
Tara yang sudah terbiasa tidak mengetuk pintu kamar sang kakak terlebih dahulu, langsung saja nyelonong masuk begitu saja sehingga membuat wanita itu melihat adegan sang kakak dan calon kakak iparnya sedang bercocok tanam. Membuat istri Gio itu mundur beberapa langkah karena ia sangat kaget, membuat tungkai kakinya menjadi lemas. Dan ia dengan cepat berpegangan di gagang pintu, karena apa yang ia lihat ini benar-benar di luar dugaannya.
"A-apa yang ka-kalian la-lakukan?" tanya Tara terbata-bata saking shoknya wanita itu, melihat itu semua karena ia tidak menyangka Dion akan melakukan itu semua di saat acara pernikahan pasangan kekasih itu akan di adakan dua hari lagi. "Kak Tika, apa yang Kakak lakukan?" Tara bertanya sekali lagi, karena ia benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat ini, kalau rupanya sang kakak melakukan itu semua.
Tika yang mendengar pertanyaan sang adik dengan cepat mengambil handuk yang tadi ia letakkan di atas nakas, dan ia juga langsung menutupi tubuh Dion dengan selimut. Detik berikutnya Tika bergegas menghampiri sang adik.
__ADS_1
"Seharusnya, kakak yang bertanya sama kamu Tara. Apa yang kamu lakukan disini? Bisa-bisanya kamu masuk tidak mengetuk pintu dulu, dasar tidak sopan sekali," gerutu Tika yang merasa kesal dengan sang adik, karena ia ketahuan melakukan itu di saat akan menikah sebentar lagi. "Apa setelah kamu menikah dengan laki-laki miskin itu, sopan santunmu menjadi ikutab hilang. Sehingga membuatmu menjadi seperti ini? Main nyelonong-lonong saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," lanjut Tika berbicara pada Tara dengan tatapan mata yang tidak suka.
"Kakak yang apa-apaan, bisa-bisanya Kakak melakukan itu padahal Kakak dan Dion belum sah menjadi pasangan suami istri. Tapi Kakak sudah ... ah, sudahlah. Percuma aku ngomong panjang lebar, karena semuanya sudah terlambat." Tara terlihat sangat kecewa dengan sang kakak saat ini.
Tika menarik pergelangan tangan adiknya karena ia tidak mau nanti ada orang lain yang melihatnya. Sebelum gadis yang sudah tidak pe rawan itu membuka suara. "Masuk dulu, nanti ada orang lain yang melihatku dan Dion," ucap Tika yang benar-bener mengajak sang adik masuk dan dengan segera mengunci pintu itu.
__ADS_1
"Diam Tara, aku dan Dion akan menikah. Jadi, aku berhak memberikan Dion seluruh tubuhku ini. Dan kamu tidak berhak mengatakan semua itu," timpal Tika yang tidak suka mendengar kalimat sang adik. "Lebih baik kamu tutup mulutmu rapat-rapat, jadikan ini rahasia kita. Dan aku juga sudah tahu kalau kamu dan Dion sering melakukan ini di hotel."
Mendengar itu Tara hampir saja menampar sang kakak, karena ia tidak terima Tika berkata demikian. "Kak Tika yang melakukan hal yang memalukan seperti ini, tapi kenapa? Kakak malah menyalahkan aku, yang sama sekali tidak pernah di sentuh oleh Dion!" geram Tara yang tidak terima dengan tuduhan sang kakak. "Memegang rambut sampai ujung kaki-ku saja laki-laki itu tidak pernah! Tapi bisa-bisanya Kakak menuduhku yang bukan-bukan."
"Tanyakan sama Dion, gadis yang berlagak sok suci! Padahal kamu menikah dengan Gio, laki-laki miskin itu ketika kamu sudah tidak pe rawan lagi!" desis Tika.
__ADS_1
Sedangkan Dion yang takut semuanya terbongkar dengan cepat membuka suara. "Sudahlah sayang, sini kita lanjutkan lagi. Bila perlu ajak Tara supaya dua lawan satu, karena aku yakin Tara tidak puas dengan punya suaminya," kata Dion tanpa malu. "Sini sayang, ajak Tara karena aku masih kuat untuk menanam benih," lanjut Dion.
"Kau ...!" pekik Tara menunjuk wajah me sum Dion. "Kau sungguh laki-laki yang sangat menjijikkan! Cuih ...!" seru Tara yang benar-benar merasa jijik dengan Tika dan Dion. "Kalian berdua benar-benar sangat keterlaluan!"