Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 96: Bring all troops!


__ADS_3

“Ada pesan lain dari istriku?” tanya Alex pada Lorie yang sedang memangku laptop.


Lorie menggeleng. “Tidak ada, Tuan. Ponsel nyonya masih tetap tidak aktif,” jawabnya.


“Apakah posisi terakhir di mana ponselnya berada sudah ditemukan?” tanya Alex lagi. Tangannya sedikit gemetar karena gugup. Entah mengapa firasatnya mengatakan sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.


“Satelit masih sedang mencari, Tuan,” jawab Lorie sambil terus menekan keybord dan mengetik sandi pencarian.


Gadis bodoh, bertahanlah ... aku segera datang. Kumohon, bertahanlah, doa Alex dalam hati.


Pria itu sungguh-sungguh berharap agar istrinya baik-baik saja. Ada banyak hal yang belum sempat ia ucapkan, belum sempat ia wujudkan. Ia tidak mau kehilangan gadisnya dengan cara seperti ini, benar-benar tidak mau. Ia sudah bertekad jika nanti musuhnya meminta untuk menukar dirinya dengan Kinara, maka ia akan menyetujui hal itu dengan sukarela.


“Ketemu!” seru Lorie, masih tetap menatap layar monitor di depannya dengan serius.


Lokasi terakhir yang dikirim oleh Kinara masih sekitar setengah jam perjalanan dari sini. Ia meng-klik titik merah yang berpendar di layar komputer. Jarak antara lokasi terkahir dan lokasi ponsel sekitar lima belas menit. Itu artinya waktu tempuh masih sekitar tiga per empat jam.


Gadis itu memutar laptopnya dan menunjukkan layar monitor pada Alex. “Jaraknya hampir satu jam dari sini, Tuan,” ujarnya.


“Siapkan landasan pacu!” perintah Alex seraya bangkit berdiri. Ia berjalan cepat menuju teras, lalu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya ketika menyadari halaman rumahnya cukup luas untuk dijadikan landasan. “Tidak. Bawa helikopternya ke sini! Sekarang!” teriaknya lagi.


Tidak ada cukup waktu untuk menunda-nunda. Sekarang ini, selisih waktu satu menit pun sangat berharga.


“Baik, Tuan!” jawab salah satu pengawal yang berjalan di belakang Alex. Ia merogoh ponsel dari saku celana dan melakukan panggilan.


“Tetap kirimkan pasukan dengan mobil dan motor, itu akan memudahkan pencarian dari darat. Suruh mereka berpencar ketika sampai di titik tujuan. Periksa semua bangunan. Jangan ada yang terlewat sedikit pun. Beri tahu sebagian pasukan yang akan menyisir di darat untuk memeriksa lokasi terakhir yang dikirim oleh istriku. Temukan petunjuk sekecil apa pun itu, gunakan untuk melacak keberadaannya,” perintah Alex dalam satu tarikan napas.


Pria itu mengambil senjata semi otomatis yang diserahkan oleh anak buahnya, lalu melanjutkan, “Kita langsung menuju lokasi terakhir di mana sinyal dari ponselnya berada. Itu akan menghemat lebih banyak waktu.”


“Mengerti,” jawab Lorie. Ia mengambil walkie talkie dan mulai memberikan instruksi


Alex memberi perintah tambahan secara mendetail. Ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Membiarkan Kinara pergi tanpa pengawasan darinya adalah kesalahan terbesar yang telah ia lakukan. Jangan sampai ia melakukan kesalahan lain dan membuatnya benar-benar kehilangan gadis itu.


Lorie ikut memberi arahan. “Beri tahu pada markas untuk membawa perbekalan senjata. Kita akan memerlukannya.”


“Baik.”


“Tuan, rompi anti peluru Anda,” kata salah seorang pengawal seraya menyerahkan jaket hitam ke arah tuannya. Ia menyerahkan satu lagi untuk Lorie.


Alex menerima benda itu dan memakainya di balik jas. Lorie memakai benda itu di lapisan paling luar dan berjalan cepat mengikuti Alex. Tak lama berselang, deru baling-baling yang berputar di udara terdengar semakin mendekat. Alex mendongak, tiga buah helikopter melayang di atas sana.

__ADS_1


Salah satu burung besi itu bergerak turun. Kibasan angin dari putaran baling-baling membuat pepohonan miring dan bergoyang kencang, daun-daun kering beterbangan ke segala arah, tapi Alex tidak peduli. Ia berlari menuju heli, sedikit merunduk ketika kakinya menekan pada pijakan untuk membantunya naik.


