
Alarm yang dipasang Kinara sudah berbunyi sejak tadi, membuat ponselnya bergetar tanpa henti. Meski begitu, ia masih terlelap dengan tenang dalam pelukan suaminya. Perpaduan kehangatan dan aroma musk yang lembut membuat gadis itu lupa bahwa ia harus bersiap untuk pergi ke The Spring Mountains. Matanya masih terpejam ketika suara dari ponselnya berhenti dengan sendirinya.
"Bangun, Pemalas," ujar Alex seraya mengusap rambut istrinya. Telunjuknya menyusuri garis leher gadis itu, bergerak mengikuti tulang selangka hingga ke tulang punggung.
Kinara menggeram pelan dan menyusupkan kepala ke dada Alex. Gerakan ringan yang dibuat oleh suaminya itu memberi sensasi aneh yang membuat sekujur tubuhnya meremang. Sensasi yang sama seperti ketika lidah pria itu menjajah dan menguasai mulutnya.
"Aku masih mengantuk," protes Kinara ketika merasakan tangan Alex masih bergerilya di atas tubuhnya.
"Kamu terlihat seperti kue yang lembut dan manis, membuatku sangat ingin memakanmu," gumam Alex, mengabaikan perkataan istrinya.
"Kamu terlihat seperti monster besar yang sangat mesumm, membuatku ingin melarikan diri darimu," balas Kinara dengan mata masih tertutup rapat.
Alex tertawa lepas mendengar balasan Kinara. "Tunggu aku sembuh. Aku benar-benar akan memakanmu," godanya.
Ia meraup wajah istrinya dan menciuminya tanpa membiarkan ada satu inchi pun permukaan kulit yang terlewat.
Kinara hanya bisa pasrah, tak mampu memberikan perlawanan. Lagipula, ia tahu melawan suaminya hanya membuang-buang tenaga. Pria itu selalu berhasil mendapatkan apa yang ia mau.
"Bangun dan bersiaplah, kita harus ke Spring Mountains sebelum siang," kata Alex setelah puas menciumi istrinya.
"Spring Mountains?" Kinara terduduk dan memegang kepalanya. "Astaga, aku lupa!"
Ia melihat ke dinding, jam besar berwarna hitam yang menempel di sana menunjukkan pukul delapan. Gadis itu melompat turun dari ranjang dan segera bersiap.
"Pelan-pelan, tidak ada yang mengejarmu," kata Alex.
"Granny akan mempunyai alasan lain untuk membenciku kalau sampai kita terlambat!" seru Kinara dari dalam kamar mandi.
Ia berusaha menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Tadi malam Alex baru memberitahu bahwa mereka harus tiba di The Spring Mountains sebelum pukul setengah sembilan, itu artinya setengah jam lagi.
"Kamu sudah mandi?" tanya Kinara seraya mengeringkan rambutnya.
"Hum."
Kinara merapikan dress biru laut dengan model sabrina yang ia pakai. Rambutnya ia biarkan tergerai tanpa hiasan apa pun. Ia membuka laci meja rias dan mengeluarkan kotak perhiasan. Kalung dengan liontin berbentuk tetesan air menjadi pilihannya, terlihat sangat cocok dan serasi dengan gaun yang ia pakai.
Gadis itu memasang anting-anting berbentuk bulat polos di telinganya, lalu kembali bertanya, "Kapan? Siapa yang membantumu ke kamar mandi?"
"Tadi pagi, aku memanggil pengawal."
Alex mengamati gerakan tangan istrinya yang mengoles bedak tipis-tipis dan pelembab bibir dengan cekatan. Gadis itu terlihat seperti sekuntum daisy yang cantik dan segar. Jenis kecantikan gadis itu sama seperti sebongkah berlian yang belum dipoles, hanya perlu sedikit sapuan kuas untuk membuatnya berkilau. Alex tersenyum puas, merasa bahagia dan sangat beruntung karena menjadi pemilik berlian yang langka itu.
"Alex?" Kinara melambaikan tangannya di depan wajah suaminya. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa tidak mendengarkanku?"
__ADS_1
"Sedang memikirkan kamu," jawab Alex sambil mengulurkan tangan, hendak meraih tubuh istrinya.
Namun, respon Kinara lebih cepat. Ia berkelit dan mundur beberapa langkah. "Aku akan memanggil pengawal untuk membantumu. Aku tidak ada waktu untuk merapikan kembali riasanku jika kamu merusaknya," gerutunya.
Desahan tidak rela lolos dari mulut Alex. "Kalau begitu, apakah aku boleh mengacaukan riasanmu setelah kita kembali dari sana?" bujuknya.
"Dasar mes*m!"
Kinara melotot sambil berkacak pinggang, membuat siluet tubuhnya yang mungil dan ramping semakin terlihat jelas. Alex ingin memprotes, tapi itu akan membongkar rahasianya, jadi ia hanya bisa menahan napas dan mengingatkan diri untuk selalu berada di dekat istrinya nanti.
"Aku akan menunggu di mobil," pamit Kinara.
