
Billy memasang wajah kasihan yang menjadi senjata pamungkasnya, membuat Alex tidak tega memarahinya.
Alex melihat jam di pergelangan tangannya, lalu berpikir sejenak sebelum menatap Billy dan berkata, “Kembalilah ke kantor untuk mengantar berkas itu. Datanglah bersama Elizabeth dan anak-anak pukul enam nanti. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan barbeque di halaman belakang.”
“Yeay!” Triplets yang lebih dulu merespon dengan berseru bersaman. Mereka bersorak dan berlari mengelilingi sang ayah dengan penuh sukacita.
“Kalau ingin ikut barbeque, sekarang kalian harus pergi tidur siang,” ucap Alex kepada ketiga anaknya.
“Oke, Daddy!” seru mereka serentak. Mereka berpamitan kepada Lorie, Dokter Ana, dan Billy, kemudian berlari ke kamar masing-masing.
“Kamu serius?” tanya Billy setelah anak-anak tidak terlihat lagi.
“Apa aku pernah bercanda?” balas Alex.
“Tidak. Tidak pernah. Kamu adalah raja kejam, raja tega yang sedingin es, tidak pernah bercanda ... selalu serius seumur hidup. Hanya ada satu orang yang bisa mengatasimu ... dia ....” Billy menutup mulutnya dengan kedua tangan sebelum lidahnya yang sembrono menyebutkan satu nama yang sakral bagi Alex.
Mata Alex sudah hampir memancarkan api. Ia menatap Billy dengan tajam sampai sahabatnya itu menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Aku sudah salah bicara, maafkan aku ...,” gumam Billy sangat pelan. Ia lalu buru-buru melangkah menuju pintu saat melihat Alex tidak menanggapi permintaan maafnya sama sekali.
“Meski kamu marah, kalian tetap harus menungguku! Jangan ada yang bergosip sebelum aku datang! Kalian dengar?” serunya sambil menarik gagang pintu. “Kalau sampai kalian—“
Bletak!
“.... Aduh!” Billy mengusap kepalanya yang terkena lemparan maut Alex Smith. “Kenapa sangat kejam kepadaku? Aku hanya—“
“Masih bicara?” Alex menatap Billy dengan ekspresi sadis.
“Aku pergi ... aku pergi sekarang ... ingat, tunggu aku!”
Loria dan Dokter Ana hanya bisa menatap dan mengulum senyum menatap interaksi kedua orang itu. Sekejam apa pun mereka, seberapa besar pun wibawa mereka di hadapan orang lain, tapi di rumah ... mereka hanya dua orang laki-laki yang kekanakan.
__ADS_1
“Aku akan mengantar Lorie ke kamar,” pamit Dokter Ana kepada Alex.
“Um. Istirahatlah.”
Setelah Lorie dan Dokter Ana berlalu dari hadapannya, Alex memanggil kepala pelayan dan memintanya untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara nanti sore. Sudah cukup lama mereka tidak berkumpul bersama.
Ah, Baby ... seandainya kamu masih ada ....
Seandainya Kinara masih ada, ia bisa membayangkan semarak dalam rumahnya ... keceriaan dan antusiasmenya yang selalu menulari semua orang. Pasti istrinya itu yang bersikeras untuk menyiapkan semuanya sendiri, tidak mengizinkan para pelayan untuk membantu. Mungkin hanya triplets yang bisa mengganggunya, memaksanya untuk membiarkan mereka mengambilkan apa yang dia perlukan atau ikut membumbui daging yang sedang dipanggang. Di halaman belakang, suara tawa dan kebahagiaan yang berbaur menjadi satu ....
Alex menahan napas dan hanyut dalam lamunannya. Akan tetapi, saat ia tanpa sengaja berkedip, semua gambaran itu menghilang seperti embun yang menguap terkena sinar matahari, tak meninggalkan bekas sedikit pun. Pria itu menghela napas panjang dan mengusap wajahnya beberapa kali sebelum berjalan ke kamar utama, kamar tempat ia menyimpan segala kenangan tentang istrinya.
Di kamar yang berbeda, Dokter Ana duduk di samping Lorie yang sedang berbaring di atas kasur. Ia menatap wajah Lorie yang masih pias. Sejujurnya, ia sangat mengkhawatirkan kondisi sahabatnya itu. Jantungnya mendadak terasa seperti diremas setiap kali gambaran kondisi Kinara saat mengandung triplets berkelebat di benaknya. Apa yang dihadapi Lorie sekarang kurang lebih sama dengan Kinara saat itu. Yang membedakannya adalah fisik Lorie sudah ditempa sedemikian rupa sejak remaja sehingga lebih kuat. Namun, seberapa kuat pun seorang wanita, tetap saja ....
“Aku belum memutuskannya.”
Jawaban Lorie pun tetap sama, tidak berubah meski wanita di sampingnya terus menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.
Saat mendengar Dokter Ana menarik napas dalam-dalam dan sengaja mengembuskannya dengan keras untuk yang ke sekian kalinya, Lorie tidak tahan lagi.
Ia membuka mata dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat sambil berkata, “Aku tahu kamu khawatir, Ana. Tapi kamu dengar sendiri kata dokter kandungan tadi, aku harus kembali untuk memastikannya di minggu ke sepuluh. Kalau aku mengatakannya sekarang, lalu kenyataannya bayi ini harus digugurkan karena kondisi medis, menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Tuan Alex dan Billy? Rafael sudah mati, hal itu secara otomatis menjadikan Raymond sebagai target kekesalan mereka. Kamu ingin itu terjadi?”
“Oh, sejujurnya aku tidak peduli dengan pria bernama Raymond itu. Mungkin satu atau dua tulang rusuk yang patah akan membuatnya lebih bisa menjaga birahi\*nya lain kali,” balas Dokter Ana seraya memutar bola matanya karena kesal. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Lorie, tapi wanita itu malah memikirkan orang lain. Benar-benar menjengkelkan!
__ADS_1
Tunggu.
Dokter Ana memicing, menatap Lorie dengan intens hingga wanita itu mulai salah tingkah.
“Kamu menyukai Raymond Dawson?” tanyanya sambil mengacungkan telunjuk ke arah Lorie.
“Cukup. Tidak perlu dijawab,” selanya saat melihat Lorie hendak membuka mulut. “Dari ekspresi wajahmu saja aku sudah tahu jawabannya. Astaga, Lorie ... kamu tidak tertolong lagi ....”
“Jangan beritahu Tuan Alex ... terlebih Billy, mulutnya itu seperti senapan angin,” bisik Lorie setengah memohon.
“Sejak kapan?”
“Itu ... cerita yang panjang ....”
***
__ADS_1