
"Selamat pagi tante Lydia," sapa Tika yang tiba-tiba saja datang ke rumah kedua orang tua Gio.
"Eh ada Tika, sini sayang duduk dulu di sebelah tente," ucap Lydia yang menepuk-nepuk sofa di sebelahnya saat ini. Dan wanita itu terlihat begitu ramah sekali dengan Tika. Seperti mereka sudah kenal satu sama lain bukan seperti mereka baru kenal. "Kamu apa kabar, Tika? Lama ya, kita tidak bertemu, karena kamu sih, tidak pernah datang ke rumah tante." Mimik wajah Lydia sengaja di buat cemberut.
Tika meraih tangan Lydia dan memegangnya sambil menjawab pertanyaan ibunya Gio itu. "Maaf tante, belakangan ini aku sangat sibuk, tante tahu sendiri 'kan, kalau Tara tinggal di rumah Mama hampir 1 bulan, dan selama itu juga aku harus menjadi budaknya Tara, dan jika aku tidak mengerjakan semuanya, dia pasti akan laporin aku ke Mama dan Papa." Tika rela berbohong dan menjelek-jelekkan nama sang adik, hanya demi mengambil hati Lydia supaya ibunya Gio itu menjadi semakin membenci Tara. Memang ini adalah tujuan utama wanita yang telah tega memfitnah sang adik. "Yah, jika tidak maka aku akan mendapat hukuman dari Papa, entah itu mengepel rumah itu sendirian atau malah menjadi kang rumput dadakan," ujar Tika berdusta. Namun, wanita itu terlihat sangat luar biasa sekali sehingga mimik wajahnya bisa ia rubah menjadi sesendu mungkin, supaya aktingnya terlihat menjiwai sekali agar Lydia percaya pada dirinya. Kalau memang benar yang jahat itu adalah Tara bukan dirinya. Tapi faktanya dia lah wanita yang sangat jahat itu.
"Tara memang sangat keterlaluan!" geram Lydia yang terlihat sangat kesal hanya karena cerita palsu dan karangan yang di buat-buat oleh Tika. "Selain mandul, rupanya dia sangat jahat juga," sambung Lydia.
"Bagiku itu semua tidak masalah tante, yang terpenting Adikku Tara merasa nyaman sewaktu dia di rumah Papa dan Mama," timpal Tika. Bersorak-sorai karena ia mendengar serta melihat bagaimana tanggapan dan reaksi Lydia saat ini. "Tante, maafkan Tara ya, karena belum bisa memberikan Gio keturunan," ucap Tika yang masih saja melanjutkan aktingnya. "Tante yang meminta cucu padanya, tapi Tara malah mengamuk dan hampir saja melukai aku tante, ini buktinya," sambung Tika yang memperlihatkan bekas cakaran di tangan serta lehernya. Namun, siapa sangka cakaran itu rupanya bekas kukunya sendiri. Iya, Tika rela melukai dirinya sendiri dan memfitnah Tara bahwa sang adik yang telah melakukan itu semua pada dirinya.
"Gio mempertahankan wanita yang salah!" desis Lydia. "Andai saja, tante tahu begini sifat asli Tara. Maka tante waktu itu tidak akan pernah mau kalau Tara akan menjadi menantu tante. Di depan dia begitu sangat baik, tapi dibelakang kelakuannya, sungguh ini semua sangat di luar dugaan."
__ADS_1
"Bagus, aku suka kalau tate Lydia semakin membenci Tara, aku sangat-sangat suka," gumam Tika di dalam benaknya. Karena ia merasa kalau Lydia lebih percaya pada dirinya sendiri. Sehingga meskipun kebohongan yang ia katakan namun ibunya Gio itu akan tetap percaya. Membuat Tika semakin menjadi-jadi dalam membuat cerita karangan.
