Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 7


__ADS_3

Saat taksi berhenti di depan lobi utama Hotel Amber, Raymond segera turun dan membukakan pintu untuk Lorie. Pria itu kemudian membayar biaya taksi dan mengucapkan terima kasih kepada pengemudinya.


Meski sudah cukup larut, tapi tamu hotel masih lalu-lalang di depan lobi dan bagian dalam hotel. Beberapa berjalan sendiri, sebagian lainnya bercengkerama bersama kerabat dan pasangan mereka. Satpam menyambut dengan sopan ketika Lorie dan Raymond melangkah masuk melewati alat pemindai.



“Kamarmu di lantai berapa?” tanya Raymond saat mereka berdua sedang berdiri menunggu lift.



“Dua belas.”



Raymond tertegun dan menatap Lorie dengan ekspresi curiga yang sedikit dibuat-buat.



“Kamu tidak sedang membuntutiku, ‘kan?” tanyanya sambil menyipitkan mata.



Kening Lorie mengernyit. “Apa maksudmu?” tanyanya. Ia sedikit kehilangan fokus sejak tadi sehingga tidak mengerti mengapa tiba-tiba pria di sampingnya bertanya seperti itu.



“Kamar nomor berapa?” tanya Raymond lagi tanpa menjawab pertanyaan Lorie lebih dulu.



Lorie tetap menjawab meski masih sedikit bingung dan heran dengan tingkah Raymond.



“120.”



“Astaga. Ini benar-benar kebetulan yang aneh,” gumam Raymond sambil menggeleng pelan.



“Ada apa?”



Pertanyaan Lorie terjeda karena pintu lift terbuka di hadapan mereka. Setelah menunggu hingga penumpang lift keluar, Lorie dan Raymond baru melangkah masuk ke dalam kotak kaca itu. Ada tiga orang yang masuk bersama mereka ke dalam lift. Lorie memilih untuk berdiri di sudut belakang, sedangkan Raymond berdiri di depannya, di dekat panel yang menampilkan angka-angka yang berderet rapi. Raymond menekan angka 12 sebelum menoleh ke arah Lorie.

__ADS_1



“Ada apa?” tanya Lorie tanpa suara.



Raymond hanya tersenyum misterius dan mengedipkan matanya. Untuk sesaat Lorie merasa tersesat dan kehilangan akal sehatnya. Ia mengerjap dengan linglung, kemudian buru-buru menunduk untuk menutupi rona merah yang menjalar di pipinya.



*Sialan, Lorie. Dia hanya bocah ingusan. Berhenti bertingkah seperti gadis remaja yang sedang kasmaran*, rutuk wanita itu dalam hati.



Sialnya, semakin ia menepis semua pemikiran yang tidak masuk akal dalam tempurung kepalanya, gambaran Raymond yang sedang tersenyum dan tertawa silih berganti muncul di benaknya, terus berputar berulang-ulang seperti DVD rusak yang menjengkelkan.



Ting.



Denting lift yang berhenti di lantai 12 membuyarkan lamunan Lorie. Ia segera membuntuti Raymond yang sudah lebih dulu melangkah keluar. Saat sampai di persimpangan ke kamarnya, Lorie menoleh dan ingin mengucapkan kalimat perpisahan. Namun, saat melihat Raymond terus berjalan di sebelahnya, lagi-lagi wanita itu mengernyit karena merasa heran.



“Di mana kamarmu?” tanyanya karena merasa penasaran.




Kali ini Lorie benar-benar tercengang. Mana ada kebetulan yang begitu ... kebetulan?



“Kamu menguntit aku? Iya, ‘kan? Kamu mengikutiku sampai ke Doges dan sengaja menabrakku. Cepat mengaku!” cecar wanita itu sambil menatap Raymond dengan mata menyipit. Ia bersedekap dan menanti jawaban dari pria di hadapannya. Wajahnya yang tampak salah tingkah itu terlihat sangat lucu.



Raymond tidak mau kalah. Ia segera membalas, “*Hey* ... aku lebih dulu menginap di sini, sejak dua hari lalu. Itu berarti kamu yang membuntuti aku! Iya, ‘kan? Kamu pasti—”



“Sayang? Kamu sudah pulang?”


