
Tandu Kinara dibawa ke salah satu tamu di Spring Mountains yang telah diubah menjadi kamar bersalin. Alex telah meminta dokter Daniella memodifikasi dan menstrerilkan ruangan itu agar jika sewaktu-sewaktu Kinara mengalami kontraksi, maka mereka tidak perlu menempuh jarak jauh ke rumah sakit. Namun, ia sama sekali tidak menyangka jika akhirnya ruangan itu akan menjadi ruang operasi untuk Kinara.
Ia seperti kehilangan separuh nyawanya, berdiri mematung dan menatap kosong pada pintu yang tertutup rapat. Dokter Daniella dan Ana sama sekali tidak mengizinkannya masuk. Hal itu membuatnya bisa menebak seberapa serius kondisi yang dialami oleh istrinya.
Lorie berjalan mondar-mandir selasar sambil memanjatkan semua do'a yang diketahuinya. Sementara Billy terpekur di dekat jendela. Elizabeth berdiri di sampingnya seraya mengusap lengannya perlahan. Semua orang dalam ruangan itu benar-benar tertekan. Setiap detik yang berputar terasa sangat lambat.
Ketika akhirnya suara tangisan bayi memecah keheningan, Alex tidak tahu harus melompat karena bahagia atau bersedih. Bayi-bayi mungil itu lahir sebelum waktunya. Selain itu, ia masih belum tahu bagaimana kondisi Kinara. Cemas dan gugup, pria itu mematung di depan pintu kamar seperti baru saja menatap mata Medusa.
Beberapa menit kemudian, Dokter Ana muncul dari balik pintu dengan raut wajah serius.
"Kami butuh golongan darah B rhesus negatif. Masih ada beberapa kantung di sini, tapi dokter Daniela khawatir tidak akan cukup. Nyonya mengalami pendarahan postpartum," jelasnya sebelum Alex sempat bertanya.
Ia maju sambil melepas jas operasinya dan melanjutkan, "Kami sudah menghubungi beberapa rumah sakit, tapi stok darah yang cocok dengan nyonya Kinara tidak ada. Mungkin kamu punya koneksi yang bisa mendapatkannya."
"Butuh berapa banyak?" tanya Alex dengan penuh kepahitan. Kalau bisa, ia saja yang menggantikan istrinya di dalam sana dan menanggung semua rasa sakitnya.
"Sebanyak yang bisa didapat. Istrimu mengalami abrupsi plasenta. Kami belum bisa memastikan sampai kapan pendarahannya akan berhenti."
"Saya akan mencarinya," ujar Lorie ketika melihat tuannya hanya terpaku di tempat tanpa memberi respon. Ia segera merogoh ponsel dan menghubungi nomor-nomor darurat di kontaknya.
"A ... ab-abrupsi apa?" ulang Alex setelah berhasil mengumpulkan konsentrasinya. Saat ini pikirannya benar-benar bercabang ke mana-mana.
"Abrubsi plasenta."
Dokter Ana menghela napas pelan sebelum menjelaskan, "Plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya. Sepertinya terjadi karena pengaruh kecelakaan beberapa bulan lalu, ditambah kehamilan kembar membuat dinding rahimnya tidak kuat dan menyebabkan ruptur uteri, sobekan di dinding rahim. Hal itu membuat ketiga bayi bergerak hingga ke rongga perut dan--"
"Cukup! Aku tidak sanggup mendengarnya lagi."
Membayangkan penderitaan yang dialami oleh Kinara membuat Alex hampir kehilangan akal sehat. Sekarang seluruh tubuhnya benar-benar gemetaran. Matanya yang semerah darah menatap kosong pada dokter Ana. Ia tahu wanita itu dan dokter Daniella sudah memberikan yang terbaik. Semua penanganan dan pencegahan secara maksimal sudah dilakukan. Ia tidak mau menyalahkan mereka atas apa yang menimpa istrinya, tapi ....
"Bagaimana dengan bayinya?"
"Mereka baik-baik saja. Sekarang berada di dalam inkubator. Kamu bisa menemui mereka setelah perawat membawa mereka ke ruangan sebelah."
Alex menghela napas. Ia memang ingin melihat ketiga anaknya, tapi saat ini, ia lebih ingin melihat kondisi Kinara.
Suaranya terdengar seperti bisikan ketika berkata, "Aku ingin bertemu istriku ...."
"Kamu belum bisa--"
"Aku ingin bertemu istriku!" teriak Alex hingga membuat dokter Ana terlonjak ke belakang.
Wanita itu terlalu terkejut melihat reaksi Alex. Selama ini, ia tidak pernah melihat Alex bersikap seperti itu. Ia baru saja akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Namun, suara pintu yang berderit terbuka membuatnya menoleh ke belakang.
Dokter Daniella menatap lurus ke arah Alex dan berkata, "Tuan, jika Anda ingin bertemu nyonya, silakan masuk."
