
Butuh waktu dua minggu penuh bagi Lorie untuk memulihkan tubuhnya. Selama dua minggu itu, ia hanya berbaring di atas ranjang rumah sakit. Dokter melarangnya melakukan gerakan yang tiba-tiba dan terlalu cepat.
Beruntung ia langsung ditangani dengan baik waktu itu, kalau tidak ... kemungkinan besar ia akan kehilangan bayinya.
Amber yang merasa sangat bersalah selalu mengunjungi Lorie setelah pulang sekolah dan menemaninya sampai sore. Gadis cilik itu bersikeras untuk datang setiap hari meski Lorie telah melarangnya dan mengatakan agar dia tidak perlu merasa bersalah. Bahkan ucapan sang ayah yang biasa ditakutinya pun tidak digubrisnya. Hingga akhirnya justru para orang dewasa itu yang menyerah dan membiarkannya datang berkunjung.
“Aunty, apa kamu bosan di rumah sakit?” tanya Amber sambil menatap Lorie dengan mata bulatnya yang tampak bercahaya.
“Hum. Tapi jadi tidak terlalu membosankan karena ada kamu,” jawab Lorie.
“Benarkah?”
“Hm. Kamu adalah cahaya matahari di hatiku.”
Amber tersenyum malu-malu dan berbisik, “Apa kamu lebih senang ditemani olehku atau Paman Daniel?”
Seketika tawa Lorie berderai. Gadis kecil itu benar-benar tidak ingin tersaingi.
“Tentu saja lebih menyenangkan ditemani olehmu. Paman Daniel sangat cerewet dan menjengkelkan,” jawab Lorie setelah tawanya reda.
“Benarkah?”
Pertanyaan itu membuat Lorie dan Amber berjengit karena terkejut. Mereka menoleh ke pintu dan mendapati sosok pria yang baru saja mereka bicarakan sedang berdiri di dekat pintu sambil memberi mereka tatapan mengintimidasi.
“Coba katakan sekali lagi,” ucap Daniel seraya melangkah mendekati ranjang Lorie.
__ADS_1
“Aunty bilang Paman sangat cerewet dan menjengkelkan, dan aku setuju dengannya,” balas Amber. Gadis itu meleletkan lidahnya ke arah Daniel dengan ekspresi penuh kemenangan.
Daniel terkekeh pelan dan duduk di samping gadis itu. Ia berpura-pura ingin memasukkan kembali kotak kecil di tangannya ke dalam tas sambil berkata, “Kalau begitu hadiah ini aku berikan kepada orang lain saja.”
“Jangan!” Amber berseru dan menubruk ke arah Daniel. “Berikan kepadaku, Paman. Kamu yang paling tampan dan manis!”
Lorie menatap tak percaya kepada peri kecilnya yang berkhianat dengan mudah hanya karena sekotak cokelat.
“Kamu pengkhianat kecil ...,” gerutunya seraya memelototi Amber.
Kali ini Amber menjulurkan lidah ke arah Lorie dengan ekspresi menggoda.
“Salah siapa Paman Daniel pintar memilih cokelat yang sangat enak,” ujarnya untuk membela diri.
Ia lalu menoleh kembali ke arah Daniel dan berkata, “Paman, aku sudah puas mengobrol. Paman pasti rindu dengan Aunty, ‘kan? Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa!”
“Dasar pengkhianat cilik,” gerutu Lorie pelan, tapi nada suaranya itu jelas terdengar sangat memanjakan Amber.
Daniel tersenyum lembut dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Lorie.
“Aku rindu kamu,” ucapnya dengan penuh penghayatan.
“Aku tidak,” balas Lorie dengan santai.
Daniel mengabaikan jawaban yang sudah sering didengarnya itu. Ia mengambil buah pir di atas meja dan mengupasnya sampai bersih. Setelah selesai, ia memotongnya kecil-kecil, kemudian menyuapkannya ke mulut Lorie.
__ADS_1
Kulit wajah Lorie sedikit memerah saat Daniel menyuapinya dengan telaten. Sebenarnya ia pernah menolak untuk disuapi seperti itu, tapi Daniel mengancam akan menciumnya kalau ia tidak mau membuka mulut. Akhirnya ia hanya bisa menuruti perintahnya dengan patuh. Benar-benar seperti seorang penjajah.
“Apa kamu tidak lelah?” tanya Lorie. Ia tahu Daniel baru tiba dari bandara.
“Tidak lelah,” jawab Daniel tanpa berpikir dua kali.
Pria itu harus membagi waktu antara menemani Lorie dan mengurus pekerjaannya sehingga harus pulang pergi dari Broocklyn ke Dubai dua hari sekali. Sejak berhasil memberikan jawaban yang memuaskan kepada Alex Smith, Billy, dan Dokter Ana, Daniel diperlakukan dengan baik setiap kali berkunjung ke rumah sakit.
Daniel juga tahu bahwa Alex menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang dan identitasnya, tapi ia tidak tersinggung. Justru ia merasa senang karena Lorie memiliki sahabat yang menjaganya dengan sangat baik.
“Kenapa termenung seperti orang bodoh begitu?”
“Apa aku bodoh?” Daniel balik bertanya.
“Lumayan,” jawab Lorie. “Kalau tidak bodoh, kamu tidak akan menghabiskan waktumu untukku.”
Daniel tersenyum simpul dan membalas, “Aku pasti bodoh kalau melewatkanmu. Kamu begitu istimewa ....”
Lorie membuka dan menutup mulutnya tanpa suara. Apakah pria menjengkelkan itu sedang mencoba merayunya? Mengapa kata-katanya mendadak semanis madu?
“Kenapa? Terharu karena aku memujimu?” tanya Daniel ketika melihat mimik wajah Lorie yang berubah-ubah dengan cepat.
Terharu kepalamu.
Lorie berdecih dan mengalihkan tatapannya. Ia tidak mau melanjutkan omong kosong dengan pria itu lagi. Terserah kalau dia mau bolak-balik antar benua setiap dua hari sekali. Itu bukan urusannya sama sekali. Lagi pula, bukan dirinya yang meminta agar pria itu menemaninya.
__ADS_1
***