Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 114


__ADS_3

Itu adalah pertama kali Raymond menciumnya dalam keadaan sadar. Lorie mematung dan merasakan lidah basah yang bermain di dalam mulutnya, menari seperti cacing besar yang lembut dan menggoda, membujuknya untuk membalas ....


Otaknya menjadi kacau dan tidak bisa memberi instruksi dengan tepat: apakah harus bernapas lebih dulu atau menendang ************ Raymond Dawson dengan sangat keras.


Apa pun itu, pada akhirnya ia hanya membeku saat Raymong mengombang-ambingkannya dalam ciuman panas yang sama seperti beberapa bulan lalu, saat pria itu menindihnya di atas ranjang Hotel Amber.


Ingatan itu membuat seluruh wajah Lorie merah padam. Tubuhnya meremang dan secara tidak sadar memberi refleks atas kontak fisik yang sedang terjadi.


Suara napas yang berantakan dan erangan yang ambigu terdengar dalam ruangan.


Lorie terengah dan kehabisan napas, tapi Raymond tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri. Seluruh indra perasanya menjadi 100 kali lebih kuat, dan itu membuatnya hampir gila dan kehilangan kesadaran.


Namun, saat suara pintu yang terbuka bergema dalam ruangan, mata Lorie terbuka dan menatap melewati bahu Raymond dengan panik. Pupilnya membesar saat melihat Alex dan Billy merangsek masuk dan berdiri di depan pintu.


Ana menyusul di belakang kedua pria itu dan tertegun saat melihat Raymond dan Lorie yang saling menempel dengan pose yang ambigu. Ia berdeham dengan canggung. Dilihat dari sudut mana pun, ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang itu. Wajahnya memerah dengan tidak jelas saat mengingat insiden dengan Daniel di selasar rumah sakit tempo hari. Apakah posisi mereka juga terlihat seperti ini waktu itu? Seperti sepasang serangga di musim kaw*in yang dipenuhi feromon. Benar-benar memalukan ....


Di seberang ruangan, Lorie memukuli bahu Raymond dengan panik karena tampaknya pria itu tidak ingin berhenti. Untungnya gerakannya berhasil menarik perhatian Raymond.


Pria itu menjauhkan wajahnya dan bertanya, “Ada apa?”


“Sudah terlambat untuk menolak. Kalau ingin menampar, seharusnya kamu lakukan sejak tadi,” imbuhnya lagi seraya mengulurkan tangan untuk mengusap sudut bibir Lorie dengan sangat lembut.


Lorie hampir tersedak. Ia memelototi pria itu sejenak, lalu berjuang untuk melepaskan diri. Akan tetapi, cekalan Raymond benar-benar tidak dapat dilepaskan.


“Lepaskan aku,” desis Lorie.


Raymond menurunkan tatapannya. Wajahnya berubah suram. Ia melirik sekilas dari ujung bahu dan berkata, “Biarkan saja kalau mereka merasa tertarik untuk terus menonton.”


Sekarang Lorie hampir muntah darah. Pria yang lembut dan tampak pemalu ini, dari mana mendapatkan keberanian yang begitu besar? Atau selama ini ia yang telah salah menilai?


Billy yang sejak tadi hanya terpaku di tempat dan tidak berhasil mencerna apa yang sedang terjadi akhirnya sadar. Ia hendak melompat maju dan mengamuk, tapi alex menggeleng dan menyeretnya keluar.

__ADS_1


“Alex, kamu lihat berandalan itu—“


“Diam.”


Billy menutup mulutnya dengan tidak rela dan mendesis seperti seekor ular berbisa. Ana yang melihat respon Alex hanya bisa mengikutinya dalam diam. Jika Alex Smith saja tidak bersuara, apa haknya untuk ikut campur?


Di dalam ruangan, Lorie yang sudah berhasil memegang kendali atas tubuh dan otaknya akhirnya mendorong Raymond dengan keras sambil berseru, “Kamu sudah gila!


Raymond mendesah dan memberi tatapan tak berdaya.


"Kamu yang membuatku gila,” balasnya.


“Apa?!”


Lorie melotot dengan kesal. Amat sangat kesal. Harga dirinya dan citra yang dibangunnya selama ini runtuh begitu saja.


“Apa hubungannya kegilaanmu itu denganku?” teriaknya lagi.


“Karena kamu tidak percaya.”


“Jangan marah lagi ....” Raymond maju dan memeluk Lorie dengan hati-hati. “Karena kamu sudah setuju untuk berkencan denganku, ke depannya tidak boleh menjauhi atau bersembunyi dariku lagi ....”


Lorie mengumpat dalam hati. Pria ini, sejak kapan menjadi begitu tidak tahu malu?


“Kapan aku setuju untuk berkencan denganmu?!” serunya seraya mendorong tubuh Raymond untuk pergi dari tubuhnya.


“Bukankah kamu tidak menamparku?” jawab Raymond sambil mengangkat alisnya dan memberi tatapan menggoda.


“Itu ... aku tidak ... aku ....”


“Sudahlah. Kamu bisa memikirkan alasannya lagi nanti, tapi aku menerima alasan itu atau tidak, semuanya tergantung kepadaku. Lagi pula, bagaimanapun kamu mencari cara, kamu tetap tidak bisa melarikan diri lagi, jadi terima saja, ya?”

__ADS_1


“Raymond Dawson, aku baru tahu kalau kamu bisa sangat tidak tahu malu.”


Lorie menggeram seperti kucing kecil yang sedang marah dan menampakkan cakarnya yang imut. Cakar kecil itu seolah menggaruk hati Raymond dan membuat hatinya terasa gatal. Ia menyeringai lebar karena menyukai kucing kecilnya ini ....


“Kalau aku tahu malu, bukankah kamu akan melarikan diri lagi? Oleh karena itu, Lorie, mulai hari ini ... aku akan menjadi pria yang tidak tahu malu untukmu seorang ....”


Lorie tidak memberontak lagi. Ia mendongak dan menatap Raymond dengan sungguh-sungguh, kemudian bertanya, “Kenapa?”


“Karena kamu adalah milikku ... hanya milikku seorang ....”


Raymond menunduk dan mencubit ujung dagu Lorie, lalu menciumnya lagi dengan mesra.


Kali ini tidak ada penolakan.


Seperti angin musim semi yang membawa aroma nektar yang semerbak, ciuman itu terasa manis dan memabukkan.


Lorie melingkarkan tangannya ke pinggang Raymond dan membalas setiap pagutan dengan antusiasme yang sama. Pria yang diam-diam dicintainya selama bertahun-tahun, kini ada dalam pelukannya dan menyatakan cinta dan kepemilikannya dengan sangat posesif. Wanita mana yang bisa bertahan dari godaan itu?


Lagi pula, ia adalah wanita yang sedang jatuh cinta ... untuk selamanya akan terus jatuh cinta kepada satu-satunya pria yang memiliki hati dan tubuhnya. Seutuhnya.


***


uhuk!



Season 1 tamat di sini yak😁


tunggu S2, secepatnya 😘


Dangke banyak untuk kalian semua, mwuah!

__ADS_1



~B


__ADS_2