“Jalan!” perintah Lorie setelah berhasil masuk. Ia mengempaskan diri di samping Alex dan kembali membuka laptop untuk melihat area yang akan mereka datangi. Ia mengirimkan koordinatnya pada pilot helikopter dan kepala pasukan di darat.


Gadis itu menghela napas yang terasa berat. Untunglah tuan Alex masih bisa berpikiran lebih rasional. Tadi sama sekali tidak terlintas di benaknya untuk menggunakan helikopter. Ia sudah hampir putus asa ketika mengetahui jarak tempuh yang sangat lama dengan menggunakan mobil. Otaknya benar-benar buntu. Ia sangat berharap semoga Kinara tidak diserang panic attack dan bisa menerapkan semua latihannya dengan baik.


Perlahan badan helikopter kembali membubung ke angkasa. Mobil-mobil hitam milik rekannya yang berpencar dari halaman rumah terlihat mengecil seiring ketinggian helikopter yang semakin bertambah. Dua buah heli yang berputar di


udara segera mengikuti dari belakang. Suara kibasan angin dan deru mesin yang kencang menggema di udara ketika ketiga burung besi itu melesat dengan kecepatan tinggi.


Berkali-kali Lorie melihat ke luar jendela dengan tidak sabar. Ia merasa helikopter yang ia tumpangi melaju seperti siput, meski sebenarnya ia juga tahu pilot sudah mencapai batas kecepatan maksimal. Mereka terlambat dalam jangka waktu yang cukup lama. Bisa dibilang semua ini karena keteledorannya juga. Tiba-tiba ia merasa ingin menangis. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada majikannya yang baik hati itu?


Bagaiamana kalau para penjaat itu berhasil menangkap Kinara, menyiksanya, atau bahkan yang lebih buruk ... bagaimana kalau mereka menodai dan membunuhnya? Ia pasti akan merasa sangat bersalah seumur hidup.


“Tuan, maafkan saya. Saya lalai ... um, saya ....”


Suara Lorie terdengar serak dan bergetar. Ia menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Kelopak matanya memanas, siap memuntahan butiran-butiran bening yang terasa sepanas lahar dari dasar bumi. Ia mendongak untuk menghalau genangan air yang semakin banyak.


Alex berdeham untuk menjernihkan pita suaranya. “Bukan salahmu. Kalau ada yang harus disalahkan atas peristiwa ini, orang itu adalah aku. Aku terlalu ceroboh, membiarkan istriku pergi tanpa pengawasan,” jawabnya.


“Sudahlah. Sekarang bukan waktunya untuk menjadi melankolis. Fokuskan perhatianmu. Mari temukan dia,” lanjut pria itu lagi.


Tangan Lorie terulur dan berpegangan pada besi yang melengkung di atas kepalanya ketika helikopter menukik tajam.


Keputusan untuk memakai helikopter daripada mobil memang sangat tepat. Jarak yang seharusnya ditempuh 45 menit dapat dicapai hanya dalam kurun waktu sekitar seperempat jam. Tanda yang berkedip merah dalam layar monitor di depan Lorie kini hanya berjarak beberapa ratus meter dari lokasi mereka sekarang.


“Tuan, sebentar lagi kita akan mendarat,” kata gadis itu seraya menutup laptopnya dan mengambil peralatan taktis dari dalam tas yang tergantung di dinding helikopter. Ia menyerahkan satu set perlengkapan itu pada Alex, kemudian memakai miliknya sendiri.


Alex menerima dan memakai peralatan itu tanpa banyak cakap. Otaknya sedang dipenuhi oleh banyak hal sekarang.


Lorie mengaktifkan thermal imaging dan memindai wilayah yang dilewati jalur helicopter. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak normal. Sampai akhirnya helikopter berada hanya beberapa meter dari lokasi ponsel Kinara terdeteksi. Tubuh Lorie menegang ketika pemindainya memberi gambaran visual tubuh-tubuh yang tergeletak dengan berbagai posisi di bawah sana. Ia tidak sempat menghitung ada berapa banyak tubuh yang berserakan, tapi yang ia tahu dengan jelas, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Itu artinya ....


“Tuan, di bawah!!” seru Lorie seraya melepas kacamata millitary tactical miliknya. Namun ia tidak jadi mengucapkan sepatah kata pun ketika melihat raut wajah tuannya yang sangat menakutkan. Ia yakin tuan Alex-nya juga telah melihat apa yang baru saja ia saksikan.


Wajah pria itu seputih kapas ketika bergumam, “Daratkan helikopter.”