Dokter Ana menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia tahu apa alasan rekannya memberi izin pada Alex untuk masuk. Tiba-tiba matanya berembun. Ia melepas sarung tangannya dan berjalan ke samping Billy. Hatinya ikut terasa sakit. Alex adalah pria yang baik, sungguh tidak pantas bernasib seperti ini.
Alex berjalan masuk dengan gamang. Melihat Kinara terbaring tak berdaya seperti itu membuatnya sangat hancur. Jantungnya seakan diremas hingga remuk berkeping-keping. Separuh jiwanya sedang berjuang di sana. Gerakan dadanya yang naik turun dengan sangat pelan seakan menanggung rasa sakit yang tak tertahankan.
Semua selang dan jarum yang menancap di permukaan kulit istrinya terlihat seperti monster-monster yang sedang menyerap saripati kehidupannya, mencari celah dan siap mengambil jiwa malang itu kapan saja.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan, tapi ... um, kalau Anda memiliki koneksi untuk menemukan dokter yang lebih baik lagi, saya tidak keberatan," ujar dokter Daniella sambil menatap Alex yang terlihat sangat menyedihkan. Ia sungguh tidak sanggup mengatakan bahwa mungkin istrinya tidak akan bisa bertahan.
__ADS_1
Alex terdiam. Dokter Ana sendiri yang merekomendasikan rekannya untuk mengawasi kehamilan Kinara, jadi Alex tahu kemampuan wanita itu pasti sudah tidak diragukan lagi. Namun, kalau sampai wanita itu pun berkata seperti ini maka ....
Apa yang harus aku lakukan? Apa? Baby ... katakan padaku, aku harus bagaimana?
Alex bersimpuh di sisi ranjang Kinara. Wajah istrinya itu sepucat porselen antik yang terkubur ratusan tahun. Ia tidak berani memegang tubuh istrinya, meski hanya jemarinya sekalipun. Wanita itu terlihat begitu rapuh. Seakan dia akan berubah menjadi serpihan abu jika disentuh.
"Baby ... aku tahu aku bukan suami yang baik, tapi jangan menghukumku seperti ini. Aku mohon ...."
Suara Alex terdengar seperti desau angin di musim gugur, merana dan kesepian. Bahunya yang selalu kokoh dan tegap kini terkulai dan bergetar pelan. Tetes-tetes air memercik di atas lantai. Buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram tepian ranjang dengan sangat kuat, seakan ingin menarik jiwa istrinya kembali dari kegelapan.
"Aku mohon padamu, Baby ... buka matamu ...."
Suara tangisan bayi yang lemah dari dalam inkubator membuat jantung Alex semakin berdenyut nyeri. Mereka pasti kebingungan dan kesepian ... sama seperti dirinya.
"Kamu dengar itu, Sayang? Bayi kita menangis. Mereka membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu. Jangan tinggalkan kami. Oke?"
Getaran pada bahu Alex semakin kencang. Suaranya berubah serak dan sengau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin agar kesadarannya tetap terjaga. Sesak. Sakit. Paru-paru dan jantungnya perlahan hancur dari dalam.
"Katakan padaku kalau kamu akan segera bangun. Aku belum sempat mengajakmu berlibur seperti janjiku terakhir kali. Belum sempat membahagiakanmu dengan layak. Belum sempat membalas semua kebaikanmu ... Kumohon, jangan lakukan ini padaku ...."
Dokter Daniella mendongak untuk menghalau bulir bening yang menggenang di pelupuk matanya. Pemandangan seperti ini sudah sangat sering dilihatnya, tapi ... tetap saja ia tidak pernah menjadi terbiasa. Lalu, ketika ia kembali menatap layar monitor, raut wajahnya berubah dalam sekejap.
"Panggil dokter Ana," perintahnya pada salah seorang perawat yang berdiri di dekatnya, kemudian segera berlari ke sisi ranjang Kinara.
"Maaf, Tuan, tolong menyingkir," pintanya pada Alex.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter Ana sambil menghambur ke sisi rekannya.
Suntikan.
Lebih banyak suntikan.
Serentetan kalimat yang tidak dimengerti.
Perintah dan teriakan.
Alex berdiri di sudut ruangan, menatap semua kekacauan di depannya tanpa berkedip. Namun, saat suara mesin yang statis terdengar melengking tinggi, ia berteriak dan mengamuk tanpa kendali.
"Kinara Lee! Bangun kataku! Kamu tidak boleh pergi! Aku tidak mengizinkanmu pergi! Kamu dengar aku?! Bangun! Cepat bangun!" teriaknya di samping ranjang istrinya.
"Tuan ...."
Dokter Daniella mencoba untuk menenangkan Alex, tapi pria itu mendorongnya hingga hampir tersungkur. Billy menerobos masuk dan hendak memeluk Alex, tapi pria itu menendangnya hingga menabrak tembok.
