Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 91: Tuhan, sembuhkan suamiku.


__ADS_3

Kinara kembali ke kamar bersama seorang pelayan. Ia memberi segelas air pada Alex, kemudian membantu pelayannya membersihkan barang-barang yang berserakan di atas lantai. Tidak sampai setengah jam, ruangan itu telah kembali rapi seperti sedia kala.


"Sudah makan siang?" tanya Kinara. Ia menghampiri Alex dan duduk di sebelahnya.


"Hm."


"Bagaimana keadaanmu? Ada perubahan?"


"Belum."


Kinara menarik ujung celana Alex dan mengusap permukaan kaki suaminya itu. "Seandainya aku bisa membantu," keluhnya dengan penuh rasa tak berdaya.


Alex menahan napas. Rasa geli merambat dari telapak kaki hingga pangkal pahanya. Ia mengulurkan tangan, meraih kepala Kinara dan mengelusnya perlahan.


"Jaga dirimu baik-baik, itu sudah sangat membantu."


"Lorie menjagaku dengan baik," balas Kinara, lalu dengan cepat berguling ke sisi suaminya. Ia bersandar pada bahu Alex. Tangannya melingkari pinggang pria itu, memeluknya erat-erat.


"Ada apa?" Alex melirik ke bawah, memerhatikan istrinya yang suka berulah itu. "Kamu melakukan sesuatu lagi?"


"Tidak." Kinara menggeleng cepat. "Hanya sedikit terganggu oleh ucapan Benji."


"Yang mana? Soal dia menyukaimu?" goda Alex.


Lorie telah melaporkan semuanya, setiap kalimat yang diucapkan oleh Benji tanpa ada yang terlewat. Pemuda bodoh itu sangat nekat dan sembarangan, tapi ia juga tidak mau mengambil resiko dengan membiarkannya begitu saja. Beberapa orang telah ia suruh untuk mengadakan Jericho dengan lebih ketat lagi.


Gelengan kepala Kinara lebih kuat daripada yang tadi. "Kamu jangan salah paham! Aku tidak memikirkan ocehannya yang tidak masuk akal itu. Aku hanya khawatir kalau Jericho benar-benar sedang menyiapkan sesuatu untuk menyerangmu lagi," jelasnya dengan bibir mengerucut.


"Tidak akan. Tenanglah. Orang-orangku sedang mengawasinya. Sekecil apa pun pergerakannya akan segera kita ketahui."


"Bagaimana kalau dia menyuruh orang lain untuk membantunya? Kamu tahu sendiri, akibat perbuatannya itu kamu ... kamu jadi seperti ini ...."

__ADS_1


Suara Kinara perlahan melemah. Bayangan ketika mobil Alex meledak dan terguling ke tebing membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana kalau Jericho menjadi gelap mata dan melakukan hal-hal yang lebih ekstrim? Bagaimana kalau ....


"Terima kasih karena sudah mencemaskanku," kata Alex sambil mencium puncak kepala Kinara.


"Kenapa kamu tidak langsung melaporkannya pada polisi saja?" tanya Kinara. Ia bergelung dan semakin merapatkan tubuh pada suaminya.


"Masalahnya tidak semudah itu," jawab Alex, "Kalau aku menangkapnya sekarang, maka siapa pun yang menyuruhnya mencelakaiku akan bebas dengan sangat mudah. Orang-orangku belum menemukan bukti keterlibatan mereka berdua. Sejauh ini, semua bukti dan saksi mata hanya mengarah pada Jericho. Jadi untuk sekarang yang bisa kita lakukan hanya bersabar dan meningkatkan kewaspadaan."


"Kalau Jericho ditahan sekarang, bajing*n yang mengincarmu itu bisa memanfaatkan orang lain untuk mencelakakanmu lagi, ya. Itu akan semakin menyulitkan karena kamu harus menyelidiki semuanya dari awal. Benar begitu?" cetus Kinara dengan kesal.


"Gadis pintar." Alex menyusupkan tangannya ke balik baju Kinara, menyentuh gundukan lembut di dada istrinya itu dan bergumam pelan, "Kenapa ini rasanya semakin besar?"


"Alex!" Kinara melotot dan berusaha menyingkirkan tangan suaminya. "Monster mes*um!" desisnya seperti seekor ular yang siap mematuk.


Alex terkekeh geli. "Kau berani menyebutku monster mes*um?" erangnya dengan nada penuh ancaman.


Kinara waspada. Ia menekan tubuh suaminya dan mencoba untuk berguling menjauh, tetapi tangan Alex lebih cepat menahan pinggangnya. Gadis itu memekik ketika tubuh mungilnya melayang. Cengkeraman tangan Alex yang kuat menekan pinggangnya. Ketika Kinara membuka mata, ia sudah berada di atas paha pria itu.


