
Hari Sabtu yang cerah membuat wajah Kinara semringah. Ia baru saja pulang dari sasana. Seluruh tubuhnya pegal dan bermandi berkeringat, tapi semangatnya luar biasa. Ia tidak sabar ingin berduaan dengan suaminya. Ia sudah merencanakan untuk membuat dessert yang resepnya baru ia lihat dari internet. Pasti sangat menyenangkan.
"Lorie, di mana Billy? Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini."
"Dengar-dengar Tuan Billy ditugaskan ke luar kota," jawab Lorie sambil membelokkan kemudi memasuki halaman.
"Oh. Pantas saja ...."
Kinara membuka pintu mobil dan melompat keluar. Ia berlari-lari kecil menuju rumah. Benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya. Gadis itu terlalu bersemangat sampai-sampai tidak menyadari ada dua mobil yang terparkir di ujung halaman.
"Nyonya, perhatikan langkah Anda," tegur Lorie ketika melihat Kinara hampir terjungkal karena tersandung di pintu masuk.
Kinara mencebik. Ia selalu kesal setiap kali Lorie kembali bersikap formal saat di rumah. Namun ia juga sudah terlalu malas untuk protes pada gadis itu.
"Siapa yang memaksaku berlatih sampai kehabisan tenaga?" balas Kinara, sengaja agar Lorie merasa bersalah karena sudah memaksanya habis-habisan.
"Anda bisa memarahi tuan Alex. Dia yang menyuruh saya untuk tidak kasihan pada Anda," jawab Lorie sambil tersenyum manis.
"Enyahlah!" gerutu Kinara sambil mempercepat langkahnya menuju kamar.
Lorie terbahak dan berbelok menuju kamarnya sendiri. Ia juga ingin berendam sebentar untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku.
Kinara mendorong pintu kamar dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kosong. Alex tidak ada di sana. Ia berjalan menuju kamar mandi dan memeriksa, tetapi sosok yang dicarinya tidak juga ada di sana.
"Aneh, biasanya dia selalu menunggu di kamar," gumamnya, "Kenapa tidak memberi tahu kalau mau pergi? Kebiasaan buruk ...."
Gadis itu melongok keluar dan bertanya pada bodyguard yang berjaga, "Di mana suamiku?"
"Tuan ada di ruang baca bersama nyonya Brenda."
Mata Kinara membulat. "Apa? Granny di sini? Sejak kapan?"
"Kurang lebih setengah jam yang laku, Nyonya."
"Baik. Terima kasih."
Kinara menutup pintu dan bersandar sebentar di sana. Jantungnya berdesir. Ada rasa tidak nyaman yang muncul dan membuatnya tiba-tiba merasa mual. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi. Sepertinya semua rencananya hari ini akan berubah total.
***
"Nyonya, tuan menunggu Anda di ruang baca."
Seruan dari depan pintu kamar membuatnya Kinara tersentak. Ia baru saja selesai berpakaian. Hampir satu jam ia berada di kamar mandi, sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi untuk menghindari granny.
"Semoga saja wanita tua itu sudah pergi," bisiknya pelan sebelum membuka pintu.
"Tuan menunggu Anda di ruang baca," ulang pelayannya.
"Apa nyonya besar sudah pulang?"
__ADS_1
Pelayan itu menggeleng. "Belum"
Kinara menghela napas. "Bagaimana penampilanku? Apa sudah rapi?"
"Anda sangat cantik dan rapi."
Kinara menyeringai dengan kaku. Ia tahu pelayannya itu hanya sedang berusaha untuk menghiburnya.
"Di mana Lorie?" tanya Kinara sambil berjalan menuju ruang baca.
Pelayannya mengekor di belakang sambil menjawab, "Nona Lorie masih di ruangannya. Mau saya panggilkan?"
Kinara menimbang sesaat, lalu memutuskan, "Tidak usah. Biarkan dia beristirahat."
"Baik."
"Kamu tidak perlu mengikutiku. Aku bisa sendiri," kata Kinara ketika melihat pelayannya terus mengikutinya hingga sampai di depan ruang baca. Ia tidak ingin orang yang menontonnya dipermalukan oleh granny bertambah. Dicaci maki dan direndahkan di depan suaminya sudah lebih dari cukup.
"Tapi ...."
"Aku akan memanggil jika memerlukan bantuanmu."
"Baik. Silakan, Nyonya."
Pelayan itu membukakan pintu untuk Kinara, kemudian berbalik dan pergi.
"Nara?" panggil Alex ketika mendengar suara pintu terbuka.
Setengah lusin pengawal dan pelayan Brenda Smith yang memenuhi ruangan sama sekali tidak membuatnya terintimidasi. Ada Alex, ia tidak takut pada apa pun. Termasuk pada wanita tua yang sedang memindainya dari ujung rambut hingga ujung kaki itu.
"Granny," sapa Kinara seraya membungkuk dengan satu tangan terlipat di depan dada. Ia tetap tersenyum lembut meski Brenda Smith menatapnya dengan mata memicing.
