Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 117: Laporkan saja


__ADS_3

Lorie berusaha sekuat tenaga untuk menjaga tatapannya tetap ke depan meski gemerisik dan erangan tertahan dari belakang sungguh membuat pikirannya terdistraksi. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dari semua tempat, mengapa tuan Alex memilih untuk bermesraan di dalam mobil? Apakah aktivitas mereka di dalam kamar masih kurang? Mengapa harus menyiksanya lagi seperti ini?


Gadis itu mendesah pelan ketika melihat sebuah Maybach 62 mengikuti mobil yang dikendarainya dari belakang. Empat buah mobil Lincoln Navigator mengekor dengan jarak dan kecepatan yang stabil. Sedangkan dua mobil Audy A8 berada sekitar lima dan sepuluh meter di depannya. Dibanding sedan biasa yang ia kendarai ini, ia merasa seperti seekor semut yang sedang dikawal kawanan gajah.


Kenapa mereka tidak naik mobil itu saja? Kenapa harus aku ....


Lagi-lagi Lorie mendesah pelan sebelum menyetel mesin pendingin mobil ke suhu minimun untuk meredakan hawa panas yang berputar di sekitarnya. Perjalanan menuju kampus kali ini terasa lebih lama dan menyiksa.


Sementara di bangku belakang, Kinara berkali-kali melotot dan mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Namun, pria itu tetap menempel padanya seperti seekor anak kukang. Kinara benar-benar malu pada Lorie yang memasang wajah datar di kursi pengemudi. Ia tahu pengawalnya itu bisa menebak apa yang sedang terjadi di bangku belakang dan tetap berusaha bersikap biasa saja.


“Alex, hentikan ...,” desis Kinara ketika suaminya berusaha menciumnya lagi, “Ada Lorie di depan.”


“Memangnya kenapa dengan Lorie? Dia sudah pernah melihat kita berciuman sebelumnya,” balas Alex tanpa merasa bersalah sama sekali. Ia menahan pipi Kinara dan kembali menciumi wajah istrinya dengan gemas.


Kinara melotot dan mencubit pinggang suaminya dengan kesal. “Kamu sangat menjengkelkan.”


Lorie sudah hampir menangis di kursinya. Ia memang pernah melihat tuannya mencium Kinara di taman hiburan, tapi waktu itu posisi mereka berjauhan. Mana bisa disamakan dengan sekarang? Meski memiliki banyak keluhan, gadis itu hanya bisa menahannya dalam hati dan tetap menjalankan tugasnya dengan baik.


Alex mengurai rambut Kinara dan menghidu aroma vanilla yang menguar di udara. Ia mendekat ke leher istrinya dan menggosok-gosokkan dagunya di sana hingga wanita itu menggeliat karena rasa geli. Seandainya tidak harus ke kantor, ia pasti sudah mengurung wanita miliknya ini di kamar seharian. Ia benar-benar kecanduan, seberapa banyak pun ia menyentuh istrinya, ia tidak pernah merasa puas.


“Alex ....”


“Hum?” Alex tidak mengalihkan fokusnya dari rambut dan leher istrinya. “Ada apa?”


“Hentikan.”


“Tidak mau,” jawab Alex seraya mengetatkan pelukannya, “Bagaimana kalau kamu ikut denganku ke kantor saja?”


“Apa?”


“Tidak usah kuliah hari ini. Temani aku.”


“Tidak mau!”


“Kalau begitu tenanglah. Jadilah penurut seperti di kamar mandi ta–“


“Diam!” Kinara menutup mulut Alex dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sibuk memukuli bahu suaminya dengan kesal. Wajahnya sekarang sudah semerah apel california.


“Uhuk!”


Lorie tersedak dan terbatuk ketika mendengar percakapan sepasang suami istri di belakangnya. Sepertinya bukan hanya kebencian yang bisa membunuh seseorang. Nyatanya menjadi saksi keromantisan cinta yang menggebu-gebu pun bisa membuatnya terkena serangan jantung.


Namun, di atas semuanya itu, ia merasa sangat bersyukur karena tuannya menemukan pasangan yang tepat. Pria itu sungguh mengalami perubahan yang sangat besar sejak bertemu Kinara, dan Lorie merasa sangat senang. Tuan Alex layak mendapatkan kebahagiaan. Ia akan melakukan apa pun untuk memastikan pria itu selalu aman dan bahagia.


