Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 22


__ADS_3

“Kenapa kamu tidak menghubunginya sendiri?” tanya Lorie seraya tersenyum mengejek. “Kamu terlalu takut untuk melakukannya bukan? Kamu takut dia bisa menebak siapa kamu dan menghancurkan Drun Industry yang tidak berguna itu? Kamu memaksaku untuk menghubungi Alex tanpa memberi tahu siapa yang menculikku, kemudian saat kamu mendapatkan barang itu, kamu akan langsung membunuhku agar Alex tidak pernah tahu siapa yang melakukan ini semua. Begitu bukan?”


Rafael membeku sepesersekian detik karena semua analisa Lorie itu benar adanya. Ia tidak ingin secara terang-terangan menghubungi Alex agar pria itu sibuk menebak siapa yang menculik Wakil CEO-nya. Ada begitu banyak orang yang mengincar chip itu di luar sana, ia bahkan sudah membuat rumor bahwa pesaing bisnisnya yang melakukan sabotase. Tidak mungkin Alex Smith akan langsung mencurigainya, ‘kan?


Lorie terkekeh pelan dan kembali membuka suara, “Sepertinya tebakanku benar. Kamu ini polos atau tolol? Aku sudah memberitahu semuanya kepada Alex setelah kembali ke hotel. Kamu pikir dia masih akan mengarahkan dugaan kepada pihak lain? Tentu saja dia akan langsung menargetkanmu, Keparat. Aku yakin saat ini dia sedang mengutus orang untuk melacakmu. Berhentilah sebelum terlalu terlambat untuk menyesalinya.”


Rafael mengempaskan dagu Lorie hingga wajahnya terlempar ke samping.


“Pikirkanlah apakah kamu masih bisa hidup sampai besok, tidak usah mencampuri urusanku!” bentaknya.


“Hehe ... aku sudah memperingatkanmu, Brengsek. Jangan menyesal—“


Bugh!


“Ugh!”


Satu tendangan ke perutnya membuat Lorie meringkuk dan berhenti bernapas untuk sesaat. Ia terengah-engah dan meringis menahan nyeri di ulu hati. Namun, sekejap kemudian cibiran sinis kembali muncul di wajahnya.


“Rafael ... kamu benar-benar sudah mati,” ucapnya seraya beradu pandang dengan pria itu.



“Kita lihat siapa yang mati lebih dulu!” Rafael membalikkan tubuh dan memberi isyarat kepada pengawalnya untuk mendekat.



Pria itu memberikan instruksi yang entah apa, Lorie tidak bisa mendengarnya. Lagi pula, ia tidak peduli pria itu ingin melakukan apa. Ia benar-benar percaya akan kemampuan Alex Smith dan Billy. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah bertahan sedikit lebih lama. Alex Smith dan Billy tidak akan mengecewakannya.


__ADS_1


“Oh!”



Lorie tersentak ketika tubuhnya terangkat dengan kasar. Tulang-tulangnya yang ngilu hampir tidak dapat menahan bobot tubuhnya dengan benar sehingga hampir terjerembab ke depan, tapi seseorang menjambak rambutnya dan memaksanya untuk tetap berdiri. Tak lama kemudian ikatan pada kedua tangannya di balik punggung dilepas, lalu ditarik ke atas dan diikat lagi dengan seutas tali sebelum dikaitkan pada rantai besi.



Suara gesekan yang tajam bergema dalam ruangan ketika rantai itu dikerek ke atas, membuat tubuh Lorie kembali terangkat dan tergantung sekitar satu meter dari atas lantai. Penampilannya itu benar-benar terlihat berantakan. Tulang rusuknya terlihat jelas karena perutnya belum terisi apa pun sejak kemarin.



Saat tubuhnya masih terayun-ayun, seorang pria menghampirinya dengan alat yang menyerupai pemantik elektrik, tapi ada kabel yang terhubung dengan alat itu. Dalam sekejap Lorie langsung tahu apa yang ingin dilakukan oleh Rafael. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejujurnya, tenaganya tak lagi banyak yang tersisa. Ia tidak tahu apakah akan sanggup untuk menahan kegilaan Rafael berikutnya dan bertahan sampai matahari terbit esok hari.



“Arrrgh! Kyaaa ....!”



Rafael tertawa puas dan mendekati Lorie. Ia berkacak pinggang dan mencibir ke arah wanita itu, menikmati gurat kesakitan yang terpancar dari wajahnya.


“Harusnya kamu melihat siapa yang berkuasa sebelum menggertak. Lihat, siapa yang tergantung dan berada di ambang batas antara hidup dan mati,” ejeknya.



Lorie membuka mata perlahan dan membalas tatapan Rafael dengan cemoohan yang dalam.


__ADS_1


“Percaya tidak, saat orang-orang Alex membebaskanku, kamu tidak akan pernah memiliki masa depan. Jadi lebih baik kamu bunuh aku sekarang,” balasnya dengan keangkuhan yang tidak berkurang sama sekali.



Rafael menyunggingkan senyum miring dan menjentikkan jarinya. Dalam sekejap geraman kesakitan kembali terdengar dari mulut Lorie ketika pemantik listrik disundutkan ke perut, pinggang, punggung, kaki ... hampir tidak ada satu bagian pun yang terlewatkan.


Lagi ....


Lagi ....


Terus berulang sampai suaranya berubah serak dan hampir tak terdengar.


Luka lepuh bermunculan di bekas sundutan alat pemantik itu, beberapa titik bahkan menguarkan aroma luka bakar yang khas seperti daging gosong. Lorie memejamkan mata dan mengambil napas ketika aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya mendadak terhenti.



“Kesempatan terakhir untukmu, hubungi Alex dan minta dia untuk—“



“Persetan denganmu, Rafael.”



Ekspresi wajah Rafael terlihat sangat jelek. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan melayangkannya ke tubuh Lorie berkali-kali. Sampai akhirnya ketika melihat wanita itu menyemburkan darah segar dari mulutnya, ia baru berhenti.



Ia mengambil sapu tangan dari saku jas dan mengusap buku-buku jarinya yang memerah sambil memberi perintah, “Bunuh ja\*lang ini! Buang mayatnya ke hutan! Sama sekali tidak berguna!”

__ADS_1


***


__ADS_2