Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 127: Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

“Kinara!” seru Alex sambil terlonjak dari atas kursi.


Tangannya menekan pinggiran kursi untuk membantu tubuhnya kembali tegak. Embusan napasnya tak beraturan dan kasar. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Kinara, tetapi ketika kesadaran menghantam ke permukaan, dadanya terasa sesak dan nyeri. Tidak ada sosok mungil yang dirindukannya itu. Kamar mereka gelap dan sepi. Aroma vanila yang selalu menyebar di penjuru ruangan kini hanya menyisakan pengap dan rasa hampa.


Setelah kembali dan mendapati Kinara menghilang dari The Spring Mountains, Alex meminta supir untuk mengantarnya pulang ke rumah mereka. Ia berharap Kinara sudah lebih dulu pulang, tapi nyatanya wanita itu tidak kembali ke sini. Entah berapa lama ia termenung hingga akhirnya tertidur di atas kursi.


Tok. Tok. Tok.


“Tuan?”


Alex bangun dan berjalan dengan sedikit sempoyongan ke pintu ketika mendengar suara Lorie.


“Ada apa?” tanyanya setelah mengusap muka dan rambutnya. Ia bahkan lupa untuk mengganti bajunya sejak tadi.


“Maaf membangunkan Anda,” ujar Lori ketika melihat penampilan tuannya yang berantakan.


Alex melambaikan tangannya. “Ada informasi apa?” tanyanya.


“Kosong dua sudah mengkonfirmasi pemilik mobil itu adalah Raymond Dawson, putra dari wali kota. Saya sudah menyuruh orang untuk memeriksa di kediaman wali kota, tetapi mobil itu tidak ada di sana. Jadi, kemungkinan besar nyonya pergi bersama pemuda itu,” jawab Lorie tanpa berani memandang wajah tuannya.


“Kenapa kamu berpikir demikian?”


“Karena ... um, itu karena Raymond dan nyonya saling mengenal, jadi saya rasa—“


“Cari tahu ke mana mereka pergi!”


“Sebenarnya, ada rumah kabin milik keluarga Dawson di dekat danau Minnesota. Salah satu pengawal baru saja memastikan bahwa mobil Posrche itu ada di sana.”


“Bawa aku ke sana,” ujar Alex sambil berjalan melewati Lorie.


“Pakai mobil yang tidak terlalu mencolok. Tidak usah membawa pasukan,” lanjutnya lagi ketika sudah tiba di teras.


“Baik, Tuan,” jawab Lorie. Ia segera menyiapkan mobil yang biasa dipakai untuk mengantar Kinara ke kampus. Mobil sedan itulah yang paling "biasa saja" di antara mobil-mobil lain.


Alex masuk ke mobil dan melihat jam di pergelangan tangannya sekilas. Sudah lewat tengah malam. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan oleh kelinci kecilnya itu? Apa yang sedang dipikirkannya? Alex mendesah pelan. Ia sangat menyesal tidak bertindak lebih hati-hati. Seharusnya ia mengusir Jessica ketika masih ada kesempatan. Kesalahannya adalah tidak mendengarkan peringatan istrinya sehingga semua menjadi sekacau ini.


“Tenanglah, aku tidak akan membuat keributan,” ujar Alex ketika melihat Lorie beberapa kali mencuri pandang ke arahnya lewat kaca spion, “Aku hanya ingin memeriksa keadaannya saja.”


Lorie mengembuskan napas perlahan. Setidaknya tuan Alex tidak akan menggila seperti yang ia bayangkan. Ia sudah cukup khawatir tadi.


“Apakah keadaan di sana cukup aman?” tanya Alex.


“Ya. Ada beberapa pos penjaga setiap satu kilometer. Pengawal yang tadi memeriksa ke sana memutar lewat tengah hutan.”


“Ambil jalur yang sama,” perintah Alex, “Jangan biarkan dia tahu kalau kita ke sana.”


“Baik, Tuan.”


Alex kembali terdiam. Ia menimbang-nimbang dan larut dalam pikirannya sendiri. Segala pertanyaan dan kemungkinan menyakitkan yang bisa terjadi kapan saja.


Pria itu tiba-tiba mendongak dan bertanya pada Lorie, “Menurutmu, apakah dia akan meninggalkan aku?”


“A-apa?” Lorie hampir tersedak. Mengapa harus menanyakan hal seperti itu padanya?

__ADS_1


“Menurutmu, apakah Kinara akan meninggalkanku?” ulang Alex dengan kening berkerut dalam. Ia benar-benar sudah hampir gila memikirkan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya itu.


“I-itu ... saya tidak tahu, Tuan.”


“Kenapa tidak tahu? Bukankah kalian sama-sama perempuan?”


