Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 32


__ADS_3

Saat Raymond kembali dari makan siang, Alex dan Billy sudah tidak ada dalam ruangan itu. Ia berjalan menghampiri ranjang Lorie dan duduk di kursi yang sengaja ia letakkan di sana.


“Hey, makanan di restoran sebelah cukup enak. Aku akan mentraktirmu makan siang kapan-kapan. Kamu boleh memesan semuanya ... aku akan membantumu menghabiskannya ....”


Raymond meraih jari-jari Lorie yang tampak pucat dan mengusapnya pelan. Selama 12 hari ini, hampir setiap saat ia menemani wanita itu dan berbicara dengannya meski tanpa reaksi apa pun. Sebagai seorang dokter, ia tahu dengan jelas harus bersikap bagaimana terhadap pasien yang koma. Oleh karena itu, ia mengucapkan setiap kata penghiburannya dengan sungguh-sungguh.


“Kita belum sempat jalan-jalan lagi di Venice, kamu belum menepati janjimu untuk mentraktirku. Aku juga ... Lorie ... ada yang ingin aku bicarakan denganmu, kumohon ... cepatlah sadar ... jangan menyiksaku seperti ini. Aku ....”


Raymond tersentak ketika merasakan gerakan halus dari dalam genggamannya. Ia membuka kepalan tangannya dan menatap jari-jari mungil yang dipegangnya itu.


“Lorie?” panggil Raymond. Ada sedikit harapan, tapi juga sedikit keraguan dalam nada suaranya. Ia jelas merasakan jari-jari Lorie bergerak tadi.


“Apa kamu bisa mendengarku? Beri aku tanda, gerakkan jarimu. Apa kamu—“


Tuk.


Raymond hampir melompat kegirangan saat melihat jari telunjuk Lorie mengetuk telapak tangannya dengan sangat pelan. Terlalu pelan hingga ia merasa itu sedikit tidak nyata.


Ia meraih telepon di atas meja dan menekan angka 1.


“Dokter! Dokter! Pasien memberi reaksi! Cepat ke sini! Pasien memberi reaksi!”

__ADS_1


...***...


Suara dengungan yang timbul tenggelam itu membuat gendang telinga Lorie terasa sakit. Ia merasa seperti sedang diimpit oleh tembok raksasa dari sisi kanan dan kiri hingga seluruh pembuluh darah dalam tubuhnya akan pecah kapan saja. Setiap tarikan napasnya membuat paru-parunya seolah sedang dirajam ribuan pisau, benar-benar sangat menyiksa hingga kadang ia merasa ingin mati saja.


Namun, setiap kali ia berpikir untuk menyerah, ada kekuatan dari luar tubuhnya yang membantunya bertahan. Setiap kali ia merasa seolah tenggelam dan gemetar kedinginan, sebuah kehangatan melingkupi jemarinya dan menjaganya agar tetap sadar.


Suara itu ... aroma itu ... ia merasa tidak asing, tapi juga tidak bisa mengenalinya. Rasanya seperti ada memori yang tertinggal sekaligus terlupakan.


Lorie ingin membuka mulutnya dan mengatakan bahwa ia merasa tidak nyaman. Namun, sekuat apa pun ia mencoba, hanya rasa sakit yang mendera leher dan tenggorokannya. Sangat sakit. Kering dan pedih, seolah ia baru saja memakan segenggam pasir yang kering dan panas.


Lalu sekejap kemudian, seberkas cahaya menerobos masuk di antara kelopak matanya. Ia berkedip satu kali, lalu pupilnya melebar dan menyempit untuk beradaptasi dengan cahaya yang silau itu.


“Baik, Dokter. Terima kasih.”


Lorie merasa tubuhnya seperti sedang mengapung di atas permukaan air sehingga percakapan di sampingnya itu seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. Ia lalu membuka mulut dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengucapkan satu kata.


“A-ir ....”


Tidak ada suara yang terdengar, bahkan oleh telinganya sendiri. Namun, sesaat kemudian ia bisa merasakan seseorang mendekat dan meletakkan sesuatu di ujung bibirnya. Instingnya memberi tahu untuk membuka mulut dan minum. Akan tetapi, untuk berusaha memiringkan kepala saja sudah membuatnya terengah-engah.


Saat Lorie benar-benar sudah putus asa karena tidak bisa mendapatkan air untuk membasahi kerongkongannya, ia merasa ada sesuatu yang lembab dan basah menempel di bibirnya. Ia langsung menyesap air yang menetes dari gumpalan benda lunak yang menempel di bibirnya. Ia menyesap dengan rakus setiap kali benda itu ditempelkan di bibirnya.

__ADS_1


“Pelan-pelan ....”


Suara itu ... aromanya ...


Lorie mengernyit. Di mana ia pernah mencium aroma musk dan suara yang familiar itu?


“Apa ada yang sakit? Di mana yang tidak nyaman?”


Sapuan lembut di punggung tangannya membuat Lorie teringat akan kehangatan yang selalu melingkupinya setiap kali ia merasa sendirian dan hampir menyerah. Suara yang terus memintanya untuk terus berjuang karena ... ia memiliki janji yang belum ditepati? Atau semacam sesuatu yang harus dibereskan?


Lorie mengerang pelan. Mencoba untuk mengingat saja sudah menguras seluruh tenaganya. Sekarang ia hanya ingin tidur.


Hanya ingin tidur ....


“Beristirahatlah, aku akan menemanimu di sini.”


Suara derit sesuatu yang ditarik terdengar hampir bersamaan dengan gerakan ringan di samping tubuhnya. Sesaat kemudian, Lorie bisa merasakan kehangatan kembali menyelimuti jemarinya dan aroma musk yang semakin jelas menguar di udara.


Wanita itu men*desah pelan sebelum kesadarannya perlahan digulung oleh rasa kantuk yang sangat.


***

__ADS_1


__ADS_2