Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 98: Nyalakan Kameranya


__ADS_3

Mata Alex memicing di depan teropong. Ia mengawasi hamparan daratan di bawahnya. Helikopter sudah menyisir semua wilayah yang mungkin dilewati oleh istrinya, tetapi tak ada satu pun tanda-tanda keberadaan gadis itu. Para pengawalnya yang mencari lewat jalan darat pun belum memberi kabar. Alex benar-benar kalut.


“Tuan, nyonya Brenda menelepon ke Spring Mountains, beliau dan nyonya Kinara selamat. Sekarang mereka berada di Danbury!” seru Lorie ketika mendapat rekaman pembicaraan dari kediaman keluarga Smith.


“Danbury?” Alex terkejut. Ia tak menyangka Kinara akan berkendara sejauh itu. “Putar halauan!”


Pilot mengubah titik koordinat pencarian. Beberapa detik kemudian, helikopter bermanuver dan melakukan rotasi 180 derajat. Kendaraan itu terangkat ke atas dan melaju dengan kecepatan maksimal ketika tuas ditarik.


“Tunggu sebentar. Nyonya Kinara mengatakan agar Anda tetap di rumah. Ini hanya jebakan untuk memancing Anda keluar,” ujar Lorie. Ia masih mendengarkan suara Brenda yang terbata-bata dari headset.


“Abaikan gadis bodoh itu. Kita harus bergegas!” sela Alex dengan kedua tangan terkepal erat.


“Tuan, kali ini saya sependapat dengan nyonya, sebaiknya Anda kembali saja. Saya akan menanganinya dengan–“


“Diam dan perintahan pasukan untuk menuju Danbury!”


Rahang Alex mengeras. Ia memelototi Lorie hingga nyali gadis itu menciut.


“Di mana tepatnya mereka berada?” tanya Alex setelah berhasil mengatur emosinya.


“Nyonya Brenda berada di sebuah minimarket bersama seorang pelayannya. Mereka berpisah dengan nyonya Kinara di sana.”


“Apa yang dipikirkan oleh gadis bodoh itu? Dia pikir siapa dirinya? Super hero? Benar-benar ceroboh,” gerutu Alex hampir menyerupai bisikan. Ia tahu dengan jelas apa yang dilakukan oleh istrinya. Gadis itu pasti mengorbankan dirinya untuk menjadi umpan. Benar-benar bodoh dan ceroboh.


“Tuan?” seru Lorie nada tak percaya. Ia memperbesar tampilan layar monitor dan menunjukkan berita terbaru yang muncul di internet pada Alex.


Penyerangan di kota kecil Danbury, Connecticut.


“Apa yang terjadi?”


Alex meraih laptop di pangkuan Lorie dengan panik. Rasa cemasnya semakin bertambah ketika melihat jasad yang baru saja ditarik keluar dari sebuah mobil kuning yang ringsek. Meski hanya sekilas, Alex sempat mengenali tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.


Benji. Apa yang dilakukannya di sana? Kenapa dia mati? Siapa yang membunuhnya? Bagaimana dia bisa tahu keberadaan Kinara? Apakah pemuda brengs*k itu mengikuti Kinara sampai di sana? Di mana Kinara sekarang? Apakah dia tertangkap? Sial!


Kepala Alex rasanya hampir meledak ketika ribuan pertanyaan berputar dalam benaknya. Belum lagi semua spekulasi dan praduga yang membuatnya hampir gila.


“Berapa lama waktu kita sampai di Danbury?”


“Lima menit lagi, Tuan,” jawab Lorie. Keningnya berkerut dalam. Ia sama cemasnya dengan sang tuan.


Jeda lima menit berarti segalanya. Semua bisa saja terjadi dalam waktu lima menit. Lagipula, sejak direkam hingga tayang dalam saluran berita lokal, semua peristiwa yang baru saja mereka lihat di layar monitor sekarang ini mungkin saja telah terjadi sejak 15 sampai 20 menit yang lalu. Lorie menggeram putus asa. Lagi-lagi mereka terlambat. Jika orang-orang itu berhasil menangkap Kinara, berarti kini gadis itu bisa berada di mana saja.