“Ah ... i-itu ... itu ....”


Rasanya Lorie ingin menghantamkan kepalanya sendiri ke stir mobil. Bagaimana bisa ia tahu apa yang dipikirkan oleh Kinara hanya karena mereka sama-sama perempuan? Lagipula, jika dirinya yang diminta menjadi pengantin pengganti untuk tuan muda yang dingin dan kejam ini, ia sudah pasti akan menolaknya sejak awal.


Hhh ... memang hanya nyonya Kinara yang sanggup menjinakkan monster buas ini ....


“Apa yang harus kulakukan jika dia meninggalkanku, Lorie?” gumam Alex lagi. Ia menatap kegelapan di luar sana dengan frustasi. Sekelam itukah masa depannya bersama Kinara nanti?


Lorie menyeringai kaku sebelum menjawab, “Anda terlalu banyak berpikir, Tuan. Saya rasa, kalau nyonya memang ingin meninggalkan Anda, dia pasti sudah menemui tuan Parrish, bukan? Mungkin nyonya memang hanya ingin menenangkan pikirannya dulu. Sebaiknya Anda bersabar, Tuan.”


Alex tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi sepanjang sisa perjalanan. Ia sungguh berharap apa yang dikatakan oleh Lorie itu benar. Semoga saja Kinara memang hanya ingin menyendiri untuk menenangkan diri. Kalau tidak ....


***


Kinara melihat jam digital di atas meja yang menampilkan angka 02:23. Ia tidak bisa tidur meski sudah berusaha memejamkan mata sejak tadi. Bayangan Alex muncul ketika ia terpejam. Senyuman pria itu, tawanya, pelukannya, kehangatannya ... semua itu membuatnya rindu. Ia terbiasa tidur dengan lengan kokoh Alex melingkari pinggangnya, terbiasa dengan kecupan-kecupan ringan di wajahnya setiap kali mereka bergelung di atas kasur, terbiasa dengan aroma tubuhnya yang menenangkan. Sekarang rasanya aneh dan ganjil. Berbaring sendiri di atas kasur yang cukup besar ini justru membuatnya merasa tidak nyaman.


“Alex ....”


Tanpa sadar bibir Kinara menyebut nama suaminya. Bulir hangat menetes dari sudut-sudut matanya. Ia menyusut air mata yang semakin banyak, lalu duduk di tepi ranjang. Rasanya ia hampir gila memikirkan semuanya.


Kinara bangun dan berjalan keluar. Ia membutuhkan udara segar untuk membantunya berpikir dengan jernih. Terkurung dalam kamar hanya membuat ingatannya selalu terpusat pada Alex. Kalau terus begitu, bagaimana ia bisa mengambil keputusan dengan benar?


Dingin menusuk hingga ke tulang. Kinara tidak tahu cuaca di sini bisa seekstrim ini ketika menjelang subuh. Ia meniup-niup tangannya lalu menggosok-gosokannya ke lengan untuk menghalau dingin yang menyengat. Ia mendongak, mengamati kerlip bintang di langit malam. Angin berembus pelan, membuat permukaan danau beriak. Rasa tenang dan teduh perlahan membuat Kinara merasa damai. Seandainya ia memiliki kehidupan yang tenang seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan. Namun, ia tahu sebagai istri Alex, kehidupan seperti itu tidak akan pernah ia dapatkan.


Ayolah, Nara ... kamu tahu Alex tidak sengaja tidur dengan jal*ang itu. Maafkan dia. Kalian bisa mengulang semuanya dari awal. Dia menerimamu meski Jericho sudah menyentuhmu dengan tidak pantas.


Pantulan cahaya bulan di cincin pernikahan yang melingkar di jari manis menarik perhatian Kinara. Ia memutar-mutar benda itu dan menatapnya lekat. Benda berharga itu simbol ikatan sakralnya dengan Alex. Janji pernikahan mereka dulu ... semua rintangan yang sudah mereka hadapi bersama ... haruskah berakhir begitu saja?


Tapi, bagaimana kalau Jessica hamil? Atau berpura-pura hamil? Ular betina itu ‘kan sangat licik. Dia bisa melakukan apa saja untuk merebut Alex lagi ....


“Kenapa keluar tanpa memakai jaket?”


Kinara tersentak ketika mendengar suara dari balik tubuhnya yang terdengar sedikit serak. Ia menoleh dan tersenyum melihat siapa yang datang.


“Kenapa belum tidur?” Kinara balik bertanya.


Raymond ikut tersenyum dan semakin mendekat. “Pengawal membangunkanku. Mereka khawatir karena melihat kamu keluar sendirian.”


“Oh, ya ampun ... mereka takut aku akan bunuh diri?” ujar Kinara seraya terkekeh pelan.


