Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 126: Kembali ke Minnesota


__ADS_3

Alex berdiri di depan pintu kamarnya, ragu-ragu memutuskan untuk masuk atau tidur di ruang tamu. Ia ingin memberi ruang bagi Kinara untuk menenangkan dirii, tapi ia juga sangat mengkhawatirkan istrinya itu. Berkali-kali tangannya terulur untuk membuka pintu, tapi akhirnya ia urungkan.


“Apakah nyonya keluar kamar?” tanyanya pada pengawal yang paling dekat dengannya.


“Tidak, Tuan,” jawab pria itu, “Tidak ada yang keluar atau masuk.”


Akhirnya Alex memutuskan untuk memeriksa keadaan istrinya sebelum pindah ke ruang tamu. Ia mendorong pintu kamar dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengganggu istrinya yang mungkin sudah tidur. Keadaan dalam kamar itu masih seperti tadi, hanya saja ... Kinara tidak ada di atas sofa.


“Baby,” panggil Alex pelan. Ia berjalan menuju kamar mandi dan memeriksa bilik itu.


Kosong.


“Sayang?” serunya sambil berjalan menuju walk in closet.


Tidak ada jawaban.


Tiba-tiba hawa dingin membuat tubuh Alex menggigil ketika melihat dress yang tadi dipakai Kinara tergeletak di lantai, sedangkan laci sepatu masih setengah terbuka. Pria itu langsung menghambur ke jendela untuk memeriksa balkon. Ia meraung sekuat tenaga ketika melihat selimut yang terikat dan menjuntai ke bawah.


Para pengawal segera berlarian ke dalam begitu mendengar lolongan penuh kemarahan itu. Mereka tertegun dan terpaku di tempat ketika mengetahui sang nyonya telah menghilang.


“M-maaf, Tuan ...,” ujar salah seorang pengawal yang berjaga di depan kamar dengan suara sedikit gemetar.


Alex ingin meremukkan para pengawal itu, tapi ia tahu mereka tidak sepenuhnya bersalah. Semua pokok persoalan ini bermula dari dirinya. Kinara pergi diam-diam karena ingin menghindar darinya. Jika ada orang yang harus disalahkan atas peristiwa ini, orang itu adalah dirinya sendiri. Alex menyugar rambutnya dengan kasar dan merasa putus asa.


Ia kembali masuk ke dalam kamar dan memberi perintah, “Periksa semua CCTV, sisanya telusuri jalan di sepanjang bukit dan hutan pinus!”


"Baik, Tuan."


Para pengawal segera berpencar dan melakukan tugas mereka masing-masing. Saat ini berasa sejauh mungkin dari tuan mereka akan semakin aman. Tidak ada yang ingin menjadi sasaran kemarahan pria itu.


Alex terpekur di atas ranjang. Beragam pertanyaan berputar dan membuat kepalanya hampir pecah.


Bagaimana kalau Kinara tidak mau menemuinya lagi? Bagaimana kalau istrinya itu meminta berpisah? Apa yang harus ia lakukan?


“Tuan,” panggil Lorie pelan dari depan pintu. Ia memiliki sebuah gagasan, tapi takut akan mengecewakan Alex kalau ternyata dugaannya salah. Namun, jika ia tidak mengutarakannya, hal itu akan menjadi ganjalan di hatinya sepanjang waktu.


“Tuan Muda,” ulang Lorie ketika melihat Alex seperti kehilangan kewarasannya.

__ADS_1


Alex mendongak dan menatap Lorie dengan mata nyalang. “Menurutmu, dia tidak akan kembali lagi, bukan?”


Lorie menggeleng. “Saya yakin nyonya bukan tipe seperti itu. Mungkin dia hanya merasa tidak nyaman berada di sini, atau ingin menenangkan diri.”


Gadis itu meresa terenyuh melihat sikap tuannya. Pria itu seperti banteng yang terluka tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.


“Um, Tuan ... sebenarnya, tadi kita berpapasan dengan sebuah mobil sport di tanjakan terakhir. Sepertinya itu adalah mobil milik tamu yang pulang dari sini.”


Perkataan Lorie menarik minat Alex. Ia mendongak dan menatap ke arah pengawalnya itu dengan sorot meminta penjelasan.


“Izinkan saya untuk memeriksa kamera depan mobil Anda. Seharusnya nomor polisi mobil itu terekam dengan cukup jelas. Kita bisa memeriksanya, hanya untuk berjaga-jaga kalau ....”


“Pergilah, lakukan apa pun yang kamu inginkan,” ujar Alex seraya melambaikan tangannya dengan lemah. Pada titik ini, ia merasa seperti kehilangan semangat hidup.


“Baik, Tuan,” jawab Lorie kemudian berjalan kembali ke bawah. Kalau dugaannya benar, maka kali ini ia merasa perlu diberi medali penghargaan karena berhasil mencegah terjadinya perang dunia ketiga.