"Tante harus berterima kasih padamu Tika, karena jika bukan karena dirimu pasti tante selalu saja akan tertipu dengan wajah lugu dan polosnya Tara. Sehingga tante dengan mudahnya tertipu dengannya. Padahal kelakuannya bikin tante mengelus dada, masih ada orang yang orang seperti dia yang membenci kakak kandungnya sendiri sehingga sering membuat cerita yang tidak benar tentang kamu Tika."
"Kalau aku tidak mempermasalahkan itu semua tante, karena aku tidak mau kalau sampai Tara membuat perhitungan denganku. Dan aku mohon sama tante tolong jaga rahasia ini, cukup hanya kita berdua yang tahu," kata Tika.
Lydia mengelus punggung tangan Tika. "Avantika, kamu tenang saja karena ini semua hanya kita yang tahu," timpal Lydia. "Sekarang ayo, ikut sarapan sama tante dan yang lainnya," sambung Lydia yang mengajak Tika untuk ikut sarapan bersama. Karena saat ini ibunya Gio itu percaya kalau Tika benar-benar wanita yang baik-baik bukan seperti Tara.
Di rumah Arzan, terlihat Yana terus saja menangis karena sampai sekarang nomor Tara tidak bisa dihubungi sama sekali. Membuat wanita yang sudah bergelar sebagai seorang ibu dari dua orang anak itu tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Pa, kemana Gio membawa putri kita pergi?" tanya Yana sambil terus saja menangis. Dan kini suara wanita itu mulai terdengar serak. "Pa ...," panggil Yana, tatkala melihat Arzan hanya diam saja.
__ADS_1
"Ma, Mama tenang saja saat ini Papa masih berusaha mencari keberadaan Tara. Maka dari itu, tolong Mama tenangkan diri dulu. Karena Papa pasti akan menemukan keberadaan putri kita itu secepatnya, Papa janji akan hal itu," ucap Arzan. Yang berharap agar sang istri bisa sedikit tenang, setelah tadi mendengar ucapannya. "Mama lebih baik istirahat saja ya, karena ini sudah larut malam, dan Papa mau melihat Tika dulu apakah anak itu sudah tidur apa masih sibuk dengan laptopnya," sambung Arzan yang terlihat mulai berdiri dari duduknya. Karena memang benar saat ini Arzan mau melihat Tika.
Yana terlihat mengangguk sambil mengusap air mata menggunakan tisu. "Papa jangan lama-lama karena Mama malam ini butuh pelukan hangat dari Papa," ujar Yana. Sebab wanita itu akan bisa tidur dengan nyenyak jika Arzan memeluknya ketika mereka tidur.
"Iya Ma, sekarang Mama cuci muka dulu sana," kata Arzan yang kemudian pergi.
*
Di pagi yang cuacanya sangat tidak bersahabat, Arzan malah mendapat informasi kalau Gio dan Tara akan pergi ke Spanyol hari ini juga. Membuat laki-laki itu merasa sangat marah karena ia tidak terima kalau Gio akan membawa Tara pergi jauh darinya.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku pokoknya harus menghalangi Gio, agar laki-laki itu tidak membawa putriku ikut serta bersamanya," gumam Arzan pelan. Karena saat ini sang istri masih terlihat tertidur pulas di atas ranjang. Membuat laki-laki itu tidak berani bersuara, sebab ia takut Yana nanti akan bangun mengingat tadi malam wanita itu bisa memejamkan mata pvkvl 2 dini hari. "Tara, Papa akan membawa kamu pulang kembali ke sini 'Nak, karena Papa tidak bisa melihatmu hidup bersama Gio di saat orang tua laki-laki itu terus saja menoreh luka di hatimu," lanjut Arzan. Meski laki-laki itu selalu terlihat keras dan sering membentak kedua putrinya.
__ADS_1
Namun, percayalah Arzan sama seperti ayah-ayah yang lain pada umumnya, di mana ia ingin yang terbaik untuk Tika dan Tara. Meskipun Tika selalu beranggapan kalau Arzan dan Yana selalu membeda-bedakan dirinya dan Tara dalam mendapat kasih sayang yang berbeda.