Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 35


__ADS_3

Suara jeritan, percakapan samar, dan letusan senjata terdengar tumpang tindih, disusul getaran tanah yang terjadi akibat ledakan misil. Lorie memindai sekelilingnya dengan gugup. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga, ia tidak bisa melihat dari mana semua kebisingan itu datang. Kegelapan yang pekat membuatnya sesak napas.


Aroma anyir yang pekat disertai rasa lengket yang membanjiri tubuhnya membuatnya semakin panik. Deru napasnya memburu seperti mesin lokomotif yang mengentak berkali-kali, memaksa jantungnya untuk berkerja secara maksimal.


“Lorie.”


Raymond menepuk lengan Lorie pelan ketika melihat detak jantung Lorie di layar monitor meningkat drastis. Kening wanita itu dipenuhi peluh yang meluncur satu-satu melewati pelipis dan menghilang di antara helaian rambut yang meriap di atas bantal.


“Lorie! Hey ....” Raymond mengusap keringat di wajah Lorie dan menepuk pipinya beberapa kali.


Lorie tersentak bangun dengan napas terengah. Tanpa sadar tangannya mencengkeram erat lengan Raymond yang berada di dekatnya. Ia mengerjap dan menatap ke sekeliling seperti orang yang tersesat, kehilangan orientasi ruang dan waktu.


“Hey, jangan takut ... kamu aman, jangan takut ...,” bujuk Raymond sambil mengusap pelan punggung tangan wanita itu. Ia tidak mengeluh sama sekali meski kuku-kuku Lorie menancap erat di permukaan kulitnya hingga menimbulkan guratan kemerahan dan lekukan yang dalam.


Perlahan detak jantung dan irama napas Lorie menjadi stabil. Ia melepaskan cekalannya dan bersandar di kepala dipan. Mimpi buruk itu menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata, dan itu mulai mengikis akal sehatnya. Ia kadang tidak bisa membedakan antara realita dan bunga tidur.


“Minumlah.” Raymond menydodorkan segelas air dingin ke arah wanita itu.


Lorie membuka mata dan menatap tajam ke arah pria yang tidak pernah bosan untuk datang meski ia sudah mengusirnya berulang kali.


“Apa yang kamu lakukan di sini sepagi ini?” tanyanya dengan nada tidak bersahabat.


“Menjengukmu,” jawab Raymond dengan santai, seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan sikap Lorie yang apatis. Ia menyodorkan gelas semakin dekat ke bibir Lorie.


“Minumlah. Ini akan membantu membuatmu merasa lebih baik,” imbuhnya.


Lorie memasang wajah kesal dan mengambil gelas itu, lalu meminum isinya sampai habis.

__ADS_1


“Bagus,” ucap Raymond seraya mengambil kembali gelas itu dan meletakkannya di atas meja.


“Kenapa masih berada di sini?” tanya Lorie ketika melihat Raymond kembali berdiri di sisi ranjangnya. “Berapa kali aku menyuruhmu pergi?”


“Sudah kukatakan, menjengukmu.”


Lorie memutar bola matanya dan mencibir. Ia benar-benar sudah tidak tahan.


“Ada banyak perawat dan dokter di sini. Sikapmu ini membuatku curiga, apakah kamu ingin mengambil keuntungan dariku saat aku tidak ingat apa pun? Aku bahkan ragu apakah memiliki teman yang menjengkelkan sepertimu,” gerutunya.


Alih-alih marah mendengar tuduhan itu, Raymond justru tersenyum melihat wanita di hadapannya itu mengomel. Ini adalah pertama kalinya Lorie mengucapkan kalimat yang panjang sejak dia siuman. Dan itu adalah pertanda bagus.


Pria itu menarik kursi agar semakin dekat dengan tempat tidur, kemudian duduk dengan tenang.


“Kalau aku ingin mengambil keuntungan, aku sudah melakukannya saat kamu belum sadar,” balasnya.


“Aku tidak ingin bicara denganmu. Pergilah,” ucap Lorie.


Lorie menatap langit-langit dan tidak mau memedulikan pria itu.


“Lorie, mungkin kamu tidak ingat, tapi aku minta maaf ... aku ...."


Drrrt ... drrrt ... drrrt ....


Suara getaran ponsel membuat ucapan Raymond terhenti. Ia merogoh dari saku bajunya dan mengeluarkan benda itu, terpana beberapa detik sebelum menyentuh bulatan hijau yang bergerak naik turun di layar.


“Alice,” sapanya.

__ADS_1


“Halo, Sayang. Aku ada di rumah sakit untuk menjenguk Lorie. Apa dia sudah sadar?”


“Ya.”


“Bagus sekali! Aku membawakan sarapan untuknya. Tunggu, ya. Aku segera datang.”


Panggilan itu terputus sebelum Raymond sempat membalas. Ia menatap Lorie dengan canggung dan mengusap wajahnya untuk menutupi ekspresi tidak berdaya yang mungkin akan terlihat. Akhir-akhir ini Alice semakin baik dan semakin berinisatif, membuatnya semakin merasa bersalah kepada tunangannya itu, juga kepada Lorie.


“Kekasihmu datang lagi?” tanya Lorie.


“Hum. Dia—“


“Raymond! Lorie!”


Kedua orang itu serempak menoleh ke arah gadis berambut cokelat yang masuk dengan bersemangat sambil membawa dua buah bungkusan di tangannya.


“Lihat apa yang aku bawa untuk kalian!” serunya lagi dengan mata berbinar cerah. “Kalian pasti belum sarapan, ‘kan? Ini adalah omelet dan daging asap paling enak yang aku temukan. Kalian harus mencobanya.”


Gadis itu meletakkan barang bawaannya di atas meja dan membukanya. Dalam sekejap aroma telur dan daging asap memenuhi udara dalam kamar.


Raymond bangun dan menghampiri kekasihnya sambil berkata, “Terima kasih, Sayang. Aku memang sedikit lapar.”


Alice tersenyum lebar dan bergayut di lengan Raymond, kemudian tanpa aba-aba ia berjinjit dan mendaratkan satu kecupan di bibir pria itu.


“Aku sangat rindu,” gumamnya pelan, lalu buru-buru melirik ke arah Lorie dengan malu-malu.


“Maaf, aku lupa ada Lorie di sini,” bisiknya lagi dengan wajah yang merona merah muda.

__ADS_1


Raymond tersenyum tipis dan mengusap wajah Alice. Ia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.


***


__ADS_2