
Meski melanjutkan pekerjaannya tanpa mengangkat wajah sama sekali, Lorie bisa merasakan pria di depannya terus menatapnya, bahkan ia seolah bisa melihat bahwa pria itu sedang mengulum senyum dan memperhatikan semua gerak-geriknya dengan saksama.
Lorie menjadi tidak fokus dan sedikit gelisah. Tulisan di lembaran kertas mendadak buram dan sulit dibaca. Ia harus mengulang mengeja kata demi kata beberapa kali baru bisa mengerti apa yang dijelaskan di sana. Tanda tangannya yang biasanya tegas dan mantap, beberapa kali menjadi sedikit bergelombang di akhir garis.
Akhirnya ia tidak tahan lagi. Sambil menggertakkan gigi dan mengenggam pena di tangannya erat-erat, ia mendongak dan bertanya, “Mengapa Anda masih di sini, Tuan Daniel?”
Daniel tersenyum semakin lebar. Seolah melihat Lorie kesal adalah hal yang menyenangkan baginya. Pria itu menopang dagu dengan tangan kanannya yang ditumpu di atas meja sehingga jaraknya semakin dekat dengan Lorie.
“Sedang menungguimu bekerja,” jawabnya dengan santai. “Lanjutkan saja, jangan pedulikan aku.”
Lorie benar-benar ingin mengayunkan pena di tangannya dan menusuk lengan pria itu. Lihat apakah tingkahnya masih semenyebalkan ini. Namun, tentu saja keinginan itu hanya ditahannya dalam hati.
“Tuan Daniel yang terhormat, Anda tahu ada banyak rahasia perusahaan di sini. Sangat tidak etis bagi Anda untuk mengawasi saya bekerja. Mohon segera keluar sebelum saya memanggil security,” ucap Lorie sambil menahan emosinya.
“Kalau begitu aku akan menutup mata.” Daniel mengambil sapu tangan dari saku jasnya, melipatnya dengan garis diagonal miring sehingga kain itu berubah bentuk menjadi segitiga, lalu mengikatkannya di kepala. Setelah selesai, pria itu kembali bersandar di kursi dan tidak melakukan gerakan apa pun.
“Bagaimana kalau seperti ini?” tanyanya, masih dengan senyum lebar di wajahnya yang menjengkelkan tapi tampan itu.
Lorie tidak tahu harus marah atau menangis. Ia memijit pelipis dan memejamkan mata, menarik napas dan mengembuskannya beberapa kali hingga detak jantungnya tidak melonjak karena emosi yang tidak stabil.
“Apa sebenarnya yang Anda inginkan, Tuan Daniel?” tanya Lorie setelah berhasil menahan dirinya.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya? Aku ingin mengajakmu makan siang. Saat itu kamu mengatakan akan makan siang denganku di lain waktu.”
“Itu hanya basa-basi. Anda tidak mengerti? Sekarang pun saya tidak ada waktu. Silakan keluar.”
“Aku akan menunggumu sampai selesai.”
__ADS_1
“Apakah Anda tidak memiliki pekerjaan di kantor?”
“Sedang cuti. Ada hal lebih penting yang harus aku urus di sini.”
“....”
Lorie kehabisan kata-kata. Ia menatap pria yang bersandar dengan nyaman di kursi itu dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mengusirnya.
Akhirnya setelah menimbang sesaat, ia membuka mulut dan bertanya, “Apakah setelah makan siang, Anda tidak akan menggangguku lagi?”
“Ya!” seru Daniel tanpa berpikir dua kali. Dengan bersemangat ia membuka ikatan sapu tangan yang menutupi matanya dan menatap Lorie dengan senyum yang sangat memikat.
“Bagus. Saya harap Anda memegang ucapan Anda ini,” ujar Lorie seraya membereskan berkas dan dokumen di atas meja.
“Jadi kamu setuju untuk makan siang denganku?”
“Tidak. Aku sangat memaksa,” jawab Daniel dengan sangat tidak tahu diri.
Lorie menatap wajah Daniel sekilas dan mendapati iris hijau zamrud itu bersinar seperti bintang fajar. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dan berdiri dari kursi.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan berkata, “Aku hanya punya waktu satu jam.”
“Itu sudah lebih dari cukup.” Daniel ikut berdiri dan mempersilakan Lorie untuk berjalan lebih dulu.
“Makanan apa yang kamu sukai? Asia, Eropa, Western, Timur Tengah?” tanyanya saat mereka berjalan bersisian di sepanjang lorong menuju lift.
“Buat saya terkesan,” tantang Lorie.
__ADS_1
“Hm. Itu cukup sulit.”
Lorie hanya mengangkat alisnya dan berdiri tenang ketika lift meluncur turun. Ia sedikit menebak, dengan penampilannya yang angkuh tapi sedikit asal-asalan itu, mungkin Daniel akan membawanya ke salah satu restoran mewah dan memesan seluruh tempat untuk membuatnya terkesan.
Ketika sampai di basemen, Daniel mengarahkan Lorie untuk masuk ke dalam sebuah mobil sedan yang terlihat sangat biasa. Mungkin harganya tidak sampai ratusan ribu dollar. Pria itu bahkan tidak membawa sopir pribadi.
Seketika penilaian Lorie terhadap Daniel berubah drastis. Ia menoleh dan terpaku saat melihat Daniel membuka jasnya dan menyampirkannya ke kursi. Gerakan sederhana itu entah bagaimana terlihat sangat menawan. Tanpa jas yang menutupi, dada Daniel terlihat benar-benar kokoh dan bidang. Kancing kemejanya yang terbuka membuat Lorie bisa melihat secuil otot dada yang padat dan liat.
Sebagai kapten dari pasukan khusus, Lorie tahu tidak mudah untuk mendapatkan body shape seperti itu, diperlukan latihan ketat dan disiplin diri selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba, Daniel menoleh ke arah Lorie dan berkata, “Pakai sabuk pengamanmu.”
“Eh?”
Daniel tersenyum simpul melihat Lorie yang hilang fokus. Ia mengulurkan tangan melewati wanita itu dan memasangkan sabuk pengaman.
“Sudah,” ujarnya seraya menghadap kemudi dan menyalakan mesin.
“Terima kasih.”
Daniel hanya tetap tersenyum dan mengemudikan mobil keluar dari basemen, sedangkan Lorie menoleh ke samping untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.
Sial. Pria ini memiliki semacam pesona yang menarik perhatian dengan rasa percaya dirinya yang melebihi batas. Tipe pria yang harus dijauhi, Lorie. Kendalikan dirimu.
***
__ADS_1