Alex terkekeh puas. Sebenarnya ia tidak hanya sedang menggoda istrinya. Ia bersungguh-sungguh ketika meminta agar Kinara ikut dengannya ke kantor, tapi ia tahu istrinya itu akan lebih mengutamakan kuliah dibanding menemaninya. Pada titik ini, ia hampir merasa kasihan pada dirinya sendiri yang harus bersaing dengan benda tak hidup. Istrinya yang cantik dan tangguh ini lebih tertarik pada mata kuliah daripada menemaninya seharian. Benar-benar menyedihkan ....


“Ehem. Tuan, Nyonya, kita sudah sampai,” ujar Lorie tanpa menoleh ke belakang. Ia sengaja berhenti agak jauh dari gerbang kampus untuk menghindari keramaian.


Alex membantu Kinara merapikan rambut dan blouse-nya yang berantakan, menyelipkan anak rambutnya yang mencuat ke belakang telinga, kemudian mengusap sudut bibirnya yang sedikit bengkak seraya tersenyum lembut.


“Sepertinya aku memang sedikit berlebihan,” ujar Alex seraya mendaratkan satu kecupan ringan di kening Kinara.

__ADS_1


Tentu saja berlebihan, gerutu Kinara dalam hati.


Ia hampir tidak bisa berjalan keluar dari kamar mandi tadi, tapi suaminya masih terlihat belum puas, terus menempel padanya seperti super glue. Namun, binar mata yang menatapnya dengan penuh cinta itu membuat rasa kesal Kinara menguap begitu saja.


“Bagus kalau kamu menyadarinya,” balas Kinara. Ia meraih wajah Alex dan mencium bibirnya sekilas kemudian berkata, “Pergilah, cari uang yang banyak.”


Alex tergelak seraya mengusap kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.


“Baiklah, sampai jumpa nanti malam, Kelinci Kecil.”


“Sampai jumpa, Monster,” balas Kinara sambil menjulurkan lidah pada suaminya.


Senyum lebar masih bertengger di wajah Alex ketika ia keluar dari mobil istrinya dan pindah ke mobilnya. Maybach 62 itu segera melesat cepat membelah jalan raya menuju kantor.


Lorie berdeham ketika melihat Kinara masih melamun di kursinya.


“Kamu tidak ingin masuk kelas?” tegurnya.


“Oh, itu ... aku pergi,” jawab Kinara sambil membuka pintu mobil dan melompat keluar. Ia terlalu malu untuk menatap wajah Lorie.


“Tunggu aku!” teriak Lorie ketika melihat Kinara melesat meninggalkannya begitu saja.


Kinara mengabaikan teriakan Lorie. Ia tetap melangkah cepat sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Sepertinya ia hanya bisa mengejar dua mata kuliah terakhir hari ini. Ia langsung bergegas menuju ruang mata kuliah Ilmu Bedah.


“Hey, Nona!”


Kinara mendongak ketika langkah kakinya tertahan oleh sosok yang tiba-tiba berhenti di depannya. Keningnya berkerut ketika melihat pemuda bermata biru yang sedang menatapnya seraya menyeringai lebar itu.


“Kamu berbicara denganku?” tanya Kinara seraya menunjuk dirinya sendiri. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati bahwa hanya ada mereka berdua di lorong menuju kelasnya.


“Ya. Aku mencarimu ke mana-mana, tapi ....”


“Apa aku mengenalmu?”


“Ya. Um, tidak ... maksudku ya, kita pernah bertemu tapi hanya bertukar nama. Aku Raymond, kalau kamu ingat ....”


Pemuda itu tampak salah tingkah. Ia mengusap bagian belakang kepalanya dengan canggung. Rasanya sedikit aneh kalau ia mengatakan bahwa dirinyalah yang menyelamatkan wanita di depannya dari kecelakaan beberapa waktu lalu.


“Raymond?” ulang Kinara. Kerutan di keningnya semakin banyak hingga kedua alisnya hampir saling bertaut. Sepertinya ia pernah melihat sepasang mata biru itu di suatu tempat, tapi di mana?


“Gerbang kampus, beberapa waktu lalu ....”


“Kita pernah bertemu?”


“Lebih tepatnya, aku menarikmu sebelum ditabrak oleh sebuah mobil–“


“Oh! Ya, Raymond. Aku ingat sekarang,” kata Kinara. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, “Senang bisa bertemu lagi denganmu.”


