Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 75


__ADS_3

Daniel tersenyum puas saat melihat Lorie mengangguk dan menyetujui usulnya. Dengan bersemangat ia membantu Lorie duduk di kursi roda, kemudian mendorong wanita itu keluar dari ruangan. Ia mendorong Lorie di sepanjang lorong menuju taman yang ada di bagian belakang rumah sakit, tempat khusus yang disediakan agar pasien dapat berjemur atau melakukan olah raga ringan.


Pergantian suasana itu membuat wajah Lorie tampak lebih merona dan segar. Sejujurnya, ia memang sangat bosan terkurung selama belasan hari di dalam ruang perawatan.


“Terima kasih sudah mengajakku keluar,” ucapnya dengan suara yang cukup keras sehingga bisa didengar oleh Daniel.


Mata Daniel berbinar dan dipenuhi cahaya yang menyilaukan. Sangat jarang Lorie bersikap lembut kepadanya.


“Kalau kamu suka, aku akan mengajakmu berkeliling setiap hari. Katakan saja, kamu ingin pergi ke mana.”


Lorie terkekeh karena jawaban konyol itu.


“Memangnya kamu tidak mengurusi pekerjaanmu? CEO macam apa yang hanya keluyuran dan menggoda wanita?” balasnya.


“Kamu jangan khawatirkan itu. Aku sangat kompeten sehingga bisa bekerja dan mengejar wanitaku dalam satu waktu,” balas Daniel dengan sangat sombong.


Sekarang Lorie benar-benar ingin bangun dan menjitak kepala pria yang tidak tahu malu itu. Namun, sebelum niat itu terlaksana, sekelebat bayangan yang tertangkap oleh ekor matanya membuatnya tertegun beberapa saat. Meski sedikit ragu, sosok yang baru keluar dari lift di lorong kanan itu tampak familiar, membuat jantung Lorie seolah pindah ke tenggorokannya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Daniel seraya menoleh ke arah yang sedang ditatap oleh Lorie. Karena ada banyak orang yang lalu lalang, ia tidak bisa menebak apa yang membuat Lorie tampak linglung.


“Cepat sedikit,” gumam Lorie. Ia memalingkan wajahnya ke depan dan duduk tegak seperti kayu.


“Baik.”


Daniel mendorong Lorie sedikit lebih cepat. Dari gerak-gerik wanita itu yang mendadak cemas dan gugup, sedikitnya ia bisa menebak bahwa dia baru saja melihat seseorang yang dikenalnya tapi tidak ingin ditemuinya.

__ADS_1


Apakah Raymond?


Alis Daniel bertaut di kening. Dalam situasi seperti ini, akan sangat menjengkelkan kalau ia harus bertemu saingan cintanya.


“Lorie!”


Tubuh Lorie menegang saat mendengar suara yang familier menyerukan namanya. Sepersekian detik kemudian, ia berkata, “Jangan menoleh!”


Daniel menuruti permintaan itu tanpa banyak tanya dan mempercepat langkah kakinya. Akan tetapi, sebelum mereka tiba di ujung lorong, seseorang sudah menghadang di depan kursi roda. Daniel menatap sosok itu dengan ekspresi tidak suka yang terlihat jelas. Bahkan ada aura permusuhan yang memancar dari tubuhnya saat melihat pria itu berjongkok di hadapan Lorie.


“Ini benar kamu,” gumam Raymond yang tidak tahu harus tertawa atau menangis karena bahagia.


Bukan hanya suaranya saja yang bergetar, hampir seluruh tubuhnya pun ikut gemetar. Akhirnya di saat ia sudah hampir menyerah, saat ia sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi, Lorie muncul di hadapannya seperti mimpi.


Lorie menggigit bibirnya kuat-kuat saat rasa yang tidak nyaman bergejolak di dalam perutnya. Seperti ada pusaran angin yang menderu dan mengobrak-abrik dadanya dengan semena-mena. Mendadak ia menyesali keputusan untuk keluar mencari udara segar. Sekejap ia melihat lilitan perban dan gips yang menutupi lengan kiri Raymond, tapi ia memilih untuk tidak berkomentar apa pun.


“Siapa Anda, Tuan? Mengapa mengganggu calon istriku?” Daniel yang lebih dulu membuka suara karena melihat Lorie sama sekali tidak berniat untuk merespon pria asing itu.


Calon istri?


“Aku ....”


Raymond terdiam sesaat karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia menelan ludah yang mendadak terasa seperti gumpalan pasir. Ia menatap Lorie lekat-lekat, seolah ingin mencari jawaban atas pernyataan barusan. Namun, ekspresi wajah Lorie tidak berubah sedikit pun. Dia tidak menyangkal atau membenarkan ucapan itu sehingga Raymond tidak tahu harus bersikap bagaimana.


“Aku adalah temannya.” Pada akhirnya hanya itu yang bisa diucapkan oleh Raymond. Keningnya mengernyit seolah sedang menahan rasa sakit.

__ADS_1


“Sepertinya calon istriku tidak ingin bicara denganmu. Kalau tidak ada hal lain, kami akan pergi.”


“Tunggu!” Raymond melompat berdiri dan menahan kursi roda yang diduduki Lorie. “Aku ... aku perlu bicara dengannya. Bisakah Anda meninggalkan kami berdua sebentar?”


“Aku tidak ingin bicara denganmu,” sela Lorie dengan intonasi yang datar, tidak terdeteksi emosi apa pun di dalamnya.


“Lorie ... aku hanya—“


“Anda dengar sendiri dia tidak ingin bicara, kenapa memaksa?” tegur Daniel. Ia memperhatikan Raymond dengan saksama, lalu mencibir dalam hati karena dari segi apa pun, jelas ia lebih unggul dari pria itu.


Lorie terlihat lelah karena perselisihan kecil itu. Ia menarik napas dan mengatur degup jantungnya yang berantakan sebelum berkata, “Kalau kamu terus seperti ini, Alice bisa salah paham. Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Apakah itu sudah cukup jelas?”


“Aku sudah berpisah dengannya,” balas Raymond dengan cepat.


Lorie membeku. Ia mendongak dan ingin mencari kesungguhan dalam ucapan Raymond. Apakah pria itu sedang membohonginya? Baru dua bulan ... bukankah mereka berkata ingin mempercepat proses pernikahan? Mengapa berubah arah 180 derajat seperti ini?


Ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Lorie, tapi pada akhirnya ia hanya berkata, “Lalu kenapa? Apakah itu ada hubungannya denganku?”


“....”


Raymond tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin meluruskan bahwa kini tidak ada siapa-siapa lagi di antara mereka. Akan tetapi, saat berpaling dan mendapati pria di belakang Lorie sedang memelototinya, ia mengurungkan niat itu.


Daniel yang merasa gusar segera mendorong Lorie pergi. Ia sengaja menyenggol pundak Raymond dengan keras saat berjalan melewatinya. Sedikit kekanak-kanakan memang, tapi setidaknya itu bisa mengurangi rasa kesalnya.


Sementara itu Raymond yang ditinggalkan begitu saja memiliki perasaan bahwa ia baru saja dirampok. Hartanya yang paling berharga baru saja dibawa pergi tepat di depan mukanya, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun.

__ADS_1


Rasanya sangat menyakitkan ....


***


__ADS_2