Gadis itu mengambil tas belanjaan yang khusus untuk dibawa ke The Spring Mountains, lalu keluar dari kamar. Ia memberitahu bodyguard yang berjaga untuk masuk dan membantu Alex. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 08.15, membuat langkah kakinya semakin panjang dan lebar.
"Kenapa pria menyebalkan itu tidak pernah membangunkanku tepat waktu?" gerutu Kinara sambil memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi. Kali ini mereka sudah pasti akan terlambat. Kalau saja semalam pria itu membiarkannya beristirahat lebih awal ....
"Nyonya, Anda tidak masuk?" tegur Lorie.
Kinara masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Pikirannya benar-benar sedang tidak fokus saat ini.
"Apa yang sedang dilakukannya? Kenapa lama sekali?" keluh Kinara ketika Alex tak juga muncul dari dalam rumah.
Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 08.23. Kinara menarik napas panjang dan bersandar di sandaran kursi. Putus sudah harapannya untuk memberikan kesan baik dan mengambil hati granny.
Lorie membantu Kinara mengeluarkan barang-barang dari bagasi dan membawanya ke aula utama The Spring Mountains. Para pelayan yang berbaris di sepanjang pintu masuk segera menerima tas-tas itu dan membawanya ke dekat meja panjang, kemudian kembali berbaris dengan rapi.
"Biar aku saja," kata Kinara pada salah seorang bodyguard yang mendorong kursi roda suaminya.
"Silakan, Nyonya."
Kinara mengambil alih tugas itu dan berjalan masuk. Telapak tangannya sedikit berkeringat karena gugup.
"Tenanglah," bisik Alex, seakan tahu kegelisahan istrinya.
"Tidak bisa," balas Kinara dengan bisikan pula.
Beatrice Smith yang lebih dulu melihat kedatangan anak dan menantunya segera memberikan senyum lebar di dekat pintu masuk.
"Kami sudah menanti kedatangan kalian sejak tadi," ujarnya.
Kinara tersenyum kikuk. "Maaf, Mom--"
"Aku terlambat bangun," sela Alex.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, yang penting kalian sudah sampai dengan selamat," hibur Beatrice, "Kemarilah, aku sangat merindukan kalian."
Tangan Kinara terentang, membalas pelukan ibu mertuanya. "Apa kabar, Mom?" sapanya.
"Perfect," jawab Beatrice. Binar bahagia di matanya terlihat murni dan tidak dibuat-buat. Ia menyentuh pipi Kinara sambil menatap gadis itu dengan sorot kasih sayang yang tulus. "Terima kasih karena telah merawat putraku dengan sangat baik," imbuhnya.
"Itu adalah tugasku," balas Kinara seraya mengulas senyum manisnya.
Alex memerhatikan interaksi dua wanita di hadapannya dalam diam. Ia senang karena ibunya mau menerima Kinara dan menyambut gadis itu dengan baik.
"Beatrice, sampai kapan kamu akan menahan anak dan menantuku di depan pintu?" keluh Jonathan Smith, "Bawa mereka ke sini."
"Kalian dengan ocehan ayah kalian, bukan? Ayo, masuk," ajak Beatrice.
Kinara kembali mendorong kursi roda suaminya hingga ke aula utama. Mulanya Kinars pikir granny sudah pergi karena terlalu lama menanti kedatangan mereka. Namun, nyatanya wanita paruh baya itu masih duduk di kursi paling ujung, menatapnya dengan sorot bermusuhan yang tidak ditutup-tutupi sedikit pun.
"Dad, Granny," sapa Kinara.
"Kemarilah. Duduk di sini," jawab Jonathan seraya menunjuk dua buah kursi di dekatnya.
Kinara menurut, membaws suaminya ke sana. Setelah memastikan kursi roda Alex sudah aman, ia berjalan menuju para pelayan yang memegang tas belanjaan dan mengambil sebuah kotak berwarna ungu muda. Ia menghampiri granny dan menyerahkan benda itu.
"Hallo, Granny, apa kabar? Saya memberikan sesuatu untuk Anda, semoga--"
"Enyah dari hadapanku!" hardik granny.
Senyum di wajah Kinara berubah kaku. Ia berbalik dan hendak mengambil hadiah, masing-masing untuk ayah dan ibu mertuanya. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan yang cukup tajam disertai bunyi kertas yang berhamburan mengalihkan perhatian semua orang yang ada dalam ruangan itu.
"Dasar Jala*g! Perempuan murah*n!" umpat granny dengan suara bergetar karena amarah.
Kinara membalikkan tubuhnya perlahan, ingin mengetahui apa yang memicu emosi wanita tua itu.
"A-apa ini?" Kinara tergagap melihat lembar demi lembar foto yang bertebaran di atas meja.
Foto-foto dirinya dengan Benji kemarin terlihat begitu intim, seakan mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Dari mana ini semua?
Manik bulat Kinara mengerjap tak percaya ketika melihat ada lebih banyak lagi foto dalam kotak hadiah yang baru saja ia berikan pada granny.
Bagaimana mungkin? Jelas-jelas kotak itu berisi sebuah tas ....
Siapa yang menukarnya?
__ADS_1