Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 131: Kesempatan


__ADS_3

Tidak sampai setengah jam kemudian, helikopter yang ditumpangi Alex dan Kinara mendarat dengan selamat di halaman rumah mereka. Alex membantu istrinya untuk turun dan menggandengnya ke dalam rumah. Rasanya seperti mimpi melihat Kinara tersenyum seperti peri di sisinya.


“Pergi mandi, ganti bajumu dengan yang bersih,” ujar Alex ketika mereka tiba di depan pintu kamar, “Aku akan membuatkan sarapan,” sambungnya lagi.


“Kamu tidak mau mandi juga?” tanya Kinara dengan memasang wajah polosnya sehingga membuat Alex menggeram pelan.


“Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kamu tangani, Baby,” ancam Alex seraya menatap lurus ke manik bulat istrinya.


Kinara terkekeh-kekeh dan berlari masuk ke dalam kamar. Oh ... ya ampun, rasanya ia sangat bahagia sampai hampir meledak. Kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menatap cincin yang melingkari jari manisnya dengan sorot memuja.


“Aku akan menjagamu baik-baik,” gumamnya sebelum mengecup cincin itu pelan.


Sambil berputar dan melompat-lompat kecil, Kinara masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengisi bathtub dengan air hangat, kemudian bersiap untuk berendam. Namun, saat berjalan melewati cermin untuk mengambil sabun aroma terapi, ia terpekik melihat bayangannya yang sangat menyeramkan. Kedua matanya benar-benar merah, seakan ia telah menangis selama satu minggu tanpa henti.


“Astaga, mataku ....” Kinara menepuk-nepuk pipi dan menangkupkan kedua tangannya ke kelopak matanya yang terasa panas. “Kenapa Alex tidak bilang kalau penampilanku jelek sekali,” gerutunya.


Melihat pantulan wajahnya yang sangat jelek, ia buru-buru mengambil masker khusus untuk menghilangkan sembab dan memakainya sambil berbaring di dalam bathtub.


Apakah wajahku sejelek ini ketika Alex melamarku tadi?


“Sungguh memalukan!”


Wajah Kinara semakin memerah membayangkan seperti apa penampilannya tadi. Namun, kenyataan bahwa Alex tidak menyinggung hal itu sama sekali membuat hati Kinara terasa hangat. Awal yang baru ini, ia ingin memanfaatkannya sebaik mungkin bersama suaminya. Tidak boleh ada air mata, atau salah paham, atau orang ketiga yang mungkin akan menciptakan jarak di antara mereka.


***


Setelah membuat sepiring scamble egg dengan beberapa irisan ham dan keju, Alex menuangkan segelas jus jeruk dan menatanya di atas nampan. Ia baru saja akan membawa makanan itu ke kamar ketika ponselnya di atas meja kembali bergetar. Sebenarnya benda itu sudah bergetar sejak tadi, tetapi ia mengabaikannya. Namun, melihat dari gigihnya siapa pun itu yang sedang mencoba untuk menghubunginya, sepertinya ada masalah penting yang harus diselesaikan.


Alex mengernyit ketika melihat 12 panggilan tak terjawab dari dokter Ana, lima panggilan tak terjawab dari Lorie, dan entah berapa banyak pesan yang masuk dari nomor-nomor itu. Ia langsung menekan speed dial di angka 04. Namun, baru satu kali nada hubung terdengar, Lorie sudah muncul di ambang pintu dengan napas tersengal.


“Tuan, ada yang harus saya sampaikan,” ujar gadis itu, “Anda tidak menjawab panggilan saya, jadi saya meminta heli untuk kembali menjemput karena ini darurat,” sambungnya lagi ketika melihat ekspresi heran dari wajah tuannya.


Alex mengusap bulatan merah di layar ponselnya dan meletakkan kembali benda itu di atas meja.


“Ada apa?” tanyanya.


“Dokter Ana dan dokter James berhasil mengambil alih program dari chip di kepala tuan Billy,” lapor Lorie, “Dan perintah yang diberikan oleh pria bernama Nathan itu adalah agar membawa nyonya padanya untuk ditukar dengan Elizabeth.”


“Apa?!”


Alex menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja sehingga ponselnya hampir terlempar.


Berani-beraninya kepar*at kecil itu.


“Ya, sekarang dia mengincar nyonya karena Anda telah mem ... itu, Jessica ... Anda tahu maksud saya.”


