
Suara erangan dan aroma percinta*n yang pekat menguar di udara. Tubuh Jessica tersentak-sentak seirama gerakan pria yang menguasai tubuhnya sejak satu jam lalu. Tampaknya pria itu belum mau melepaskannya meski Jessica sudah benar-benar terlihat kepayahan. Dress yang ia kenakan ketika menemui Alex tadi siang teronggok di atas lantai.
Tubuh Jessica yang dipenuhi lebam dan bekas pukulan kemerahan terekspos di hadapan setengah lusin pengawal, tetapi ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan tentang rasa malu. Otaknya terlalu sibuk memberi sinyal pada tubuhnya agar tetap bertahan. Satu-satunya hal yang terpaksa ia lakukan seorang diri sejak kedua orang tuanya meninggal adalah tetap bertahan, dengan cara apa pun.
Ya, pria gila yang menguasai tubuhnya dengan brutal ini memang menyukai kekerasan. Semakin keras ia berteriak atau memberi respon atas rasa sakit, bedeb*ah gila itu semakin bersemangat dan merasa puas. Oh ... lagipula semua rasa malunya sudah habis sejak ia dilemparkan pada psikopat gila ini. Jadi, yang perlu ia lakukan sekarang adalah bertahan dan mengikuti alur permainannya.
Set!
Ceter!
Sebuah tambang menyerupai cambuk kecil membelah udara, melecut dan meninggalkan bekas kemerahan permukaan perut Jessica.
“Umh!”
Wanita itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak boleh bersuara atau pria di hadapannya akan semakin menggila.
“Akh! Nathan! Ampun!” pekik Jessica. Ia benar-benar sudah tidak bisa tahan lagi.
“Bit*ch! Kau tidak layak menyebut namaku!” seru pria yang baru saja disebut namanya itu dengan murka. Ia menarik rambut Jessica dengan kasar, kemudian mengempaskannya lagi ke meja.
“Ini hukuman karena tidak menjalankan tugasmu dengan baik,” geram pria yang dipanggil dengan sebutan Nathan oleh Jessica tadi.
“M-maaf ... a-aku akan berusaha lebih keras lagi ....”
“Memang seharusnya begitu!”
Set!
Ceter!
__ADS_1
Cambuk kembali bergerak cepat, dan meninggalkan bilur kemerahan di dada Jessica. Wanita itu mengigit bibirnya hingga rasa asin tercecap oleh lidahnya. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang hampir jatuh, kemudian mengerang kuat ketika pria pshycho itu memasukkan sebuah alat ke bagian tubuhnya, membuatnya gemetar hingga hampir kehabisan napas.
“A-alex memang t-tidak menginginkan aku lagi ... tapi ... aku punya sebuah rencana ...,” ujar Jessica dengan napas terengah-engah, berusaha keras mengabaikan getaran di antara pahanya yang membuatnya tersiksa.
“Terakhir kali idemu membuat pria bodoh yang menjadi bidakku itu diamputasi dan mungkin akan segera membusuk di penjara.”
Jessica menggeleng kuat. “K-kali ini pasti akan berhasil.”
“Katakan!”
“Begini ...,” ujar Jessica sambil mendekat ke telinga Nathan. Ia berbisik di telinga pria itu, menyampaikan ide yang baru saja terbersit di kepalanya. Kalau ia harus hancur, maka ia akan menyeret Alex dan istrinya bersamanya.
“Lakukan dengan benar kali ini atau aku sendiri yang akan membereskanmu!” sentak Nathan setelah mendengar ide yang disampaikan oleh Jessica.
“Percayalah, kali ini pasti akan berhasil.”
Ucapan Jessica membuat pria itu menyeringai lebar. Ia kembali memasuki Jessica dengan kasar hingga tangan wanita itu menggapai-gapai ke sembarang arah. Jessica terbatuk ketika lehernya dicekik dengan kuat. Namun, entah mengapa semua penyiksaan dan rasa sakit itu justru membuat gelombang kenikmatan menerjang titik-titik sensitif di tubuhnya. Ia mencapai puncak pelepasannya berkali-kali hingga akhirnya benar-benar tergeletak tak berdaya di atas meja.
“Kalau kamu masih saja tidak berguna, aku tidak bisa menjamin akan tetap memperlakukan kekasihmu dengan baik ... he he he ... kupastikan kamu akan menyaksikanku memuaskannya seperti yang kulakukan pada pelac*ur kecil ini. Mengerti?”
Billy membalas tatapan pria itu dengan sorot yang membara. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia menggeram dan memalingkan wajah, tetapi dua orang pengawal menarik dagunya agar kembali melihat tuan mereka. Pria gila itu masih terus bergerak dengan brutal meski Jessica telah setengah kehilangan kesadarannya, benar-benar membuatnya merasa mual.