Alex memutar ulang berita di laptop dan menontonnya dengan teliti, berharap bisa menemukan sosok istrinya dalam kerumunan orang-orang. Namun hasilnya tidak nihil, tidak seperti yang ia harapkan. Tidak ada bayangan gadis manis yang memakai dress imut ketika berangkat tadi siang. Wajah polos dan lugu itu tak juga terlihat di antara orang-orang yang lalu lalang. Alex menghela napas.


Kacau ... ini benar-benar kacau .... Bagaimana kalau aku tidak berhasil menemukannya.


Pria itu hampir tenggelam dalam rasa putus asa. Ia tahu kemungkinan untuk kehilangan istrinya tetap ada mengingat jaringan kejahatan yang mengincarnya selama ini tidak pernah main-main. Kekuatan mereka pun bisa dibilang tidak kalah dari pasukan khusus miliknya. Meski menyadari semua keadaan itu, Alex tetap menolak mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk. Ia sama sekali tidak siap untuk kehilangan istrinya.


“Tuan, kita hampir sampai,” ujar Lorie sambil bersiap turun dari helikopter.


Lagi-lagi suara Lorie mengalihkan perhatian Alex. Ia menoleh dan mendapati pengawalnya itu sudah bersiap dengan peralatan taktis. Alex segera bersiap. Ia memakai perlengkapannya dan menunggu hingga gadis itu berhasil mengamankan perimeter. Sebisa mungkin informasi mengenai keberadaannya di kota ini jangan sampai tersebar luas.


Lorie melompat keluar, lalu memberi kode pada pasukan lain yang telah lebih dulu mendarat agar mengamankan area dengan menggunakan bahasa isyarat. Sepasukan pria bersenjata segera berkeliling untuk memeriksa para wartawan yang mungkin masih berada di sekitar lokasi pendaratan. Beberapa orang mendatangi warga untuk menanyakan peristiwa yang baru saja terjadi di tempat itu.


“Area clear,” ujar Lorie seraya menekan tombol pada alat komunikasinya. Ia kembali ke helikopter dan membukakan pintu untuk Alex.


“Di mana nenekku?” tanya Alex begitu keluar dari helikopter.


"Pasukan sedang--"

__ADS_1


"Alex! Alex! Oh, ya ampun!"


"... menjemputnya."


Alex dan Lorie menoleh pada asal suara. Brenda Smith tertatih-tatih menghampiri mereka berdua.


Lorie bergegas mendekat dan memapah Brenda. "Anda baik-baik saja, Nyonya?"


"Baik. Aku baik," jawab Brenda lalu menoleh ke kanan dan kiri, "Di mana gadis itu?"


"Kinara?" tanya Alex.


"Ya. Kinara. Istrimu. Di mana gadis itu?"


Alex sedikit terkejut ketika melihat raut kecemasan pada wajah neneknya. Tidak biasanya wanita itu menunjukkan emosi seperti itu pada seseorang. Apalagi orang itu adalah Kinara. Apa karena gadis itu telah menyelamatkannya?


"Kami belum menemukannya. Pengawalku masih mencari petunjuk."


"Cepatlah. Selamatkan dia. Selamatkan istrimu." Brenda menggerakkan tangannya di udara, memberi isyarat agar cucunya segera pergi. "Dia memintaku untuk melarangmu pergi, tapi tidak usah pedulikan itu. Cepat cari dia."


"Baik. Aku--"


"Tuan, seorang saksi mata melihat nyonya dibawa dengan mobil range rover hitam ke arah sana," sela salah seorang pengawal. Ia menunjuk ke arah utara.


"Mereka sempat mencatat nomor polisinya," lanjutnya lagi seraya menyerahkan secarik kertas.


