
Kantor cabang Jotuns Corps, Dubai.
Lorie berjalan masuk ke ruangannya dan duduk di kursi. Ia membuka tas dan mengeluarkan hasil USG yang baru saja dilakukan satu jam lalu. Secara samar sulas senyum membayang di wajahnya. Kata dokter, bayinya lumayan sehat. Ucapan itu membuat Lorie hampir menangis saat itu juga.
Sejujurnya, ia tidak terlalu berharap bahwa bayinya akan bertahan sampai sejauh ini. Mengingat semua kejadian yang menimpanya sebelum tahu dirinya hamil, juga obat-obatan yang masuk ke dalam aliran darahnya, sepertinya mustahil. Akan tetapi, lihatlah keajaiban kecil yang tumbuh dengan kuat dan berani dalam rahimnya ini.
Ya, bayi ini adalah keajaiban.
Pelupuk mata Lorie memanas. Bertahun-tahun ia hidup sendiri, tidak mengenal kedua orang tuanya, tidak tahu apakah memiliki adik atau kakak. Semua ingatan masa kecilnya melebur bersama kerasnya hidup yang menempanya selama bertahun-tahun. Meski ada Tuan Alex, Billy, Elizabeth, dan Ana, tapi tetap saja ... ia menginginkan keluarganya sendiri. Lalu, muncullah janin keras kepala yang memilih untuk terus bertahan meski di dalam rahim yang lemah. Lorie merasa sangat bersyukur.
“Anakku, kelak jika kamu lahir ... Mama tidak akan sendiri lagi ....”
Senyuman di wajah Lorie tampak semakin dalam dan hangat. Ia mengusap perutnya dengan sangat hati-hati. Tanpa terasa sudah hampir tiga bulan. Waktu berjalan begitu cepat, tapi Lorie masih merasa bahwa itu kurang cepat. Ia ingin bayinya segera lahir, ingin melihat bagaimana wajahnya, ingin mendengar suara dan tangisannya.
“Anak baik, tumbuh dengan sehat, ya ... Mama sangat mencintaimu.”
Wanita itu mendesah puas dan memasukkan kembali hasil USG ke dalam tas. Ia bersiap untuk memeriksa laporan yang sudah diletakkan di atas meja kerjanya. Namun, baru saja menunduk, suara ketukan pintu terdengar keras dan sedikit terburu-buru.
“Masuk.”
Wajah Jenty menyembul dari balik pintu. Gadis itu berderap masuk dengan wajah yang terlihat sedikit cemas.
“Ada apa?” tanya Lorie ketika melihat asistennya itu seolah kesulitan untuk menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
“Itu ... ada Tuan Daniel di depan.”
“Tidak mau pergi lagi?”
“Eng. Meski saya mengatakan Anda belum datang, dia bersikeras untuk menunggu,” jawab Jenty yang merasa tak berdaya.
Jangankan Nona Lorie, ia sendiri mulai kesal dengan tingkah pria itu. Sudah hampir satu minggu dia menguntit ke mana pun. Juga datang dan pergi sesuka hatinya ... entah pagi atau siang, seolah kantor ini adalah miliknya juga.
“Begitu ....”
Lorie terpekur menatap lembaran kertas di hadapannya. Ia sendiri tidak tahu mengapa Daniel sangat bersikeras mengejarnya, padahal ia sudah mengeluarkan semua kata-kata buruk dan bersikap sangat menjengkelkan terhadap pria itu, tapi rupanya itu semua tidak mempan.
Munginkah hanya rasa penasaran sesaat?
Lorie tidak merasa memiliki pesona sekuat itu sehingga mampu membuat pria seperti Daniel tergila-gila kepadanya. Lagi pula mereka baru pertama kali bertemu, mengapa pria itu sangat gigih? Itu sedikit tidak masuk akal.
Lorie menghela napas dan menahan dorongan untuk berteriak. Hormon kehamilan membuat emosinya sangat tidak stabil, dan Daniel ini ... benar-benar sudah mendesak batas kesabarannya hingga hampir tak bersisa lagi.
Tunggu.
Kehamilan.
“Suruh dia masuk,” ucap Lorie. Matanya berpijar seperti matahari. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat bersemangat ingin bertemu dengan Daniel.
__ADS_1
“Baik.” Jenty bergegas keluar dan menyampaikan perintah Lorie kepada Daniel.
Tak lama kemudian, pria itu masuk dengan senyum lebar yang tak lagi tampak menjengkelkan di mata Lorie. Kali ini, ia yakin bisa mengusir pria itu untuk selamanya.
“Apa yang membawa Anda datang ke kantorku sepagi ini, Tuan Daniel?” tanya Lorie setelah pria itu menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan santai.
“Aku sedang senggang akhir-akhir ini, sangat bosan,” jawab Daniel dengan acuh tak acuh. “Dan lagi, sudah kukatakan berapa kali, panggil Daniel saja, tidak perlu pakai Tuan. Itu terdengar sangat kaku.”
Lorie mengabaikan protes itu dan berkata, “Sayang sekali, tapi pekerjaanku sangat banyak. Kalau Anda terus menggangguku dengan hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, itu akan membuatku terpaksa lembur setiap hari.”
Terakhir kali mereka pergi makan siang bersama, ia bersedia bersikap non-formal karena mengira pria itu tidak akan muncul lagi. Namun, nyatanya pria itu semakin mirip dengan lintah yang nakal, menempel erat dan tidak mau pergi. Jangan salahkan ia harus menggunakan cara yang keras untuk mengusirnya.
Daniel tersenyum sangat lebar, seolah sindiran Lorie itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan membalas, “Jangan cemas, ada aku di sini untuk menemanimu.”
Lorie memutar bola matanya dengan kesal.
“Tentu akan lebih baik kalau Anda tidak terus mengganggu agar aku bisa pulang tepat waktu. Kata dokter, tidak baik bagiku untuk bekerja terlalu keras.”
Wajah Daniel berubah serius.
“Dokter? Kamu sakit?” tanyanya.
“Tidak. Aku hamil, dan rahimku lemah, jadi tidak boleh terlalu lelah. Kalau Anda terus mengganggu seperti ini, takutnya bayiku tidak akan kuat. Dan aku akan menyalahkanmu seumur hidup kalau itu sampai terjadi.”
__ADS_1
***
like woooy, likeee 🤣🤣