Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 129: Pulanglah Bersamaku


__ADS_3

Alex berdiri di antara rimbun pepohonan, mengikuti diam-diam ketika Kinara kembali melangkahkan kaki menyusuri tepian danau. Sudah hampir empat hari ia membuntuti istrinya seperti orang gila, mengawasi dari kejauhan ketika wanita itu kembali ke rumah kabin, menahan emosi ketika melihatnya tertawa bersama Raymond. Ia hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Meski terlihat menyedihkan, ia menerima semua itu sebagai hukuman atas perbuatannya yang secara tidak sengaja telah menyakiti istrinya.


Langkah kaki Alex terhenti ketika melihat Kinara berhenti di tempat yang sama seperti kemarin. Istrinya itu hanya termenung, menatap permukaan air yang tenang, kemudian berjongkok dan mulai menangis ... sama seperti kemarin ....


Tiba-tiba sebuah kesadaran menghantam kepala Alex. Ia menurunkan teropongnya dan melihat ke sekitar. Dengan sangat pelan, Alex mengangkat kembali teropongnya dan melihat ke arah utara.


Ia menelan ludah dengan susah payah ketika menyadari bahwa dugaannya benar. Rumah singgah keluarga Smith ada di atas sana. Ia sangat hafal atap berwarna merah bata itu. Jadi, di sinikah dulu Kinara menyelematkan nyawanya?


Tatapan Kinara menerawang jauh, seolah jiwanya tersesat pada suatu waktu dari masa lampau. Bayangan bocah laki-laki yang berjalan sendirian di tengah hutan kembali berkelebat. Bagaimana langkah kakinya yang ringan tanpa kesan ragu-ragu terpatri jelas dalam ingatannya. Saat itu, ia mengikuti bocah laki-laki itu seperti seekor anak kelinci.


Tanpa sadar bibir Kinara menyunggingkan senyum tipis. Bagaimana bisa ia tergila-gila pada seseorang di saat umurnya masih sangat kecil. Cinta monyet yang bertahan selama belasan tahun. Memang terdengar klise, tapi ia benar-benar merasakannya.


"Kalau waktu itu aku tidak membiarkan Jessica mengaku bahwa dia yang menyelamatkanmu, apakah semuanya akan tetap berakhir seperti ini, Alex?" bisik Kinara lirih, hampir menyerupai desau angin di musim gugur.


Ia tahu masa lalu tidak bisa diubah, waktu tidak bisa diputar kembali. Namun, terkadang ia berandai-andai, jika bisa memperbaiki semuanya ....


Kinara mendengkus dan tertawa pelan meski air mata mulai membanjiri wajahnya.


"Dasar bodoh, kamu hanya gadis kecil yang kumal dan miskin waktu itu. Kamu pikir kamu akan diperlakukan seperti seorang putri?" gumam Kinara sambil memukul-mukul kepalanya pelan.


Ia sadar, meski bisa kembali ke masa lalu, akhirnya akan sama saja. Malah mungkin ia akan hancur sejak awal. Ya. Semuanya bisa lebih buruk dari sekarang.


Sekarang, Alex hanya mencintaimu, itu yang paling penting bukan? Dia meniduri Jessica karena pengaruh obat, lalu kenapa? Kamu sendiri hampir diperkosa oleh Jericho. Perbedaannya adalah kamu tidak dibius sehingga bisa melawan, tapi Alex ... dia pasti merasa sangat tersiksa juga, sama seperti dirimu, Nara.


Melihat Kinara menangis sambil berbicara sendiri membuat Alex tidak tahan lagi. Seharusnya waktu selama hampir empat hari ini sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah keputusan. Ia pun sudah mempersiapkan diri. Jika memang Kinara ingin berpisah, tidak masalah, ia akan mengabulkannya jika itu adalah keputusan istri mungilnya itu.


Ya. Jika Kinara menginginkan perpisahan, ia akan mengabulkannya untuk sementara waktu. Bukankah ia masih bisa mengejar dan menangkap kelinci kecilnya kembali? Ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan hati istrinya lagi.

__ADS_1


Alex berjalan dengan sangat hati-hati dan berhenti di belakang Kinara. Ia membuka jasnya, lalu maju pelan-pelan dan memakaikannya ke pundak istrinya.


"Kenapa ceroboh sekali. Ini masih terlalu pagi, udara dingin bisa membuatmu sakit."


Kinara terkesiap dan melompat bangun. Ia pikir sedang berhalusinasi mendengar suara suaminya. Namun, saat menoleh dan mendapati pria itu sedang menatapnya dengan sorot penuh kerinduan, air mata yang mengalir di pipinya semakin menderas.