“Tidak persis seperti itu, tapi ... well, kamu tahu intinya,” balas Raymond sambil melilitkan selimut yang ia bawa dari kamar, “Setidaknya pastikan dirimu tetap hangat kalau ingin mencari pencerahan,” godanya sambil tersenyum lembut.


Wajah Kinara memerah dalam keremangan cahaya bulan, membuat jantung Raymond kembali berdentam tak beraturan. Wanita mungil di depannya ini terlihat seperti peri yang kehilangan bubuk sihir tapi masih tetap terlihat memikat.


“Kamu cantik sekali,” bisiknya tanpa sadar.


“Apa?” tanya Kinara. Ia tidak terlalu mendengar suara Raymond dengan jelas karena pikirannya masih terpusat pada Alex.

__ADS_1


“Tidak. Mau segelas cokelat panas? Aku akan mengajakmu ke tempat yang indah untuk melihat matahari terbit nanti.”


Kinara mengangguk cepat.


“Aku suka cokelat,” ujarnya sambil tersenyum lebar, “Aku juga suka matahari terbit dengan pemandangan yang indah.”


“Bagus. Ayo,” ajak Raymond seraya menggerakkan kepalanya sebagai isyarat agar Kinara mengikutinya.


Kinara berjalan bersisian bersama Raymond kembali ke dalam rumah kayu dengan senyum masih terpatri di wajahnya. Ia tidak menyadari, pria yang ia pikirkan tadi sedang berdiri tak jauh dari sana dan hampir meledak karena rasa cemburu.


“Tuan,” panggil Lorie ketika melihat Alex melemparkan teropong malamnya dengan kesal hingga dedaunan kering menimbulkan bunyi bergemerisik. Ia takut pria di hadapannya ini akan menghambur ke sana dan menghajar pemuda malang itu.


“Pemuda itu, kamu sudah memeriksa latar belakangnya?”


“Ya. Semuanya bersih.”


“Bagaimana mereka bertemu?” tanya Alex sambil mengacak rambutnya dengan kesal. Hatinya terasa panas melihat pria lain berhasil membuat istrinya tersenyum.


Memberikan selimut. Cih! Trik murahan. Aku benar-benar ingin memukul kepalanya ....


“Dia yang menyelamatkan nyonya ketika hampir tertabrak di kampus.”


“Lalu?”


“Saya rasa ... Raymond Dawson juga menyukai nyonya.”


Alex mendengkus kesal. “Tentu saja suka. Istriku begitu manis dan baik hati. Hanya orang bodoh yang tidak menyukainya.”


Anda masih bisa sombong, Tuan ... benar-benar mengagumkan.


Lorie menggaruk kepalanya sambil memalingkan wajah. Apakah ia harus mengambil batu dan menghantamkannya ke kepala tuannya agar pria itu sadar bahwa Raymond adalah saingannya?


“Bawakan aku tenda!” perintah Alex. Ia menoleh kembali rumah kabin yang berjarak sekitar lima ratus meter di depan sana.


“A-apa?”


“Bawakan aku tenda,” ulang Alex sambil menatap Lorie dengan kesal. Mengapa pengawalnya itu menatapnya seolah ia adalah seorang idiot?


“Anda akan tidur di sini?” tanya Lorie untuk memastikan pendengarannya tidak salah.


“Menurutmu aku akan membiarkan istriku menginap dengan orang asing tanpa pengawasan?”


“Tapi, Anda bisa meminta pengawal bayangan untuk—“ Lorie tidak jadi menyelesaikan perkataanya ketika melihat wajah Alex yang menyeramkan, “Um, baik, tenda akan segera tiba.”


Gadis itu menghela napas pelan sebelum mengetik pesan dan meminta pengawal untuk membawa peralatan bagi tuannya.


Sebagai seorang jomlo yang menjadi saksi cinta tuannya dan Kinara, ia merasa benar-benar tak berdaya. Setiap kali dua orang itu bertengkar atau bermesraan, ia selalu menjadi korban mereka. Sekarang, ia jadi menginginkan seorang kekasih juga. Kekasih yang perhatian dan romantis seperti tuannya, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ia menginginkan kekasih yang biasa saja. Jantungnya sudah pasti tidak akan sekuat Kinara yang tahan banting dalam setiap situasi.


Alex menatap rumah kayu yang tampak samar tanpa bantuan teropong itu. Membayangkan pria lain sedang menemani dan menghibur Kinara membuatnya sangat kesal. Namun, ia juga sedih dan merasa bersalah karena dirinyalah yang selalu membuat istrinya menangis.


Baby, beri aku kesempatan satu kali lagi, kumohon ....


***

__ADS_1


__ADS_2