__ADS_1


Lorie dan Raymond sama-sama terpaku begitu mendengar suara sangat lembut yang tiba-tiba menyela pertikaian kecil mereka. Dari balik pintu kamar Raymond, muncul seorang wanita berambut cokelat muda yang sangat cantik. Matanya bulat dengan bulu mata yang sangat panjang dan lentik. Irisnya sewarna dengan rambutnya, cokelat muda terang, jelas bukan merupakan softlens. Tubuh yang terbalut gaun malam berwarna hitam itu sangat padat dan seksi. Dadanya yang menyembul dari balik gaun tampak sangat montok dan menggiurkan. Bahkan Lorie yang merupakan seorang perempuan saja sangat terpesona dengan penampilan wanita itu.


“Kamu dari mana saja? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Ponselmu tidak aktif?”


Suara merdu itu sekali lagi mengejutkan Lorie dan Raymond.


“Kapan kamu datang? Kenapa tidak memberitahu aku lebih dulu?” tanya Raymond seraya menggandeng tangan kekasihnya.


“Aku selesai lebih cepat dan ingin memberimu kejutan.”


“Oh ... um, Alice, ini Lorie, seorang teman lama ... Lorie, ini Alice, tunanganku ....”


Alice mengulurkan jemarinya yang putih dan lentik ke arah Lorie. Sambil tersenyum sangat lembut, ia berkata, “Halo, Lorie ... senang berjumpa denganmu.”


“Ah. Oh ... hai, Alice, kamu memang secantik yang dikatakan oleh Raymond,” balas Lorie sambil menyambut uluran tangan Alice.


“Benarkah?” Wajah Alice yang semula sedikit tidak bersahabat tiba-tiba berubah menjadi lebih lembut. Senyumnya pun terlihat semakin lebar.


“Ya. Raymond mengatakan bahwa kekasihnya sangat cantik. Kamu sangat beruntung. Dia sangat mencintaimu,” balas Lorie yang kini mengerti bahwa wanita di depannya itu ternyata cukup pencemburu. Tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.


Alice semakin bergayut di tangan Raymond sehingga separuh dadanya menempel di lengan pria itu. “Kenapa aku baru tahu kalau kamu bisa seimut itu, Sayang?” gumamnya sambil tersipu malu.


Raymond memicing dan melirik Lorie sekilas. Jelas-jelas ia tidak mengatakan omong kosong semacam itu tadi. Wanita licik itu benar-benar menjerumuskannya, meski harus ia akui hal itu berdampak sangat baik ....


“Nah, kalau begitu ... aku masuk dulu,” pamit Lorie seraya menempelakan kartu aksesnya ke panel pintu. “Sampai jumpa lagi.”


“Sampai jumpa,” balas Raymond dan Alice bersamaan.


Saat hendak menutup pintu kamarnya, sekilas Lorie bisa melihat tangan Raymond memeluk pinggang Alice dan masuk ke kamarnya. Ia menelan ludah dan mengunci pintu, kemudian terdiam di sana selama beberapa detik sebelum memutar tubuhnya dan berjalan menuju ranjang.


Lorie tetap berada dalam kondisi linglung selama beberapa saat. Untuk alasan yang tidak jelas, ia membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh Raymond dan Alice di dalam kamar. Apakah mereka berpelukan? Lalu berciuman? Dan ....


“Cukup, Lorie!” sentak wanita itu sambil melompat bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


Bayangan Raymond dan Alice yang bergumul di atas ranjang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ada rasa yang ... entah, ia sendiri tidak mengerti apa itu.


Ding.


Suara ponselnya membuat Lorie memutar langkahnya kembali ke sisi ranjang dan mengambil ponselnya dari dalam tas.


Amber:


Aunty, aku merindukanmu!


Lorie tersenyum dan mengirimkan pesan balasan:


Aku juga merindukanmu, Sweetheart. Sangat ingin memeluk dan menciummu!

__ADS_1


Wanita itu kemudian pergi ke kamar mandi dan berendam seperti rencananya semula, berharap dengan demikian isi kepalanya yang liar bisa sedikit mereda dan tidak terus memikirkan penghuni kamar yang tepat berada di sebelahnya.


***


__ADS_2