Putaran baling-baling kembali membuat pohon-pohon pinus bergoyang kencang. Debu-debu berhamburan membentuk kumparan angin cokelat, menyatu dengan dedaunan kering. Namun kali ini aroma anyir yang pekat menguar di udara, membuat perut siapa pun yang mencium aroma itu bergolak dan ingin menumpahkan isinya. Ditambah lagi pemadangan dari atas menampilkan visual yang sangat akurat. Bagaimana darah berceceran di beberapa tempat dan menggenang di tempat yang lain. Benar-benar berantakan.


Lorie mendorong pintu dan menghambur keluar meski helikopter masih belum menapak dengan mantap di atas tanah. Tangannya teracung dengan sepucuk Glock G47 yang telah siap memuntahkan peluru.

__ADS_1


“Amankan perimeter!” seru gadis itu pada rekan-rekannya yang berlompatan dari dalam dua helikopter yang baru mendarat.


Pria-pria bermasker itu segera menyebar, memeriksa setiap jasad yang terbujur di atas tanah. Beberapa orang memasuki gudang tua dengan hati-hati.


Kening Lorie mengernyit ketika mengenali wajah-wajah pengawal Brenda Smith yang berlumuran darah. Gadis itu berjongkok dan memeriksa denyut nadi mereka. Kerutan di keningnya semakin dalam ketika menyadari tak ada satu pun dari mereka yang masih hidup. Begitu pun jasad-jasad lain yang memakai topeng anonim, tubuh mereka telah dingin.


Alex memindai lokasi itu dengan cepat, matanya memicing, mencari keberadaan istrinya dengan rahang mengeras. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan di sini beberapa waktu lalu.


Apakah gadis itu terluka?


Selongsong peluru dan sisa bubuk mesiu bertebaran di mana-mana. Alex bagai kehilangan separuh nyawanya ketika harus menyisir area pembantaian itu untuk memastikan bahwa jasad istrinya tidak ada di sana. Untungnya, tidak ada tanda-tanda bahwa ia harus membawa pulang mayat istrinya.


Bertahanlah Kinara, aku bahkan belum mengatakan kalau aku mencintaimu.


Alex tertegun sesaat ketika menyadari pemikirannya barusan. Sejak kapan ia jatuh cinta pada gadis itu? Sejak hubungan mereka semakin dekat dan intim, atau sejak gadis itu memilih untuk bertahan dan menemaninya dalam masa-masa terburuk yang harus ia lalui?


Kedua tangan pria itu terkepal erat. Mengapa harus berada dalam situasi seperti ini baru menyadarkannya arti gadis itu dalam hidupnya?


“Sial!” umpat Alex dengan putus asa. Bagaimana kalau ia benar-benar akan kehilangan istri mungilnya itu?


“Tuan!”


Seruan Lorie mengalihkan pikiran Alex. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gadis itu sedang menunjuk pada sepasang heels yang tadi dipakai oleh Kinara. Sepasang sepatu itu terpencar, satu berada di bawah pohon, satunya lagi berada di dekat mobil.


Mata Alex memicing. “Berapa mobil yang tadi datang ke rumah?” tanyanya pada pengawal pria yang berjaga di dekatnya.


“Ada tiga mobil,” jawab pria itu.


Alex menatap dua mobil di hadapannya dengan penuh kelegaan. Raut wajahnya dipenuhi harapan. Semoga saja dugaannya benar. Semoga saja istri kecilnya itu berhasil melarikan diri. Ia berjongkok dan memerhatikan arah putaran ban. Sepertinya gadis itu masih sempat berhenti untuk mengajak seseorang masuk dalam mobil. Mungkinkah orang itu adalah granny?


Tanpa disadari, seulas senyum terkembang di wajah Alex. Sedikit harapan yang ia punya membuat dadanya membuncah oleh rasa bahagia. Sama seperti istrinya yang terus berpegang teguh pada keyakinan bahwa ia akan sembuh meski kemungkinannya hanya sekian persen. Kini keyakinan yang sama tumbuh subur dalam hatinya, keyakinan bahwa gadis itu berhasil melarikan diri dan berhasil selamat.


“Kembali ke helikopter. Jejak mobil ini mengarah ke perbatasan kota. Panggil semua pasukan untuk membentuk barikade di jalanan yang mungkin dilewati oleh istriku!” seru Alex seraya berlari kembali ke helikopter.


“Baik, Tuan,” jawab Lorie dengan wajah semringah. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh tuannya itu. Ia pun memiliki harapan yang sama.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan sebelum menyusul Alex.


Shadow 04 to shadow 01. Bring all troops, maksimum power.

__ADS_1


***


__ADS_2