"Baby, Baby ... buka matamu, aku di sini ... bayi kita di sini. Aku benar-benar memohon padamu, buka matamu dan lihat aku. Lihat aku. Oke? Aku mohon ... satu kali saja, Baby ... hanya satu kali ... lihat aku. Jangan menghukumku seperti ini ...."
Alex terus meracau dan mengguncang tubuh Kinara, tapi istrinya itu tetap membisu. Ia menunduk dan menciumi wajah Kinara, menciumi bibirnya yang sepucat kapas, tapi wanita itu tidak merespon seperti biasanya.
"Jangan menyentuhnya!" sentak Alex ketika melihat dokter Ana mendekat.
"Istriku hanya sedang tidur. Dia pasti kelelahan karena melahirkan bayi kami. Biarkan dia beristirahat," sambungnya lagi seraya membelai rambut Kinara, "Kamu akan bangun 'kan, Baby? Kamu sudah berjanji akan menjadi milikku selamanya. Kamu sudah ber ... oh, apa yang kau lakukan?"
Alex menoleh cepat ketika merasakan sesuatu menyengat lengan kanannya.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan," ujar dokter Daniella dengan sorot penuh penyesalan.
Alex baru saja hendak mengamuk pada wanita itu, tapi tiba-tiba kepalanya terasa berat.
"Apa yang kau lakukan padaku?" desisnya dengan penuh amarah.
"Ini demi kebaikan Anda," jawab dokter Daniella.
Dengan sigap Billy bergerak cepat dan menangkap tubuh Alex yang limbung.
"Billy, jangan biarkan siapa pun menyentuh istriku," ujar Alex sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.
***
Matahari bersinar hangat, menguapkan embun di pucuk-pucuk pohon pinus. Alex menikmati semuanya dengan mata terpejam. Ia merentangkan tangan lebar-lebar dan menghirup udara sebanyak yang bisa ditampung oleh paru-parunya.
"Kamu benar, Baby ... aroma daun dan tanah basah karena embun sangat menenangkan," gumam Alex tanpa membuka matanya.
Kinara tersenyum lebar dan membelai rambut suaminya dengan penuh rasa sayang. Wajahnya terlihat bercahaya dalam pantulan sinar matahari pagi. Ia menunduk dan mendaratkan satu kecupan ringan.
"I love you," bisiknya.
"I love you too, Baby."
Alex tersenyum lembut dan membuka matanya. Bayangan istrinya menguap bersama embun pagi. Satu buket besar bunga mawar merah ia letakkan di atas makam yang dilapisi marmer hitam.
"Happy anniversary, Baby," gumamnya lagi seraya mengusap permukaan nisan dengan penuh rasa sayang, "Waktu berjalan sangat cepat ... dan aku masih kesepian."
"Tenanglah, ada Aslan, Aaron, dan Amber yang selalu menghiburku kalau aku mulai rindu padamu. Mereka semakin cerewet, sama sepertimu. Dan ... oh, mereka sudah mulai belajar berjalan. Seandainya kamu ada di sini, Baby ...."
Alex mendesah pelan dan menatap langit yang terbentang luas di atas kepalanya.
"Bukankah ini sedikit tidak adil, Sayang? Aku masih merindukanmu setiap saat, tapi kamu sudah tidak rindu padaku lagi," ujarnya sambil kembali memejamkan mata, mencoba menghadirkan kembali bayangan istrinya dalam ingatan.
"Baby, terkadang aku sangat rindu padamu. Begitu rindu sampai rasanya aku ingin menyusulmu saja ... tapi siapa yang akan mengurus dan membesarkan anak-anak kita?"
Alex mengalihkan pandangannya. Ia berjongkok di samping makam istrinya dan lanjut berkata, "Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga mereka dengan sangat baik."
Ia mengerjap pelan ketika matanya mulai memanas. Terkadang, ia berpikir dan berandai-andai: jika dulu, setelah kejadian di Minnesota ia langsung mengenali Kinara, apakah semuanya akan tetap berakhir seperti ini?
Sayangnya, apa yang sudah terjadi tidak akan pernah diulang kembali, bukan?
"Baby, di kehidupan berikutnya ... aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan mencarimu dan membuatmu sangat bahagia sampai kamu tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi. Kamu dengar itu, Baby? Tunggu aku. Oke?"
Cahaya matahari semakin hangat, menerangi hutan pinus di halaman belakang The Spring Mountains, tempat yang ditetapkan Alex sebagai peristirahatannya di sisi Kinara kelak.
Namun, untuk sekarang, perjalanan masih sangat panjang. Ada tiga bayi mungil yang sedang menunggunya di rumah, harta paling berharga miliknya, peninggalan dari wanita yang paling ia cintai. Satu-satunya wanita yang ia cintai seumur hidupnya. Dan akan tetap seperti itu sampai pada kehidupannya berikutnya.
***
Tamat.
__ADS_1