Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 46


__ADS_3

“Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu,” ujar Dokter Ana. Ia mengambil kursi dan menariknya mendekati ranjang, lalu duduk dengan sikap seolah hendak mendengarkan kisah pengantar tidur.


“Bukankah aku harus beristirahat?” Lorie mencoba mengelak.


Ia berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, berharap Dokter Ana segera meninggalkannya dan tidak mengorek informasi mengenai Raymond Dawson lagi. Ia berbaring tenang dan menunggu hingga suara pintu yang tertutup terdengar, lalu membuka sedikit celah untuk mengintip.


Sepasang mata bulat yang sedang menatapnya dengan penuh minat membuat Lorie hampir berteriak karena terkejut.


“Apa yang kamu lakukan dengan melotot seperti itu?” serunya seraya mengusap dadanya yang berdegup kencang.


“Mengawasimu tidur,” jawab Dokter Ana seraya bersedekap dan menaikkan alisnya. “Tapi sepertinya kamu tidak terlalu lelah.”


Lorie mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Dokter Ana, tapi wanita itu berkelit dengan mudah dan mengembalikan bantal ke tempat semula.


“Kamu sangat menjengkelkan,” gerutu Lorie kesal.


“Oh, aku yakin Billy bisa lebih menjengkelkan.”


Lorie menghela napas dan memijit pelipisnya. Ia bangun dan bersandar di kepala dipan, mencari posisi yang nyaman sebelum menjalani sesi tanya jawab bersama wanita keras kepala di hadapannya.


“Bagaimana kalian bertemu?” tanya Dokter Ana. Ia benar-benar merasa penasaran.


Tujuh tahun mengenal Lorie, tidak sekali pun wanita itu terlihat dekat atau menjalin hubungan dengan seseorang. Dia juga tidak pernah menceritakan sedang dekat dengan siapa, atau apakah sedang menyimpan rasa untuk lawan jenisnya. Lalu, tiba-tiba sekarang perasaannya terhadap Raymond Dawson terekspos secara tidak sengaja. Tentu saja ia sangat penasaran.


“Ini dimulai tujuh tahun lalu.” Lorie mulai bercerita.

__ADS_1


“Tujuh tahun lalu?”


“Ya. Saat itu kita belum terlalu dekat. Kamu sibuk mengobati Tuan Alex dan aku sibuk menjaga Kinara ....”


“Oh.”


“Dia adalah kakak senior Kinara. Tahun itu, dia menyelamatkan Kinara dari kecelakaan yang entah ke berapa kalinya. Awalnya aku mengira dia sama seperti Benji, salah satu orang suruhan Jericho, tapi rupanya dia adalah putra walikota. Lalu saat Tuan Alex bertengkar dengan Kinara, dia menampung Kinara di pondok tepi danau.”


Tatapan Lorie menerawang, seolah sedang menjelajah waktu ... kembali ke masa lalu yang seolah baru terjadi kemarin sore.


“Dia sangat imut, kamu tahu?” imbuhnya seraya menatap Dokter Ana yang hanya merespon dengan menutup wajahnya dan menggeleng pelan.


Lorie terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu dan melanjutkan, “Dia tidak memanfaatkan situasi untuk memisahkan Kinara dan Tuan Alex. Padahal kalau mau, dia bisa saja menggunakan trik licik yang bisa membuat mereka berpisah. Selama menemani Tuan Alex mengawasi mereka berdua dari jauh, aku bisa melihat ketulusan dan kejujuran dalam dirinya. Dia menyukai Kinara dengan perasaan yang murni, tidak mencoba menggodanya atau menyelinap ke dalam kamarnya diam-diam. Itu sikap gentle jarang dimiliki oleh seorang laki-laki.”


“Lalu kamu jatuh cinta kepadanya?”


“Oh, astaga ... aku kira kamu tidak pernah memikirkan untuk menikah.”


“Hey, aku ini tetap seorang perempuan yang menginginkan seorang suami untuk bersandar dan anak-anak yang manis untuk menemaniku. Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?” Lorie pura-pura melotot dan memarahi sahabatnya.


Dokter Ana mengangkat kedua tangannya ke udara dan menjawab, “Tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, aku sendiri tidak pernah ... atau lebih tepatnya tidak akan membiarkan diriku jatuh cinta kepada pria mana pun. Cinta itu konsep yang absurd, kau tahu? Hanya stimulus dari hormon yang memberi ilusi kepada otak sehingga kamu ‘merasa’ sedang jatuh cinta, padahal itu hanya bentuk pelegalan agar nuranimu bisa menerima ketika kamu telanjangg dan menyatu dengan pasangan yang ‘kamu cintai’ itu untuk menghasilkan keturunan ....”


“Tapi—“


“Oh, untuk memenuhi kebutuhan biologis juga tentu saja, tapi itu adalah kasus yang berbeda. Seseorang bisa saja melakukan sekss dengan orang lain tanpa ‘cinta’, dan aku termasuk kategori itu. Lagi pula, aku lebih suka 'bercintaa’ dengan komputer atau senjata biokimia dibanding harus menyerahkan sisa hidupku untuk melayani orang asing hanya karena pengaruh hormon yang membuat otakku menjadi kacau.”

__ADS_1


“Hey, kenapa kamu membuat penjabaran tentang cinta terdengar sedikit menjijikkan?” protes Lorie.


“Itu realistis, Sweetheart. Memangnya kamu mau bertukar cairan tubuh dengan seseorang yang ‘tidak kamu cintai’? Kamu mau melahirkan anak untuknya tanpa adanya ikatan emosional apa pun?”


Lorie terdiam dan berpikir cukup lama. Sejujurnya, penjelasan tidak masuk akal Ana mengenai cinta terdengar cukup masuk akal. Buktinya, meskipun ia mengakui bahwa ia tertarik kepada Raymond, ia tetap tidak bisa menerima ketika pria itu menidurinya dalam keadaan mabuk. Ia menginginkan adanya ikatan emosi, bukan hanya sekadar penyatuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan biologis.


“Um ... kamu benar ... itu cukup logis. Jadi menurutmu, aku tidak perlu jatuh cinta kepadanya?”


“Itu terserah kamu. Kalau menurutmu dia sangat imut dan ingin menidurinya, silakan saja. Itu bukan urusanku.”


“Lalu mengapa kamu meracuni pikiranku dengan idealisme yang absurd itu?”


Dokter Ana tertawa dan bangun dari tempat duduknya.


“Tidurlah. Alex akan memarahiku kalau tahu aku sedang berdebat denganmu, alih-alih merawatmu dengan baik,” ujarnya seraya berjalan menjauh.


“Hey! Kembali!”


“Sampai jumpa nanti sore, Lorie.”


“Dasar tidak bertanggung jawab!” gerutu Lorie setelah Dokter Ana menghilang di balik pintu.


Ia menarik selimut dan berbaring dengan mata terbuka lebar.


Haruskah ia menghentikan pengaruh hormon sialan itu agar tidak membuat otaknya semakin kacau dan terus menerus memikirkan Raymond Dawson?

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa,love you all ❤


__ADS_2