"Antar nenekku pulang," perintah Alex, "Yang lain ikut denganku."


Pria itu memeluk Brenda sekilas, "Pulang dan beristirahatlah. Serahkan semuanya padaku."


"Berhati-hatilah."


“Baik.”


Lorie menerima kertas itu dan mengetiknya di layar ponsel. Setelah mengirim pesan pada 01, gadis itu hendak membuka laptop dan memerika peta wilayah di bagian utara Danbury. Namun, gerakannya tertahan ketika melihat sebuah attachment. Ia meng-klik tautan itu dan melihat isinya. Tak lama berselang, wajah gadis itu memucat.


“Tuan,” gumamnya dengan suara bergetar ketika melihat foto yang terpampang di laptop.


“Breng*ek! Bajin*an itu ... cepat cari di mana bajin*an itu berada!” raung Alex sekuat tenaga. Urat-urat menonjol di pelipis dan lehernya. Ia berdiri dan terus mengamuk bagai banteng yang sedang terluka.


“Bangs*t!” makinya seraya meninju atap helikopter. Buku-buku jarinya memerah, tapi pria itu seakan tidak merasakan sakit sama sekali.


“Tuan, tenangkan diri Anda. Duduk dan pakai sabuk pengaman. Kita akan menemukannya. Anda bisa melakukan apa pun yang Anda mau ketika dia sudah berada di bawah kaki Anda,” ujar Lorie untuk menenangkan tuannya.


Alex menggeram. “Cepat temukan dia!”


Ponsel lorie bergetar. Ia langsung membuka ponselnya untuk membaca pesan yang masuk. “Tuan, kosong satu menemukan lokasi terakhir range rover itu,” lapornya.


“Bawa aku ke sana!” perintah Alex dengan gigi bermelutuk. Seluruh tubuhnya gemetar menahan amarah. Kali ini, ia benar-benar tidak akan berbelaskasihan.


***


Suara-suara samar datang dan pergi, berdengung dan bergumam. Rasa dingin menggigit permukaan kulit, menembus hingga tulang. Kinara menggigil. Kelopak matanya bergerak tak beraturan. Jemari kaki dan tangannya terasa kebas. Berapa lama ia tak sadarkan diri? Sel kelabu dalam tempurung kepalanya berusaha mengais kepingan informasi yang berhamburan.


Terkahir kali ia melihat Benji tumbang dengan butiran peluru bersarang dalam kepalanya.


Mobil.


Darah.

__ADS_1


Lalu semuanya tiba-tiba gelap.


Telinga Kinara berdenging. Gadis itu mengerang dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan. Samar didengarnya bunyi gemerisik di samping kanan. Ia menajamkan telinga. Matanya masih terasa sangat berat untuk dibuka.


Di mana ini?


Kinara menarik napas dalam, mengumpulkan energi dan konsentrasi. Ia mengerjap pelan, bulu-bulu matanya bergetar ketika bergerak naik. Silau. Refleks, gadis itu mencoba mengangkat tangan kanan untuk menghalau cahaya yang menyakiti pupilnya. Sialnya, pergelangan tangannya tersentak kuat setelah terangkat beberapa sentimeter.


"Aw ...." Kinara mengerang pelan saat jemarinya menghantam ranjang. Rupanya kedua tangannya diikat ke ranjang. Ia berusaha membuka mata dan melihat ke bawah dan mengangkat kakinya. Bebas. Tidak terikat.


Siapa yang melakukan hal ini? Benar-benar cari mati ....


Gadis itu menanjamkan penglihatannya, lalu melihat ke sisi kanan dan kiri. Ruangan itu terlihat cukup luas, meski tidak bisa dibilang mewah. Hanya ada sebuah kursi dan meja tua di dekat jendela yang searah dengan telapak kakinya. Satu buah lemari putih di sebelah kiri, dan sebuah pintu yang terlihat seperti kamar mandi ... atau pintu ke luar? Kinara mengernyit. Ruangan ini sepertinya salah satu bagian dari rumah kabin yang biasanya dipakai untuk berburu.