"Kemarilah," panggil Alex.
Kinara berjalan mendekat. Namun, baru dua langkah, suara granny yang tajam menusuk gendang telinganya.
"Lihat. Istrimu yang tidak terdidik ini sama sekali tidak mengerti tata krama. Akan sangat memalukan ketika memperkenalkannya pada dunia kita."
Jantung Kinara seakan diremas tangan tak kasat mata. Meski begitu, ia tetap berjalan hingga berada di dekat Alex. Kehadiran suaminya selalu menjadi kekuatan ekstra untuk menghadapi apa pun.
"Granny, aku memanggilnya karena granny berjanji akan menjaga sikap," tegur Alex ketika melihat raut wajah istrinya yang sangat menyedihkan.
Brenda Smith mencibir sinis, lalu berkata, "Aku datang ke sini bukan karena aku sudah menerimanya menjadi istrimu. Ini semua kulakan karena kamu terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkan semua ucapanku. Aku tidak mau orang-orang berpikir bahwa rumor yang menyatakan bahwa kamu menghamili salah satu pelayan sehingga terpaksa harus menikahinya itu benar!"
"Apa? Siapa yang menyebarkan rumor seperti itu?" tanya Kinara, cukup terkejut mendengar perkataan Brenda.
"Diam! Aku tidak sedang berbicara denganmu!"
"Granny, dia tidak tahu apa-apa. Jangan memarahinya terus. Aku yang memintanya untuk menikahiku, bukan dia yang memaksa aku untuk menikah dengannya."
__ADS_1
"Dia bisa menolak!" Brenda Smith bersikeras.
"Dia sudah menolak. Aku yang memaksanya."
"Sudah cukup! Aku bisa sakit kepala kalau terus berdebat denganmu. Beri tahu istrimu itu apa yang harus dia lakukan.."
Alex menggengam tangan Kinara dan berkata, "Aku mendapat undangan makan malam dari salah satu keluarga bangsawan di Inggris. Granny ingin mengajakmu ke The Spring Mountains. Dia telah memanggil seorang pelatih etiket untuk mengajarimu tata krama dan table manners. Aku harap kamu tidak keberatan atau tersinggung."
Kinara tersenyum lebar. "Tentu saja tidak keberatan. Apa kamu ikut?"
Alex menggeleng. "Ada banyak hal yang harus kuselesaikan hari ini."
"Tidak masalah. Apa yang perlu kusiapkan?"
Hanya beberapa jam bersama wanita tua bermulut tajam tidak akan membunuhmu, bukan? Bertahanlah, Nara ....
"Tidak ada. Kamu hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh."
"Baik. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Brenda mencebik. "Hentikan omong kosong itu. Cepatlah. Jangan buang-buang waktu."
"Baik," jawab Kinara, "Oh, apakah aku perlu mengajak Lorie?" Ia menoleh lagi pada Alex.
"Kamu meragukan pengawalku?" sela Brenda.
"Tidak, bukan seperti itu maksudku. Aku ...."
"Aku akan meminta Lorie dan beberapa pengawal menyusulmu. Kamu berangkatlah lebih dulu bersama granny."
"Baik." Kinara menoleh pada Brenda Smith. "Kapan kita pergi, Nyonya?"
Brenda tidak menjawab pertanyaan itu. Ia bangun dan berjalan menuju pintu dengan dagu terangkat. Para pelayan dan pengawalnya mengikuti tanpa menoleh pada Kinara.
Mau tak mau, Kinara menarik napas panjang lalu mengecup pipi suaminya. "Aku melakukan ini demi kamu, bukan untuk menyenangkan granny."
Alex meraih wajah istrinya dan memberi satu ciuman ringan di bibir gadis itu. "Aku tahu. Terima kasih."
Kinara tersenyum. "Sama-sama. Aku pergi dulu. Jangan lupa minta Lorie untuk segera menyusul."
"Hm. Pergilah."
"Aku pergi."
Kinara melesat keluar dan mengejar iring-iringan Brenda Smith. Ia duduk di mobil paling belakang bersama pelayan-pelayan wanita tua itu. Kinara sama sekali tidak keberatan. Ia justru sangat senang karena tidak harus satu mobil dengan Brenda. Takutnya ia tidak bisa berbicara dengan benar. Atau mungkin ia akan dikritik sepanjang perjalan menuju The Spring Mountains, mulai dari cara berpakaian hingga cara bernapas. Benar-benar melelahkan.
"Hey, ini bukan jalan ke kediaman keluarga Smith," kata Kinara ketika menyadari mobil yang ia tumpangi berbelok ke arah yang salah.
"Nyonya besar mengatakan bahwa alamat tujuan diganti," jawab pelayan yang duduk di sebelah supir..
__ADS_1
Kinara mengangguk-anggukan kepalanya. Meski begitu, ia diam-diam menyalakan ponsel dan mengirimkan posisinya kepada Lorie.
Ini sedikit mencurigakan....