
Raymond rebah di sisi Lorie sambil tersenyum puas. Pria itu memeluk pinggang Loire dengan erat, kemudian mendaratkan satu kecupan di pipinya dengan lembut. Dari matanya yang berkabut dan setengah terpejam, Lorie sangat yakin bahwa pria itu sama sekali tidak menyadari siapa dirinya. Ia sudah berusaha menjelaskan identitasnya kepada pria itu sejak tadi, tapi ... tetap saja ....
Rasa lengket membuat Lorie merasa sangat tidak nyaman. Akan tetapi, untuk membalikkan tubuh saja ia tidak bisa. Anak buah Rafael itu benar-benar keparat, entah obat apa yang dia suntikkan sehingga memberi efek mengerikan seperti ini. Lorie hanya bisa terus mengutuk dan memarahi keparat itu agar mati dengan cara yang mengenaskan.
Suara dengkuran halus dari samping tubuhnya membuat Lorie semakin kesal. Ia melirik dan mendapati mata Raymond sudah terpejam erat. Pria itu tidur dengan sangat damai, seolah tidak ada beban di pundaknya sama sekali, membuat Lorie pun memaki dan memarahinya dengan keras.
"Benar-benar binatang buas yang tidak bisa menahan ereksinya! Sialan!"
“Alice ... Alice ... brengsek! Aku bukan Alice, dasar keparat!” gumam wanita itu sambil menatap langit-langit hotel yang menjadi saksi bisu semua rentetan peristiwa yang mengguncang jiwanya barusan.
Bohong kalau ia tidak merasa marah dan terpukul. Ini adalah pengalaman pertamanya, tapi harus ia lewati dengan cara seperti ini. Pria yang menidurinya bahkan memanggil nama kekasihnya berkali-kali saat mencapai kl*maks. Benar-benar sialan.
Wanita itu mengingatkan dirinya berkali-kali untuk segera membeli pil kontrasepsi begitu tubuhnya bisa digerakkan. Ia tidak ingin terjadi hal di luar kendali yang akan memicu rentetan kejadian lainnya yang tidak ia inginkan.
Lorie mendesa pelan. Meski harus ia akui bahwa ia sedikit merasa tertarik kepada Raymond, bukan berarti ia rela diperlakukan seperti ini. Paling tidak ... ah, lupakan.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka berdua? Bedebah ini jelas sedang mabuk.”
Dan sepertinya dia mabuk karena sedang bertengkar dengan kekasihnya. Bukankah mereka sedang berpelukan mesra tadi sore?
Pikiran Lorie yang kacau balau terbagi antara Raymond Dawson dan Rafael. Ia mengutuki kedua pria itu bergantian. Karena mereka berdua, kesucian yang dijaganya bertahun-tahun hilang dengan cara menyedihkan seperti ini.
“Rafael ... berdoa saja agar kita tidak bertemu lagi, kalau tidak ... aku akan memutilasi kelam*nmu dan memberinya untuk dimakan anjing liar.”
“Raymond ... saat kamu sadar nanti, aku akan ... aku ....”
Lorie mendesah tak berdaya dan kembali melirik ke samping. Pria yang tertidur dengan damai itu terlihat sangat tampan.
“Sebaiknya kita juga jangan bertemu lagi. Pergi nikahi Alice-mu itu dan tiduri dia setiap malam agar kalian lekas punya anak. Jangan pernah menggangguku lagi. Untuk apa yang terjadi malam ini ... aku akan menganggap hanya digigit anjing liar, tidak akan memperhitungkannya denganmu ....”
Mata Lorie tidak terpejam sama sekali. Ia bergumul dengan batinnya sampai jam dinding yang berada di atas tembok menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Untuk kesekian kalinya wanita itu mencoba menggerakkan kaki dan tangannya. Ia hampir menjerit karena rasa lega yang luar biasa. Akhirnya tangannya bisa bergerak!
__ADS_1
Jari-jarinya bisa bisa mengepal. Lututnya bisa ditekuk. Kepalanya bisa diangkat.
Lorie menarik napas dalam-dalam dan menyingkirkan tangan Raymond dari atas perutnya. Ia berguling turun dari ranjang tanpa suara. Karena matanya sudah beradaptasi dengan cahaya redup di dalam kamar, ia dapat memunguti pakaiannya yang berserakan dengan mudah, lalu memakainya secepat yang ia bisa.
Sambil berjinjit agar tidak menimbulkan suara apa pun, wanita itu mengambil tasnya yang tergeletak di lantai dan menyelinap keluar tanpa berbalik atau mengucapkan apa pun kepada pria yang masih terlelap di atas kasur.
Untungnya tidak ada satu orang pun yang lewat di depan kamar itu. Dengan sedikit tergesa ia mengambil kartu kamar dan membuka pintu, kemudian menerobos masuk begitu panel berkedip hijau.
Akhirnya ....
Tanpa berpikir dua kali, Lorie bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat membuka baju, ia baru menyadari ada beberapa bekas kemerahan yang ditinggalkan oleh Raymond di tubuhnya, membuatnya mengerang frustasi karena tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya.
Ia menyalakan shower dan berdiri di bawah pancuran air itu, menggosok sabun dan membilaskan berkali-kali, berharap dengan demikian seluruh jejak percintaan akan menghilang dari tubuhnya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin keras ia menggosok, semakin merah pula permukaan kulitnya. Akhirnya wanita itu menggeram kesal dan mengisi bathtub dengan air hangat dan sabun. Ia lalu masuk dan berendam di dalamnya, bahkan membenamkan kepalanya dalam-dalam selama beberapa menit, menyembul sebentar untuk mengambil napas, lalu menyelam lagi ke dasar bathtub. Begitu terus hingga dadanya sudah hampir meledak karena tak kuasa terus disiksa seperti itu.
__ADS_1
***