“Ada apa dengan Jessica?” tanya Kinara dengan tatapan menyelidik, sedangkan Alex dan Lorie terkejut setengah mati karena kehadiran Kinara yang tiba-tiba.


“Ada apa, Lorie? Apa yang kalian sembunyikan dariku?” desak Kinara ketika melihat dua orang di hadapannya yang bertingkah aneh.


“Itu bukan hak saya untuk menjawabnya, Nyonya,” jawab Lorie sambil memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Sayang?” panggil Kinara pada suaminya, “Katakan, ada apa dengan Jessica?”


Jantung Kinara mulai berdebar. Ia tidak sanggup membayangkan kalau ....


“Dia sudah mati,” jawab Alex lugas, “Aku membunuhnya.”


“Apa?” Kinara terbelalak ngeri. Ia tidak menyangka Alex akan sekejam itu. Ia menatap ke arah suaminya seakan dia sedang melihat hantu.


“T-tapi kenapa?” tanya Kinara lagi setelah pulih dari rasa keterkejutannya.


“Karena dia tidak mau bekerja sama.”


Alex menghampiri Kinara dan menuntunnya untuk duduk. Tadinya ia tidak mau menceritakan hal ini pada istrinya. Namun, wanita itu sudah terlanjur mendengarnya. Kalau ia berusaha menutup-nutupi, takutnya justru istrinya itu akan salah paham lagi. Ia menyerahkan gelas berisi jus jeruk yang sudah disiapkannya tadi ke arah Kinara.


“Minumlah dulu,” pintanya.


“Tidak mau bekerja sama bagaimana?” tanya Kinara setelah meneguk hampir separuh dari isi gelas.


“Aku membawanya ke Red Room. Dia bersekongkol dengan Nathan, orang yang menginginkan kehancuranku. Semua yang terjadi beberapa hari lalu memang sudah direncanakan. Aku mengatakan bahwa akan mengampuni nyawanya kalau dia memberitahu siapa Nathan, tapi dia menolak. Jadi ... itu adalah keputusannya sendiri.”


Kinara menatap Lorie dan Alex bergantian, tidak tahu harus berkata apa. Jessica memang ular beludak, tapi ... astaga, ia tidak tahu harus merasa senang atau sedih karena wanita licik itu sudah tidak ada lagi. Dan, mengenai bagaimana wanita itu mati, ia benar-benar tidak ingin tahu. Ia sudah pernah memasuki Red Room satu kali, dan ia tahu persis kegilaan macam apa yang mungkin dilakukan Alex di sana.


“Lalu, kenapa kalian berdua begitu tegang?” Kinara menatap lekat ke arah suaminya. “Apakah Nathan ingin membalas dendam?”


“Ya. Dia menginginkanmu untuk ditukar dengan Elizabeth, tunangan Billy.”


“A-apa?”


“Tenanglah, Baby. Aku sudah mengatakan akan menjagamu, bukan?” tanya Alex seraya mengusap punggung tangan Kinara.


“Ya,” jawab Kinara tanpa merasa ragu sedikit pun, “Aku percaya pada kemampuanmu.”


“Bagus.” Alex mengangkat tangan Kinara dan mengecup jemarinya. “Kalau aku memintamu untuk menjadi umpan, apakah kamu bersedia?”


Lorie terbelalak dan menatap tuannya dengan sorot tak percaya. Ia sungguh tidak mengerti akan jalan pikiran pria itu. Sementara Kinara, ia lebih bisa menerima pertanyaan itu dengan tenang.


“Ya. Tidak masalah. Selama ada kamu, aku percaya,” kata Kinara sambil menggenggam jemari suaminya erat-erat.


Lorie bergerak dan protes. “Tuan—“


“Tenanglah, Lorie. Aku sendiri yang akan memimpin operasi kali ini. Tidak akan terjadi apa-apa pada istriku. Mungkin ini satu-satunya kesempatan kita untuk lebih dulu menyusun siasat dan menyerang.”


Lorie menelan kembali semua keluhannya dan berkata, “Baik, Tuan. Saya akan mengabari tim untuk bersiap.”


“Pergilah. Pantau lokasi dan pastikan semuanya benar-benar aman. Tetap bersikap seolah kita tidak mengetahui apa pun. Mengerti?”


“Mengerti.”


Lorie menunduk sekilas sebelum berjalan keluar. Sebenarnya, ia sangat mengkhawatirkaan Kinara, tetapi tuan Alex benar, mungkin ini satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk menyerang lebih dulu. Selama ini, mereka selalu tertinggal satu langkah di belakang musuh. Namun sekarang, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan pernah muncul lagi.