"Hey, jangan menangis, Baby ...."


Alex mengulurkan tangan untuk mengusap air mata Kinara. Ia sangat ingin memeluk tubuh mungil itu, tapi ia takut Kinara akan menolak.


"Jadi ... di sinikah kamu menolongku untuk yang pertama kali?" tanya Alex dengan suara serak.


Kinara mengangguk, kemudian menggeleng, kemudian mengangguk lagi dengan cepat.


"Ya. Di sini ... di sini," jawabnya.


Alex menatap Kinara dengan sorot yang tak terbaca. Ukuran tubuh istrinya tergolong kecil. Sedangkan dirinya, untuk anak laki-laki berusia sepuluh tahun, ia ingat dirinya cukup tinggi dan besar. Ia tidak bisa membayangkan upaya yang dilakukan oleh Kinara kecil ketika menariknya keluar dari danau. Dan, otaknya yang payah masih tetap tidak bisa mengingat semua itu. Benar-benar membuatnya kesal.


Ia berdeham untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering dan perih, seakan ada segerombolan kaktus yang menancap di sana.


"Baby, maafkan aku karena tidak dapat mengingatnya. Tapi aku percaya padamu. Terima kasih, Sayang. Aku berutang banyak padamu. Aku—"


"Tidak. Sudah kukatakan, tidak apa-apa kalau kamu tidak ingat," sela Kinara sambil menggelengkan kepalanya, "Bagaimana ... bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanyanya.


"Lorie yang menemukanmu. Aku hanya ... um, bolehkah aku memelukmu?"


Kedua tangan Alex terbuka lebar. Ia sungguh tidak tahan lagi. Melihat Kinara terus menangis seperti itu membuat hatinya terasa sakit.

__ADS_1


Kinara mengangguk dan menghambur ke pelukan suaminya. Ia melingkarkan kedua tangannya dan memeluk punggung Alex erat-erat. Hatinya terasa sakit ketika menyadari bobot tubuh suaminya sedikit menyusut.


“Maaf, seharusnya aku tidak membuatmu cemas,” ujar Kinara di sela isak tangisnya.


Ia tahu Alex pasti sangat mengkhawatirkan dirinya. Berpisah selama hampir empat hari membuatnya menyadari bahwa ia tetap mencintai pria dalam pelukannya ini sebesar rasa cintanya yang semula. Tidak ada yang berubah sama sekali.


Alex menciumi puncak kepala Kinara berkali-kali. “Aku yang seharusnya minta maaf, Sayang. Aku menyakitimu hampir setiap waktu. Aku benar-benar tidak berguna. Tidak bisa menjagamu dengan baik, tidak bisa menjaga hatimu ... maafkan aku, Baby ....”


“Aku sudah memaafkanmu,” jawab Kinara.


Ia mendongak dan menatap suaminya dengan penuh kesungguhan.


“Alex,” panggilnya lirih, “Aku sudah memikirkannya. Kalau ... kalau Jessica ternyata hamil karena kejadian kemarin, mari besarkan anak itu bersama. Aku tidak keberatan. Biar bagaimana pun, dia adalah anak milikmu, walaupun ... walau—“


Alex merangkum wajah Kinara dan menciumi bibirnya dengan sepenuh hati. Ia mencecap rasa lembut dan manis yang bercampur dengan asin air mata. Ia memeluk tubuh Kinara erat-erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


Tangis Kinara semakin kencang. Ia melingkarkan tangan di leher Alex dan membiarkan pria itu menghapus semua rasa sakit dan kerinduan yang ditahannya selama ini, membiarkan pria itu menciuminya sampai paru-parunya hampir kehabisan oksigen.


"Baby," ujar Alex dengan napas terengah. Wajahnya basah dan sembab. Ia menatap Kinara yang mendongak dan menatapnya dengan sorot penuh cinta.


Ia menunduk dan mencium bibir istrinya satu kali lagi sebelum akhirnya berkata, "Jika ada bayi yang harus kita besarkan bersama, maka itu adalah bayi kita ... bayi yang dilahirkan olehmu, tidak dari wanita mana pun."


Tangis Kinara kembali pecah. Ia memeluk Alex sekuat tenaga hingga rasanya tubuh mereka hampir menyatu. Ketulusan dalam suara Alex membuatnya melupakan semua rasa sakit yang ditanggungnya selama ini.


Apa lagi yang kau harapkan, Nara? Ini semua sudah lebih dari cukup, bukan?


"Shhh ... jangan menangis lagi," ujar Alex seraya mengusap air mata Kinara dengan lembut, "Pulanglah bersamaku."

__ADS_1


***


__ADS_2