Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 39


__ADS_3

Wajah Alex tampak cemas saat melihat Lorie dipapah keluar oleh Dokter Ana. Ia menghampiri kedua wanita itu dan bertanya, “Ada apa? Apa kondisinya baik-baik saja?”


“Jangan cemas, Tuan. Dia hanya kelelahan. Meski begitu, untuk menghindari komplikasi, aku akan membawanya ke lab untuk diperiksa lebih lanjut,” jawab Dokter Ana.



“Baiklah. Kabari aku secepatnya,” ucap Alex.



“Baik, Tuan.”



“Aunty ....” Amber bergayut di pinggang ayahnya dan menatap Lorie dengan wajah memelas. “Apa kamu baik-baik saja?”



Lorie tersenyum dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala bocah itu.



“Jangan cemas, Aunty akan segera pulang untuk bermain dengan kalian di rumah. Oke?” balasnya.



“Benarkah?” seru triplets bersamaan.


Mata bulat Amber semakin membola dan berbinar cerah. Sementara Aslan dan Aaron, meskipun tidak seantusias Amber, Lorie tahu mereka pun berharap ia bisa pulang ke Spring Mountains.


“Benar. Aunty janji. Sekarang kalian pulang bersama Daddy dulu, ya? Nanti Aunty akan menyusul bersama Aunty Ana.”



“Oke!” seru Amber sambil tersenyum lebar. Ia maju untuk memeluk Lorie, disusul oleh kedua saudara laki-lakinya, lalu mereka mundur dan membiarkan Dokter Ana memapah Lorie ke kursi roda yang tersedia di sudut kamar.



“Sampai jumpa!” ucap Lorie sebelum didorong keluar dari kamar.


__ADS_1


Triplets melambai penuh semangat ke arah Lorie seraya tersenyum lebar, membuat seulas senyum ikut tersungging di bibirnya.



“Aku benar-benar merindukan bocah-bocah itu,” gumam Lorie saat Dokter Ana membawanya melewati lorong dan berbelok menuju lift.



“Mereka memang menggemaskan. Sangat mirip dengan Kinara.”



Mendengar perkataan itu, tanpa sadar tangan Lorie mengusap perutnya dengan pelan dan berpikir dalam hati, jika ia benar-benar sedang mengandung anak Raymond Dawson. Akan mirip siapa anaknya kelak?



“Lorie?”



“*Huh*?”




“Tidak ada.”



“Lalu mengapa melamun?”



“Aku tidak—“



“Aku bertanya, apakah kamu ingin aku temani?”


__ADS_1


“Oh ....” Lorie mengerjap dan menatap wanita-wanita hamil yang sedang mengantri di bagian depan poli kandungan. “*Um*, apakah kamu tidak keberatan?”


“Tentu saja tidak. Tunggu di sini, aku akan mendaftar untukmu.”


“Oke.”


Lorie memperhatikan Dokter Ana yang berjalan menuju bagian pendaftaran. Wanita itu tampak berbicara serius dengan petugas yang berjaga di sana, menoleh sambil menunjuk ke arahnya, lalu berbicara lagi sambil menunjuk ponselnya. Petugas di balik meja itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu masuk ke ruangan dokter. Tak sampai lima menit kemudian, ia kembali dan menyampaikan sesuatu kepada Dokter Ana, membuat wanita itu berbalik dan berjalan dengan seringai lebar di wajahnya.


“Ayo, masuk,” ujarnya seraya mendorong kursi roda menuju pintu.


Lorie tampak terkejut. Ia mendongak untuk menatap wajah sahabatnya, lalu menoleh ke arah pasien lain yang masih duduk di bangku tunggu.


“Kita tidak mengantri?” bisiknya.


Dokter Ana terkekeh pelan, lalu menunduk dan membalas dengan suara yang sangat lirih, “Itulah gunanya memiliki koneksi.”


Lorie terlalu terkejut sehingga tidak berani menoleh ke kanan atau kiri lagi. Ia takut akan mendapati orang-orang sedang mencibir atau memelototinya karena sudah menerobos antrian. Untungnya Dokter Ana segera membuka pintu dan mendorongnya masuk.


“Halo, Nona Lorie. Aku adalah Dokter Ruth.” Seorang wanita berambut pirang yang tampaknya sudah berusia 50-an menyambut dengan ramah.


“Aku sudah mendengar secara singkat dari Dokter Ana. Silakan berbaring, aku akan melakukan USG untuk memastikan apakah dugaan Dokter Ana itu benar,” sambungnya lagi.


Seorang perawat yang ada di dalam ruangan itu segera membantu Lorie naik ke atas ranjang, membantunya membuka kancing baju dan mengoleskan gel ke perutnya. Lorie sedikit berjengit karena gel itu terasa sangat dingin.


Dokter Ruth kemudian menempelkan sebuah alat dan menggerakkannya berputar di atas perut Lorie sambil bertanya, “Kapan periode terakhir menstruasimu, Nona Lorie?”


Lorie tampak berpikir keras, mencoba mengingat tanggal berapa terkahir kali ia datang bulan.


“Kalau tidak salah ... itu adalah 20 Juli,” jawabnya seraya memperhatikan ekspresi wajah Dokter Ana dan Dokter Ruth bergantian. Ia lalu memejamkan mata dan mencoba mengingat lagi.


Di hotel, bersama Raymond ... itu adalah tanggal 15 Agustus. Ia disekap selama satu hari dan koma selama 15 hari. Itu berarti ....


Sekarang tanggal berapa?


Benar-benar sudah lewat dari siklus yan seharusnya. Tiba-tiba tenggorokan Lorie terasa kering. Ia sungguh berharap Dokter Ruth akan mengatakan bahwa keterlambatan siklus bulanannya hanya karena pengaruh obat dan perawatan pasca koma.


Sayangnya, wanita tua itu justru membuka mulut dan berkata, “Sudah ada kantung embrio, Nona Lorie ... usianya tujuh minggu. Meski sangat lemah, tapi masih bisa bertahan.”


Lorie terdiam dan berbaring seperti patung. Pertarungan antara surga dan neraka ... memutuskan apakah janin yang belum terbentuk dengan sempurna itu akan ia pertahankan, atau ... disingkirkan saja?


***

__ADS_1


__ADS_2