Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Di Hubungi Dokter Liam


__ADS_3

Di saat Gio akan masuk ke dalam mobil sebuah tangan melingkar sempurna di perut laki-laki itu sehingga membuat Gio tersentak kaget. Karena baru kali ini ada orang yang berani memeluk seorang Giorgio Ravarendra di tempat parkiran seperti saat ini. Dan tidak lama Gio mencoba melepaskan tangan yang melingkar sempurna itu. Namun, detik berikutnya laki-laki itu benar-benar kaget, karena rupanya yang memeluknya dari arah belakang adalah Sera adik angkatnya.


"Kak Gio mau kemana?" tanya Sera dengan bibir yang mengulum senyum simpul. Karena gadis 17 tahun itu merasa sangat senang setelah 10 bulan dirawat. Akhirnya gadis itu dinyatakan sembuh total dari penyakitnya. Membuat Sera begitu senang dan setelah mendapat informasi dari Lydia kalau Gio ada di Spanyol. Saat itu juga tanpa berpikir panjang Sera datang mencari sang kakak angkatnya itu. "Aku kangen sama kak Gio, tapi kenapa setelah kakak menikah kakak seolah-olah lupa denganku?" tanya Sera yang masih saja betah memeluk tubuh Gio.


"Sera, apa kamu sudah diperbolehkan untuk pulang?"


"Jawab aku kak Gio, aku butuh jawaban bukan pertanyaan," ujar Sera yang ternyata gadis itu juga sudah tidak idiot lagi. Dan sekarang ia menjadi seperti gadis normal pada umumnya. Namun, perasaannya pada Gio kini kian menjadi-jadi. Di tambah ia sekarang mendapat dukungan dari Lydia, itu yang membuat panah asmara pada hati gadis itu semakin berkobar-kobar bagaikan si jago merah yang siap melalap ranting kering.


"Sera, lepaskan dulu. Karena kakak saat ini sedang terburu-buru, dan untuk pertanyaan kamu itu nanti saja kakak jawab." Gio lalu dengan paksa melepaskan pelukan adik angkatnya itu. "Kakak mau kembali ke Indonesia Sera. Jadi, bagaimana apa kamu mau ikut pulang atau tetap di sini?"


"Ikut ...," jawab Sera sambil berjinjit dan langsung saja men ci um pipi Gio. "Ayo kak, kita pulang saja karena aku juga sudah sangat rindu dengan rumah kita," lanjut Sera dan sekarang gadis itu malah bergelayut manja di lengan Gio.

__ADS_1


Dan tanpa Gio tahu, ternyata ada yang diam-diam memotret moment Sera saat memeluk serta men ci um Gio tadi.


"Kakak sudah tidak sayang lagi dengan aku?" Sera bertanya lagi di saat gadis itu masih betah bergelayut manja.


"Sera, adik kakak. Masuk dulu karena Gavin dari tadi sudah menghubungi kakak, meminta untuk cepat-cepat ke bandara. Karena sebentar lagi pesawat yang akan kita tumpangi akan berangkat dalam waktu kurang dari satu jam," kata Gio memberitahu Sera. "Kakak harap kamu mengerti, karena saat ini rumah tangga kakak juga sedang ada di ambang ke hancuran." Gio tidak bermaksud memberitahu Sera. Namun, hanya dengan cara itu Gio memberikan pengertian pada gadis itu. "Sekarang masuk ya, supaya kita bisa langsung berangkat." Gio langsung mengacak-ngacak rambut Sera seperti yang dulu sering di lakukan oleh laki-laki itu dulu.


Sera lalu mendongak menatap sang kakak, karena kebetulan gadis itu hanya sedada Gio. "Aku sayang kakak," ucap Sera, yang kemudian terlihat masuk ke dalam mobil.


***


Di Indonesia tepat pvkvl 9 malam, Tara mendapat notifikasi dari nomor yang tidak dikenal. Dan langsung saja Tara melihat deretan foto Gio dan Sera.

__ADS_1


"Jadi benar, Gio pergi ke luar Negeri hanya untuk bersenang-senang," gumam Tara lirih. Sambil memegang da danya yang terasa sangat sesak. "Apa Gio selama ini cuma mempermainkan perasaanku saja? Apa dia juga memanfaatkan kebaikanku dan kepolosanku ini?" Tara bertanya pada dirinya sendiri. Dan perlahan rasa percaya pada sang suami kini langsung saja mulai memudar. "Apakah memang ini rencana Gio? Membiarkan aku jatuh cinta dan setelah aku jatuh dalam pelukannya, dia akan memperlakukan aku seperti saat ini."


Saat Tara masih saja berbicara pada dirinya sendiri sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal menghubunginya. Mula-mula wanita itu tidak mau mengangkat panggilan itu. Namun, entah mengapa tangan Tara terulur dan dengan cepat menggeser layar itu ke atas pada benda pipihnya itu.


"Halo Tara, apa kabar?"


Tara kaget bukan main karena yang meneleponnya itu adalah dokter Liam, laki-laki yang beberapa hari lalu di sebut-sebut oleh sang ayah. Dan saat ini rasanya Tara ingin memutuskan panggilan itu. Akan tetapi, rasanya wanita itu tidak tega di saat ia mengingat setiap cerita menyedihkan Liam dari sang ayah.


"Sudah lama kita tidak berjumpa, ternyata kamu makin cantik saja Tara," celetuk Liam sambil tersenyum dan memperlihatkan mata sipit seorang dokter itu. "Hm, ngomon-ngomong apa mata kamu masih sakit? Karena kata Pak Arzan beberapa hari yang lalu mata kamu sakit."


Tara tidak bersuara, wanita itu hanya bisa mengangguk. Karena pikirannya saat ini tentang foto Gio dan Sera saja. Namun, detik berikutnya Tara terdengar seperti menghela nafas dengan kasar.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Liam. Karena Liam tahu saat ini pasti Tara sedang ada masalah. Dapat dilihat dari raut wajah gadis itu yang saat ini terlihat sendu. "Sini cerita, siapa tahu aku bisa membantumu." Meskipun deretan kalimat yang dilontarkan oleh Liam tidak ada satupun yang dibalas oleh Tara. Namun, laki-laki itu terlihat tidak marah ataupun sebagainya. Justru dokter itu semakin tertarik dengan Tara yang sekarang, karena ia pikir ini adalah satu tantangan untuk menaklukkan hati Tara. Meskipun Liam tahu status Tara saat ini adalah istri orang. Namun, dokter itu sama sekali tidak peduli mengingat kata Arzan kalu Tara sebentar lagi akan menjadi janda.


__ADS_2