
Tatapan mata Raymond yang sinis menghujam sampai ke dasar jiwa dan membuat Billy sedikit gemetar. Ia tidak pernah melihat penampilan Raymond yang seperti itu. Sepanjang yang ia ingat, Raymond Dawson selalu lembut dan sopan.
Bocah keparat ini sejak kapan jadi terlihat menyeramkan?
Di sebelahnya, Dokter Ana menelan ludah dan melirik Alex diam-diam. Bocah ingusan ini berani menyalahkan mereka semua, termasuk menyalahkan Alex Smith? Apakah dia sudah bosan hidup?
Billy yang sudah tidak terlalu terkejut berdeham dan kembali mendebat, “Beda cerita kalau itu adalah istriku. Kamu dan Lorie, memangnya dia siapamu?”
Ucapan itu menghantam Raymond dengan telak. Ia megap-megap seperti ikan yang terdampar di darat, ingin membalas tapi tidak bisa menemukan kalimat bantahan yang tepat. Di saat ia masih bergumul antara apakah ingin menyerah atau berkelahi dengan Billy, terdengar suara desisan dari atas ranjang. Perhatian semua orang otomatis tertuju kepada Lorie yang baru saja melakukan sedikit pergerakan.
“Kalian berisik sekali. Pergi bertengkar di luar. Aku mau tidur,” gumam Lorie seraya memejamkan mata.
Pundak Billy langsung merosot. Ia melirik dengan sadis ke arah Raymond, seolah ingin membunuhnya dengan tatapan matanya yang membara itu.
Raymond mengacuhkan intimidasi itu dan berkata, “Kalian keluar. Aku akan menunggu di sini.”
Billy sudah ingin membuka mulut untuk membantah, tapi suara dehaman yang datang dari balik tubuhnya membuatnya mengurungkan niat itu.
“Ayo pulang,” ucap Alex yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu.
Meski sedikit tidak rela, Billy hanya bisa mengekorinya dari belakang. Dokter Ana pun hanya bisa melotot ke arah Raymond sekali lagi sebelum beranjak dari tempatnya.
Dalam sekejap suasana yang tadinya ricuh berubah tenang. Bahu Raymond yang tegang perlahan merosot. Ia menatap wajah Lorie lekat-lekat, memperhatikan alisnya yang berkedut samar dan bulu matanya yang bergetar. Sangat jelas kalau wanita itu hanya sedang berpura-pura tidur.
Menghadapi sikap penolakan itu, Raymond juga tidak tahu harus mengatakan apa. Keningnya mengernyit. Apakah Lorie benar-benar tidak ingin bertemu dengannya? Tapi tidak ingin pun tetap harus mengatakan sesuatu, bukan?
“Lorie, apa kamu sangat membenciku?”
__ADS_1
Pertanyaan yang tadi belum terjawab kembali dilontarkan oleh Raymond. Ia benar-benar ingin tahu, apakah Lorie sungguh membencinya?
“Apa kamu tahu mengapa aku menjauhimu, Raymond Dawson?”
Suara yang terdengar tenang dan penuh perhitungan itu sangat pelan, tapi mampu membuat jantung Raymond bergejolak. Jantungnya berguncang dengan sangat keras sehingga ia merasa seperti sedang menaiki roller coaster, melayang dan meliuk sehingga usus dan lambungnya saling membelit dan tumpang tindih.
Pria itu menjernihkan pita suaranya sebelum menjawab, “Tidak. Aku tidak tahu. Kamu katakan.”
“Itu karena ... aku tidak ingin hal seperti ini terjadi.”
Lorie masih memejamkan matanya, tapi kerutan di keningnya terlihat semakin dalam. Ia terdiam setelah mengatakan satu kalimat itu, lalu seperti kembali terhanyut dalam pemikirannya sendiri. Raymond mengira Lorie masih akan mengatakan hal lainnya, jadi ia menunggu dengan sabar. Namun, wanita itu tampaknya terlalu larut ....
“Lorie?” panggil Raymond dengan hati-hati.
Tak disangka tiba-tiba Lorie mendesah pelan dan berbisik, “Dari semua jenis manusia, wanita kaya yang tidak mendapatkan keinginan mereka, itu adalah yang paling mengerikan. Kamu tahu? Aku tahu karena aku sudah melihatnya sendiri ... aku kehilangan satu-satunya sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri karena jenis wanita seperti itu.”
Sebagai seorang pengawal, ia tidak memiliki kualifikasi yang bagus. Ia bahkan merasa malu ketika menyebut dirinya sebagai pengawal Kinara Lee. Oleh karena itulah, ia menebusnya dengan menjaga triplets sepenuh hati. Lucunya, sekarang ia sendiri dihadapkan dengan tipe wanita seperti itu, wanita yang pada akhirnya merenggut satu-satunya keluarga yang akan ia miliki.
Darah dagingnya ....
Lorie mengerang pelan dan matanya memanas.
“Aku menginginkan nyawa tunanganmu, Raymond Dawson. Apa kamu keberatan?”
“Mantan,” ralat Raymond dengan cepat. “Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya lagi.”
“Ada atau tidak, apakah itu berpengaruh sekarang?” Suara Lorie terdengar serak, penuh dengan ironi dan cibiran.
__ADS_1
“Kalau kamu memberitahuku sejak awal—“
“Kalau aku memberitahumu sejak awal, maka bayi itu sudah tidak ada sejak awal. Dia akan menemukan cara!” sela Lorie. “Apakah Anda bahkan mengerti kebenaran ini, Mr.Dawson?”
Raymond tercekat. Itu benar, jika Alice tahu sejak awal ... bukankah dia akan melenyapkan bayinya sejak awal juga? Mendadak tubuh Raymond sedikit gemetar. Iblis macam apa yang hampir dinikahinya?
“Sudah begini, mari lupakan saja.” Lorie menghela napas lagi dan terlihat sedikit kelelahan. “Karena dia sudah mengambil bayiku, aku menginginkan bukan hanya nyawanya, tapi juga nyawa anaknya.”
Raymond terkejut, tapi tetap menjawab, “Aku tidak akan berkomentar. Lakukan saja apa pun yang bisa membuatmu merasa nyaman.”
“Begitu?” Lorie membuka matanya dan membalas tatapan Raymond dengan sungguh-sungguh.
“Jangan sesali apa yang baru saja kamu katakan,” imbuhnya.
“Tidak akan,” balas Raymond dengan yakin. Ia sendiri memiliki keinginan yang sangat kuat untuk membunuh mantan tunangannya itu.
“Bagus sekali ....”
Lorie menyeringai puas, tapi justru terlihat sedikit menyedihkan karena masih ada jejak air di sudut matanya. Ia lalu berpaling dan kembali memejamkan mata tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Raymond tetap berdiri di samping ranjang dengan tenang. Ia tidak beranjak meski deru napas Lorie sudah stabil. Beberapa saat kemudian, ia mendekat dan mendapati kelopak mata Lorie terkulai dengan lembut. Sepertinya benar-benar sudah tidur.
Pria itu mengulurkan tangan dan mengusap pipi Lorie dengan hati-hati. Seulas senyum tipis yang penuh dengan kepahitan dan rasa sakit meringkuk di sudut bibirnya.
Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik ....
***
__ADS_1