Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 80


__ADS_3

Sisa hari tidak dilewati dengan baik oleh Raymond. Setelah meninggalkan setumpuk pekerjaan di kantor, ia pulang lebih awal dengan tujuan untuk beristirahat. Akan tetapi, setelah tiba di rumahnya dan dilingkupi oleh keheningan yang panjang, Raymond merasa kekacauan dalam kepalanya sudah mencapai batas yang tidak dapat ditoleransi lagi.


Akhirnya ia bangun dan mencuci muka, mengganti pakaiannya dengan sebuah kaus hitam bergambar patung liberty dan sebuah jeans biru tua yang warnanya sudah sedikit pudar. Pakaian itu membuatnya terlihat jauh lebih muda dan segar. Balutan gips di tangannya justru membuat penampilan Raymond menjadi maskulin dan sedikit memberi kesan misterius, sangat berbeda dengan pembawaannya sehari-hari yang kalem dan dewasa.


Ia masuk ke mobil dan menyalakan mesin, kemudian mengemudi dengan satu tangan.Sebenarnya retak di pergelangan tangan kirinya tidak terlalu parah, tapi untuk mencegah agar ia tidak lupa dan menggunakan tangan itu untuk mengangkat benda berat, maka ia meminta kepada dokter untuk memberi gips.


Setelah mengeluarkan mobil dari garasi, Raymond tidak tahu ingin pergi ke mana. Ia menyeberangi Broocklyn Bridge dan terus mengemudi hingga hampir kehabisan bensin. Setelah mampir ke gas stasion dan mengisi bahan bakar sampai penuh, ia mengemudi kembali ke kota.


Cahaya matahari sudah meredup ketika ia kembali melintasi Broocklyn Bridge. Tidak tahu harus pergi ke mana lagi, pria itu menyusuri jalan utama yang dipenuhi oleh kendaraan yang lalu-lalang. Akan tetapi, itu pun tidak membuatnya merasa lebih baik.


“Lorie ....”


Raymond menyebut nama Lorie tanpa sadar. Ia tertegun sejenak, lalu mengembuskan napas dengan keras. Bahkan setelah mencari kesibukan di luar, nama Lorie masih menguasai benaknya dengan semena-mena.


Didorong oleh rasa frustasinya, Raymond membelokkan mobilnya dan memasuki pelataran salah satu club malam. Suara musik yang mengentak keras langsung terdengar begitu ia melewati pintu masuk. Ia tidak ingin diganggu, oleh karena itu ia meminta pelayan untuk mengantarkannya ke tempat khusus yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.


Sang pelayan mengangguk dengan sopan kemudian mengarahkan Raymond menuju ruang VIP yang berada di lantai dua. Tempat duduknya berada di dekat jendela kaca sehinga Raymond bisa melihat keramaian di lantai dansa. Anehnya, setelah berada di antara semua keramaian, ia tetap merasa hampa. Seolah ada bagian dari dirinya yang hilang dan meninggalkan lubang kosong yang menganga.


“Ingin pesan minum apa, Tuan?” tanya sang pelayan


“Bawakan wiski yang terbaik,” jawab Raymond. Rasanya ia ingin mabuk malam ini. Mungkin dengan begitu pikirannya bisa teralihkan barang sejenak.

__ADS_1


“Baik. Apakah Anda ingin pendamping?”


“Tidak perlu.”


“Baik. Tunggu sebentar.”


Setelah pelayan itu pergi, Raymond mengedarkan pandangannya. Meski masih cukup sore, lantai dansa sudah dipenuhi oleh gadis-gadis berpakaian seronok yang menari tanpa beban. Pria-pria hidung belang yang ingin mencari kesenangan pergi untuk menggoda gadis-gadis itu. Beberapa dari mereka saling tertarik dan bertukar kontak, sedangkan yang tidak cocok pergi mencari mangsa baru.


Raymond mendengkus pelan. Seandainya ia bisa melepaskan semua masalah di pundaknya dan merasa bebas seperti itu, pasti akan sangat baik.


Lamunan Raymond terputus ketika pelayan tadi kembali dengan pesanannya.


“Silakan, Tuan.” Sang pelayan meletakkan pesanan Raymond di atas meja.


“Sama-sama, Tuan,” balas sang pelayan. Ia lalu keluar sambil tersenyum lebar.


Raymond menuang minumannya ke gelas dan menenggak habis dalam satu tarikan napas. Rasa pahit dan getir menyapu mulutnya, lalu sensasi panas yang membakar melewati kerongkongannya ketika cairan itu meluncur ke lambung.


Ia mendesah pelan dan menyandarkan kepalanya ke sofa. Sambil memejamkan mata, ia menajamkan pendengaran agar fokusnya teralihkan oleh hiruk-pikuk musik yang mengentak keras. Untuk sesaat kepalanya kosong, tidak terganggu oleh pikiran-pikiran yang mengantuinya sepanjang hari.


Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Ketika ia membuka mata, rasa tidak nyaman di dalam hatinya justru semakin membesar. Fakta bahwa Lorie sudah memiliki kekasih dan sedang mengandung anak pria itu membuatnya sangat tidak nyaman. Seolah ada segumpal kapas yang menyumbat saluran pernapasannya dan membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Raymond menuang minuman lagi dan menandaskannya dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit, wiski di dalam botol sudah berkurang separuh.


“Lorie ... Lorie ... Lorie ....”


Raymond mengucapkan nama wanita yang entah sejak kapan menempati ruang khusus di dalam hatinya itu. Terus memangilnya seolah sedang merapal mantra. Semakin berat kepalanya, semakin jelas ia menyebut nama itu.


“Lorie, katakan ... apa yang terjadi kepadaku?” gumam pria itu seraya menatap nanar ke langit-langit ruangan yang digantungi lampu kristal.


“Lorie ... bisakah kamu memberiku kesempatan? Setidaknya, izinkan aku bertemu dan berbicara denganmu ....


“Lorie, aku ... rindu ....”


Raymond meracau seperti orang bodoh. Ia merasa sangat merana. Bahkan selembar foto pun tidak ia miliki untuk sekadar mengobati kerinduan dalam hatinya.


Tiba-tiba ia merasa sangat menyesal membiarkan Lorie yang menyimpan foto saat mereka berada di Venice.


***


Btw aku lg mau terbitin kumpulan cerpen. Isinya ada 13 cerita pendek dengan genre romance aliran mengsedih yang bikin baper 3 hari 3 malam😆


Kl ada yg minat, bisa chat aku ya.

__ADS_1


makasihh😘


__ADS_2