Gadis itu berlari ke mobil, lalu memeriksa rekaman dari kamera depan.


“Ketemu!” serunya ketika melihat sebuah Posrche merah berpapasan dengan mobil tuannya di tengah jalan tadi.


“Raymond?” gumam Lorie ketika sekilas wajah Raymond yang tidak terlalu jelas terekam dalam kamera.


Cari siapa pemilik mobil ini. Kirimkan padaku segera.


Lorie menelan ludah dengan susah payah. Jika pemuda itu memang benar Raymond, apakah Alex akan mengamuk dan lepas kendali? Atau ... entahlah ... ini semua sungguh melelahkan.


***


Kinara menatap jalan setapak yang memanjang di jalur menuju rumah kabin milik keluarga Raymond dengan tatapan takjub. Meski sudah malam, pemandangan di luar benar-benar indah. Pos penjagaan yang dibangun setiap satu kilometer membuatnya merasa bahwa tempat ini cukup aman.


“Orang tuamu tidak akan keberatan?” tanya Kinara ketika bangunan kayu yang sederhana dan berkilau di bawah cahaya bulan tampak dari kejauhan.


Raymond menggeleng. “Mereka jarang ke sini,” jawabnya, “Aku yang lebih sering menghabiskan waktu di sini. Lebih tenang ... kau tahu? Aku tidak menyukai keributan ....”


“Aku mengerti,” ujar Kinara seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Ada dua bagian rumah, yang di depan ini adalah bangunan utama yang bisa kamu tempati. Aku akan menempati ruangan belakang. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman, aku akan menurunkanmu dan kembali ke kota.”

__ADS_1


“Tidak. Tidak apa-apa,” ujar Kinara, “Kamu tidak perlu kembali ke kota. Ini sudah hampir tengah malam. Aku yakin kamu tidak akan macam-macam. Kalau pun iya, aku akan membuatmu menyesalinya.”


Raymond tergelak. “Kamu memang sangat unik. Pantas saja Mr.Smith tertarik padamu,” ujarnya sambil tersenyum lebar.


“Oh, maaf ...,” lanjut pemuda itu lagi ketika melihat raut wajah Kinara tiba-tiba berubah.


“Tidak masalah. Jangan meminta maaf,” balas Kinara sambil tersenyum getir.


Raymond berhenti tepat di depan pintu masuk, lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Kinara.


“Silakan masuk,” ujarnya dengan sopan.


“Terima kasih.”


Kinara mengikuti langkah kaki pemuda itu ke dalam. Ia menegur beberapa pelayan menyambutnya di depan pintu, juga pada para pengawal yang berjaga di sekitar situ.


Ketika akhirnya memasuki ruang depan, Kinara hampir tercengang melihat perabotan dan interior ruangan itu. Semuanya sangat jauh berbeda dengan penampilan bangunan dari luar yang terlihat sangat biasa saja. Bisa dikatakan, semua benda dalam ruangan itu tak kalah berharganya dengan benda-benda yang berada di The Spring Mountains. Namun, ia hanya menahan semua itu dalam hati. Rasanya tidak pantas kalau langsung menanyakannya pada tuan rumah.


“Ini kamarmu,” ujar Raymond seraya menunjuk sebuah pintu kayu yang berukir seekor naga raksasa, “Kamu bisa menekan bel untuk memanggil pelayan kalau membutuhkan sesuatu. Aku akan berada di belakang kalau ... kamu tahu, memerlukan teman untuk bercerita ....”


Kinara tersenyum tulus dan menepuk bahu Raymond.


“Terima kasih banyak. Aku akan membalas semuanya—“


“Istirahatlah, tidak perlu memikirkan hal lain.”


Raymond berjala ke belakang, tetapi langkahnya tertahan tiba-tiba.


“Oh, aku akan membawakan beberapa potong pakaian ganti untukmu besok. Kalau kamu tidak keberatan ....”


“Terima kasih.” Kinara mengangguk lagi. Ia memang memerlukan beberapa pakaian ganti.


Raymond mengangkat tangan kanannya dan melanjutkan langkahnya ke belakang. Setelah sampai di kamarnya, pemuda itu memegang dada bagian kirinya yang berdegup tak beraturan dan berguling di atas kasur.


“Oh, Buddy ... apakah aku sudah gila? Aku mencintai istri orang,” gumamnya sambil menelungkup dan memukul-mukul kasurnya dengan gemas.


Sejak pertemuan pertama mereka, Raymond langsung jatuh hati pada Kinara. Ketika mengetahui bahwa wanita itu susah menikah, rasanya ia benar-benar patah hati. Namun sekarang ....

__ADS_1


Tidak ada salahnya untuk berharap, bukan? Mereka sedang bertengkar ....


***


__ADS_2