“Yeah, aku juga senang bisa bertemu lagi denganmu,” balas pemuda itu sambil menjabat tangan Kinara, “Tunggu sebentar,” lanjutnya seraya menurunkan tas ransel dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


“Ini milikmu. Aku menyimpannya, berharap bisa bertemu lagi dan–“

__ADS_1


“Tidak usah repot-repot, dia sudah memiliki modul yang baru,” sela Lorie dan mengambil modul yang disodorkan oleh Raymond sebelum Kinara sempat mengatakan apa pun.


“Siapa kamu?” tanya Raymond dengan raut wajah cukup terkejut.


“Pengawalnya,” sahut Lorie cepat, “Dia sudah bersuami, jadi urungkan niatmu itu.”


“Lorie!” desis Kinara. Lorie benar-benar sangat pandai membuatnya merasa serba salah.


“Maaf, dia memang sedikit over protektif. Terima kasih telah menyelamatkan modulku,” ujarnya lagi pada Raymond sambil tersenyum kikuk.


“Cepatlah. Kamu sudah terlambat,” kata Lorie tanpa mengindahkan protes dari Kinara. Ia menarik tangan majikannya itu agar segera menjauh.


“Lorie, hentikan,” ujar Kinara, berusaha melepaskan cekalan tangan Lorie, “Seingatku kamu pernah mengatakan bahwa pemuda yang menolongku di depan kampus itu bersih, tidak seperti Benji.”


“Ya, bersih bukan berarti kamu boleh berinteraksi dengannya. Kamu ingin kita berdua dipenggal oleh suamimu?”


Kinara memutar bola matanya dengan kesal. “Aku ‘kan tidak sedang mengajaknya untuk bercint*a. Hanya ucapan terima kasih, apa salahnya?”


“Salahnya kalau dia benar-benar jatuh cinta padamu, lalu mengejarmu. Kamu pikir tuan akan diam saja?”


“Oh, ya ampun ....”


Kinara tidak bisa menemukan kalimat sanggahan yang tepat untuk membalas ucapan Lorie. Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut kencang. Lorie dan Alex benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa mengikuti kami?” tanya Lorie dengan sikap waspada ketika menyadari Raymond masih berjalan di belakang mereka.


“Aku ada kelas tambahan,” balas Raymond sambil tetap menyunggingkan senyumnya yang memikat meski Lorie menunjukkan sikap bermusuhan padanya. Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan mendahului dua orang perempuan itu dan masuk ke dalam ruang dengan tulisan “Ilmu Bedah” di depan pintu.


Lorie menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa kalau pemuda itu mengambil jurusan spesialis bedah.


“Oh, aku lupa memberitahumu. Dia mengambil jurusan spesialis bedah, sebentar lagi akan selesai,” jelas Lorie ketika melihat ekspresi heran di wajah Kinara.


“Oh, pantas aku tidak pernah bertemu di kelas yang sama sebelumnya,” gumam Kinara. Jika memang study Raymond sudah hampir selesai, bisa jadi dia masuk kelas ini untuk praktikum akhir, atau mungkin juga menjadi asisten dosen.


“Jaga jarak dengannya,” ujar Lorie ketika melihat Kinara sedang termenung.


Kinara mendesah pelan sebelum berkata, “Lorie, jangan terlalu berlebihan. Aku hanya mencintai Alex. Seluruh tubuh dan jiwaku ini adalah miliknya.”


“Yeah. Aku tahu. Aku juga bisa melihat dan mendengarnya dengan sangat jelas,” kata Lorie sambil menggerakkan kedua tangannya saling berhadapan seperti orang yang sedang berciuman, “Muahhh ... muaaah ... Baby, i love you ....”


“Lorie!” seru Kinara, wajahnya memerah hingga leher dan telinga, “Aku akan mengadukanmu pada Alex!”


“Yeah, Baby ... laporkan saja aku ... lalu–“


Lorie melarikan diri sambil terbahak ketika melihat Kinara sudah bersiap untuk menyerangnya. Ia tergelak hingga suaranya bergema di sepanjang lorong.


Kinara mengepalkan tinjunya dan mengacungkannya pada pengawalnya sebelum berjalan masuk ke dalam kelasnya. Semua ini gara-gara suaminya yang penuh dengan gairah yang menggebu-gebu itu. Benar-benar menyebalkan!


***


__ADS_1


__ADS_2