk menekan bel. Sesaat kemudian, suara nyaring yang melengking memecahkan kesunyian.
Satu detik.
Dua detik.
Waktu terasa berjalan sangat lambat dan menyiksa. Namun, keraguan yang tadi sempat menyelimuti hati Raymond perlahan sirna. Ia menekan bel lagi dan lagi ketika pintu di hadapannya tak kunjung terbuka. Syak wasangka membuat amarahnya perlahan menggumpal seperti bola salju yang menggelinding di tebing curam, semakin lama semakin besar dan mengimpit dadanya.
Alice tidak mungkin membiarkan seorang pria menginap di rumahnya, ‘kan?
Apa wanita itu sedang mencoba untuk balas dendam?
Ini ... dengan alasan apa pun, sungguh tidak bisa diterima.
Rasa kesal yang membuncah membuat Raymond menekan bel tanpa jeda. Ia tidak peduli jika tetangga di kiri dan kanan rumah itu juga ikut mendengar suara bising yang dihasilkan olehnya.
“Siapa?”
Suara yang sangat dikenal oleh Raymond terdengar dari dalam. Tak lama kemudian, cahaya lampu ruang tengah memantul lewat jendela kaca.
Bahu Raymond yang bergerak naik turun dengan cepat terlihat sedikit gemetar mendengar suara anak kunci yang diputar. Ketika handle pintu tampak bergerak ke bawah, kedua tangan Raymond mengepal dengan erat di sisi tubuhnya. Seluruh tubuhnya seolah hendak memancarkan api saat itu juga.
“Siapa yang—“ Alice tercengang di depan pintu. Ia melongo seperti sedang melihat hantu.
“R-ray? Ap-apa y-yang ....”
__ADS_1
“Mobil siapa yang ada di depan?” tanya Raymond dengan sangat dingin. Ia bisa melihat dengan jelas bercak kemerahan yang ada di leher dan bagian atas dada Alice. Jelas itu bukan bekas luka atau gigitan serangga.
“A-ah ... i-itu ....”
Jantung Alice seolah merosot dari rongganya. Ia bahkan mengira dirinya sudah akan pingsan saat itu juga. Namun, sialnya ia hanya mematung dan tergagap seperti orang bodoh di hadapan Raymond.
“Ada apa, Babe?”
Suara serak khas orang yang baru bangun tidur terdengar dari balik tubuh Alice, membuatnya seketika menegang dan tidak berani menoleh. Wajahnya yang panik tampak lebih pucat dari sebelumnya.
Raymond menggertakkan giginya dan menerjang maju. Dalam sekali entakan, pintu di depannya terempas dan terbuka lebar. Sosok pria paruh baya yang hanya memakai celana boxer tampak terkejut dan berdiri di tengah ruang tamu.
“Siapa dia?” tanya Raymond dengan napas memburu.
“A-aku bisa jelaskan, Ray. Dia ... dia ... manajer Lucas. Aku ... hanya ....”
“T-tidak ....”
Alice mendekat dan ingin menyentuh lengan Raymond, tapi tangannya ditepis dengan sangat keras hingga Alice hampir tersungkur. Tak disangka, pria berambut keperakan yang berada di belakang Alice segera melompat maju dan menahan pinggangnya dengan erat.
“Siapa kamu? Kenapa sangat kasar terhadap wanita?” sentak pria itu seraya memelototi Raymond.
“Pergi! Singkirkan tanganmu!” teriak Alice dengan panik. Ia menampik bantuan pria itu dan mendorongnya dengan keras.
“Babe, apa yang terjadi? Siapa dia?”
__ADS_1
“Diam! Enyah dari sini!” raung Alice kepada pria itu. Ia sungguh ingin menampar dan membenturkan kepalanya ke tembok hingga pecah. Kalau bukan karena bajingan itu yang memaksa untuk menginap, ia tidak harus berada dalam situasi seperti ini!
“Apa yang terjadi?” sergah sang pria yang tidak terima karena niat baiknya dibalas seperti itu oleh Alice. Ia mencoba mendekat, tapi Alice memelototinya dengan penuh amarah.
“Jangan mendekat! Bajingan!” raung wanita itu, kehilangan kendali dirinya. Seluruh tubuhnya gemetar dan ia mulai menangis. Tungkainya seolah berubah menjadi jelly. Ia jatuh ke atas lantai dengan keras.
“Alice, hati-hati ... benturan keras bisa menggangggu bayi—“
“Diaaam! Brengsek! Tutup mulut busukmu!” teriak Alice dengan murka. Ia menatap Raymond dengan panik sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“T-tidak ada bayi, Ray. Dia hanya bicara omong kosong. Dia yang memaksaku. Aku tidak mau, tapi dia terus mengancamku,” jelas Alice sambil menatap penuh permohonan kepada tunangannya.
Raymond dari awal sampai akhir hanya menyaksikan drama itu sambil mencibir. Ia sungguh tidak menyangka, rupanya ia tidak perlu repot-repot menjelaskan apa pun karena Alice sudah membuat garis batasan yang jelas di antara mereka.
“Kamu benar-benar menjijikkan, Alice. Aku sungguh tidak menyangka ....”
“Ray, aku bisa jelaskan ... dia mengancam akan menyebarkan videoku,” gumam Alice sambil memegang kaki Raymond erat-erat.
Ia sangat takut Raymond akan pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasannya lebih dulu. Lucas, pria bangkotan yang memiliki koneksi dengan broadway itu mengiming-iminginya dengan ketenaran sebelum membawanya ke atas ranjang. Bertahun-tahun, ia bisa menembus dunia model internasional dan mengikuti fashion show ke berbagai negara, itu karena campur tangan Lucas. Sekarang, ketika ia tidak menginginkan itu semua lagi, Lucas mengancamnya dengan video asusila mereka. Alice benar-benar tidak bisa berkutik.
Jika video itu tersebar di internet, bukan hanya karirnya yang akan hancur, keluarga Dawson juga tidak akan menerimanya sebagai menantu! Bagaimana ia bisa menanggung semuanya?
Jadi, yang bisa ia lakukan adalah menahan semua perlakuan Lucas sambil memikirkan cara untuk menyingkirkan bedebah itu.
Akan tetapi, Raymond datang di saat yang tidak tepat. Ia tidak menduga sama sekali kalau tunangannya itu akan datang. I
__ADS_1
Ia sama sekali tidak menduganya ....
***