Pada titik ini, Billy merasa kasihan pada wanita busuk itu. Namun di sisi lain, ia juga merasa Jessica memang pantas diperlakukan seperti sampah. Entah, ia tidak mau tertalu pusing dengan semua itu. Kini yang harus ia pikirkan adalah bagaimana memberi tahu Alex bahwa lawannya bernama Nathan. Dan, yang lebih penting lagi ... wajahnya ... wajah itu ....
Bagaimana caranya memberitahu hal ini pada Alex? Apa yang harus aku lakukan?
Untuk pertama kalinya, pria itu membiarkan Billy melihat wajahnya. Tidak hanya wajah, tapi juga mempertontonkan seluruh tubuhnya yang ... sudahlah, ini benar-benar akan menjadi mimpi buruk.
Billy menghela napas untuk menukar pasokan oksigennya yang terasa semakin menipis. Dadanya terasa sesak mendengar ancaman pria itu tadi. Ia sungguh tidak bisa membayangkan kalau Lizie yang harus menggantikan posisi Jessica, sedangkan ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menolong kekasihnya itu.
__ADS_1
Billy benar-benar merasa putus asa. Tubuhnya yang lemah tidak melakukan perlawanan apa pun saat dibawa keluar dari ruangan itu. Tatapan matanya yang kosong menjadi gelap ketika sepotong kain diikatkan kuat-kuat melingkari kepalanya. Mulutnya terkatup rapat ketika tubuhnya dilemparkan ke dalam mobil, lalu berkendara entah berapa mil jauhnya.
Wajah Elizabeth yang semakin pucat dan tirus menghantuinya setiap saat. Belum lagi rasa sakit yang harus dialaminya ketika dokter Ana melakukan percobaan. Ia memang tidak sadar ketika semua eksperimen itu berlangsung, tetapi seluruh tubuhnya ngilu dan nyeri ketika semuanya selesai. Belum lagi vertigo dahsyat yang menghancurkan saraf-saraf di kepalanya akibat efek samping dari rangkaian percobaan itu. Billy sungguh merasa tidak sanggup menanggung semuanya lagi. Haruskah ia mengorbankan Alex, atau meninggalkan Lizie ....
Bugh!
“Uh!” erang Billy ketika tubuhnya terempas dengan cukup keras ke atas tanah.
Tak lama kemudian, ia mendengar deru mobil menjauh. Billy bangun dengan linglung, pikirannya benar-benar telah terdistorsi. Ia menarik lepas penutup matanya dan menajamkan penglihatan untuk mengawasi keadaan sekitar. Sudah sangat gelap, tapi pria itu masih bisa mengenali dan menyadari bahwa ia telah berada di halaman rumahnya. Ia tertegun sejenak.
Kenapa kali ini rasanya lebih cepat sampai? Apakah bedeb*ah gila itu mempunyai markas di pusat kota? Ya. Pasti begitu. Atau paling tidak, ada sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat singgah sementara ... sial, bedebah itu rupanya cukup dekat bahkan mungkin pernah berkeliaran di tengah kota ....
Billy merogoh saku celananya untuk mengambil kunci dan membuka pintu. Ia berjalan dengan tertatih ke dalam ruangan sepi itu. Namun, baru saja menutup pintu dan hendak masuk ke kamar, sesuatu mengigit bagian belakang kepalanya. Pria itu belum sempat memberikan reaksi ketika tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
“Hati-hati,” ujar seorang pria berpakaian serba hitam pada dua orang rekannya yang muncul dari dalam kamar Billy , “Antarkan dia ke laboratorium dokter Ana,” lanjutnya lagi seraya memasukkan kembali jarum suntik berisi serum obat bius ke dalam wadahnya.
“Baik, Kapten,” jawab dua orang pria yang sedang mengangkat kaki dan tangan Billy dengan hati-hati. Mereka segera membawa tubuh itu menuju garasi.
Pria yang tadi menyuntikkan obat bius mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan. Hanya terdengar satu kali nada tunggu sebelum seseorang menjawab teleponnya.
“Apakah jalur sudah aman untuk dilewati?” tanya pria itu.
“Clear, Captain.”
“Baik. Tetap kawal sampai di markas!” perintah pria itu sebelum memutuskan sambungan telepon.
Ia bergegas menyusul ke garasi dan masuk ke dalam mobil yang tadi membawa mereka bertiga ke rumah Billy. Setelah menyalakan mesin, ia memberi tanda agar dua orang rekannya segera mengikuti. Suara ban mobil yang berdecit memecah keheningan malam, berpacu dengan waktu yang seolah tidak pernah cukup.
Setiap orang menjalankan tugas dan misi mereka sebaik mungkin. Dua kubu yang saling berseberangan sama-sama menyusun langkah, berharap lawan akan terkecoh dan terperangkap. Namun, siapakah yang akan lebih dulu jatuh? Hanya waktu yang bisa menjawabnya ....
__ADS_1
***