Ya. Mengambil resiko untuk menyerang lebih dulu lebih baik daripada terus bersembunyi.

__ADS_1


***


Kepulan asap menari di udara, bergelombang dan membentuk lapisan-lapisan tipis sebelum akhirnya menghilang sama sekali. Udara dalam kamar dengan warna dominan hitam itu terasa pengap, tetapi pria yang duduk di sudut ruangan tidak terlihat terganggu sama sekali. Entah sudah berapa potong cerutu yang habis terbakar dan memenuhi paru-parunya dengan asap nikotin.


Pria itu hanya terus menatap hampa ke tembok sambil menghirup dan mengembuskan kepulan asap berkali-kali. Hingga akhirnya suara ketukan dari depan pintu membawanya kembali dari lamunan tanpa ujung.


“Kakak, apakah aku boleh masuk?”


“Tunggu sebentar.”


Tanpa sadar Nathan tersenyum mendengar suara yang sangat lemah lembut dan manis itu. Ia bergegas mematikan cerutu di tangannya, lalu menyalakan mesin untuk mengisap habis semua asap yang memenuhi ruangan. Ia membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon , lalu menarik tirai yang menghalangi cahaya matahari. Setelah yakin udara telah cukup bersih, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Hai, Kimmy,” sapanya.


Wanita yang duduk di atas kursi roda itu menyambut Nathan dengan senyum lebar di wajahnya. Dilihat dari sisi mana pun, wajah mereka terlihat seperti hasil duplikat yang sangat sempurna. Bedanya adalah garis wajah sang wanita lebih lembut dan teduh, tidak segarang dan sepahit wajah Nathan.


“Apa yang membawamu ke sini, Adik Kecil?” sapa Nathan seraya menyentil ujung hidung wanita itu dengan pelan dan penuh cinta.


“Aku ingin berbicara sebentar, bisakah, Kak?”


“Tentu saja bisa, kemarilah.”


Nathan meraih pegangan kursi roda Kimmy dan mendorongnya masuk ke dalam kamar. Selama ini Kimmy tinggal di bagian rumah yang berbeda dengannya. Adiknya itu hanya akan datang mengunjunginya kalau sedang bosan atau memikirkan sesuatu.


“Katakan, apa yang kamu pikirkan?” tanya Nathan setelah mendorong kursi roda Kimmy ke balkon. Suaranya terdengar sangat sabar dan penuh perhatian, sangat jauh berbeda dengan sosok dingin dan kejam yang dikenal anak buahnya sebagai pria tanpa belas kasihan.


Kimmy menangkup kedua tangan Nathan dan menyentuhkannya ke wajahnya.


“Kakak, bisakah kita melupakan semuanya saja?” pinta gadis itu dengan mata berkaca-kaca, “Aku memiliki firasat yang tidak enak.”


Rahang Nathan mengeras. “Apa maksudmu?” tanyanya.


“Maksudku, mari hidup dengan tenang. Hanya kita berdua saja. Lupakan semua balas dendam ini ... aku takut ....”


Nathan menarik lepas tangannya dan menatap Kimmy dengan tatapan yang membara.


“Kamu tahu aku tidak akan berhenti sebelum berhasil membalas perbuatan mereka,” ujarnya dengan suara sedingin es.


“Kalau begitu, lampiaskan saja pada mereka. Jangan libatkan lagi orang yang tidak bersalah, Kak!” seru Kimmy dengan suara parau. Air mata mulai menuruni pipinya yang tirus.


“Kita sudah membahas ini berulang kali Kimmy. Aku tidak menginginkan nyawa mereka, tapi aku ingin mereka merasakan penderitaan yang sama seperti yang kita alami.”


“Kalau begitu jangan menggunakan orang yang tidak bersalah sebagai tameng lagi, Kak!” Tubuh kurus dan ringkih itu gemetaran di atas kursi rodanya.


“Aku dengar Kakak ingin menukar gadis malang yang disekap bertahun-tahun di sini dengan istri pria itu? Apakah Kakak sadar kalau mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini semua?”


“Cukup, Kimmy. Kita tidak akan membahasnya lagi!” ucap Nathan sebelum melangkah keluar dan membanting pintu dengan keras.


“Kebencian membuatmu tersesat sangat jauh, Kak ...,” lirih Kimmy sambil menatap langit, “Mom, apa yang harus kulakukan?”


***

__ADS_1


__ADS_2