"A-a-apa?" balas Alex sambil memasang wajah polosnya. Ia senang melihat gadis mungilnya menatapnya dengan waspada seperti sekarang ini, membuatnya semakin ingin menggoda.


Tubuh Kinara gemetar ketika menyadari Alex menatapnya tanpa berkedip. Entah mengapa, rasanya seperti pria itu sedang menelanjang*nya dengan tatapan yang membara itu. Tangan kanan Kinara terulur di depan wajah Alex. Ia menggoyangkan tangannya ke kanan dan kiri, tapi Alex bergeming, tidak berkedip sama sekali.


Dengan satu dorongan pelan, Alex menekan tubuh istrinya agar mendekat. Ia meraba wajah Kinara, menyusuri garis rahang dan berhenti di dagu gadis itu. Tanpa aba-aba, ia menarik wajah istrinya dan menji*lat tepi bibir yang sensual itu.


"Emh ...." Kinara mengerang, deru napasnya meningkat cepat. "Ah!" pekiknya ketika jemari Alex mencubit puncak bukitnya yang mengeras.


Lidah Alex menerobos masuk, menyapu setiap lekuk dan membelit lidah Kinara, mengul*umnya perlahan, membujuk agar istrinya membalas cumbuannya. Embusan napas mereka yang hangat beradu di udara.


Kinara terengah-engah. Ia ingin melepaskan diri untuk menghirup oksigen, tetapi Alex justru menekan tengkuknya lebih kuat. Gadis itu menggeliat-geliat di atas pangkuan suaminya. Bola matanya yang terpejam seketika membuka ketika merasakan sesuatu yang mengeras menekan pahanya dari bawah. Tangannya memukuli pundak suaminya pelan, memberi isyarat agar pria itu berhenti.


Alex menggeram di depan wajah istrinya. "Tenang sedikit."

__ADS_1


Kinara menggeleng dan meronta hingga cekalan Alex terlepas. "Tidak mau! Kau ingin membunuhku, ya? Aku tidak bisa bernapas!" serunya seraya melompat turun dari atas kasur.


Alex terkekeh melihat penampilan istrinya yang acak-acakan. Persis seperti seekor kelinci bermata bulat yang menggemaskan.


"Kalau aku sudah sembuh, jangan harap bisa melarikan diri seperti ini," gumam Alex sembari bersedekap.


"Apa? Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tantang Kinara. Matanya memicing ke arah Alex sambil merapikan rambut dan bajunya.


"Aku akan menekanmu ke bawah dan tidak akan melepaskanmu sampai kita berdua sama-sama puas. Aku berjanji tidak akan ada satu inchi pun bagian tubuhmu yang akan terlewat dari--"


"Diam! Diam!" desis Kinara seraya menutupi kedua telinganya, "Dasar mes*um! Menyebalkan! Malam ini aku tidur bersama Lorie!"


Alex terbahak ketika melihat istrinya berderap menerobos pintu kamar. Seringai jahil tersungging di bibirnya.


"Bersabarlah sedikit lagi, oke?" ucapnya seraya menatap sang junior yang telah siap bertarung.


Saat ini, menjaga rahasia bahwa ia telah bisa berjalan lebih penting ketimbang membiarkan urusan se*ks membuat semua rencananya berantakan. Lagipula, ia memiliki waktu seumur hidup untuk menahan istrinya di atas ranjang ketika keselamatan mereka berdua telah terjamin.


Kinara melangkah cepat menuju ruang baca, mengabaikan tatapan penuh selidik dari Lorie dan beberapa pelayan yang berpapasan dengannya. Entah mengapa, meskipun Alex mengatakan bahwa kakinya belum sembuh, Kinara merasa pria itu dapat menyerangnya kapan saja, membawanya ke atas tempat tidur dan menekannya di bawah sampai mereka sama-sama tak bertenaga lagi. Memikirkannya saja sudah membuatnya lemas.


"Oh, ya ampun, otakku ...."


Kinara memukuli kepalanya dan menutup pintu ruang baca dengan cukup keras.


"Panas ... kenapa panas sekali di sini?" gerutunya sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah.


Gadis itu berjalan mondar-mandir sambil menggigit bibir. "Kenapa aku malah membayangkannya terus seperti ini?" desahnya dengan wajah memelas.


Gambaran tubuhnya dan Alex yang telan*jang dan saling membelit, bermandi keringat ....


"Tuhan, tolong cepat sembuhkan suamiku," pinta Kinara dengan tangan terkatup.

__ADS_1


***


__ADS_2