Cahaya dari luar masih cukup terang, tapi mengapa lampu dinyalakan?


Sreekk.


Gadis itu menoleh cepat ketika suara gesekan besi dengan lantai kembali terdengar dari bagian atas kepalanya. Ia mendongak, mendapati seorang pria yang memakai topeng hitam sedang sibuk melakukan sesuatu sekitar dua meter dari tempatnya terbaring.


Jantung Kinara berdentam-dentam. Tanpa diberitahu pun ia sudah mengira apa yang sedang terjadi. Gadis itu mencoba menarik tangannya lagi, tetapi simpul-simpul di pergelangannya terlalu kuat. Rasa perih dan panas menjalar ketika tali pengikat menggesek permukaan kulitnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kinara ketika pria itu membalikkan tubuh dan berjalan ke arahnya.


Tenggorokan Kinara terasa kering dan pedih. Apa yang sudah dilakukan oleh pria itu? Kinara bertanya-tanya. Mengapa ototnya terasa lemas. Apakah pria itu menyuntikkan sesuatu ketika dirinya tidak sadarkan diri tadi?


Pria itu tidak menjawab, ia hanya berdiri di tepi ranjang dan diam di sana. Tidak melakukan apa-apa. Hanya diam dan mengamati.


Kinara merasa gelisah, ia berusaha mengatur tarikan napasnya agar tidak membuat gerakan dadanya yang naik turun tidak terlalu terlihat. Kini ia sungguh menyesal telah bepergian dengan menggunakan midi dress. Benar-benar sial.


“Apa yang kau lakukan?” ulang Kinara. Hawa dalam ruangan ini membuatnya gelisah.


Ceklek.


Kinara tersentak ketika pintu di sisi kanannya berderit ketika terbuka. Dua orang bertopeng hitam masuk dalam ruangan, mereka sibuk memasang sesuatu yang terlihat seperti handycam pada sebuah tripod. Kinara kembali terbelalak saat seorang pria yang sangat dikenalnya melangkah masuk tak lama kemudian.


“Kau?!”


Gadis itu melotot. Meski ia sudah menduga siapa dalang di balik ini semua, tetap saja ia masih terkejut ketika melihat Jericho muncul dengan cara seperti itu. “Brengs*k!” makinya dengan penuh amarah.


Jericho terkekeh puas. “Makilah aku sepuasmu, karena setelah ini ... hanya desahan er*tis yang akan keluar dari mulutmu,” ujar pria itu seraya berjalan mendekati Kinara.


Kinara mendengkus dan menatap Jericho dengan tatapan mengejek. “Teruslah bermimpi,” ucapnya dengan penuh permusuhan.


“Hehehe ... aku suka gadis pembangkang, biasanya mereka menjerit lebih kencang,” bisik Jericho seraya mengusap bibir Kinara perlahan dengan ibu jarinya.


“Singkirkan tangan busukmu itu! Membuatku merasa mual,” desis Kinara. Ia benar-benar ingin bangun dan menghajar pria mes*m di depannya itu.


“Sssht ... tenanglah, hemat tenagamu. Waktu kita masih panjang,” balas Jericho lalu kembali terkekeh-kekeh hingga kepalanya mendongak.


Ia berhenti tepat di dekat kepala Kinara, menunduk dan mengusap pipi gadis itu. “Berikan teriakan terbaikmu, karena saudara sepupuku yang malang itu akan menyaksikannya lewat siaran langsung.


"Apa maksudmu menyaksikan? Dia tidak bisa melihat!" geram Kinara.


"Benarkah? Kita akan segera mengetahuinya."


Jericho menjentikkan jarinya pada pengawal yang sudah selesai memasang handycam.


“Nyalakan kameranya.”

__ADS_1


__ADS_2