Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 13


__ADS_3

Dada Lorie terasa sesak, tapi ia menahannya sekuat tenaga dan menerjang ke arah pria yang berada paling dekat dengannya.


Blup.


“Argh!”


Satu tembakan berperedam terdengar hampir bersamaan dengan geram kesakitan yang keluar dari mulut Lorie. Tubuh wanita itu tersentak ke belakang. Meski sempat menghindar, peluru itu berhasil menggores lengannya. Ia terduduk di atas aspal dan mengerang pelan, tubuhnya meringkuk di samping tasnya yang tadi terjatuh saat diseret ke dalam gang. Sementara itu, pria yang merasa berhasil melumpuhkannya terkekeh puas dan berjalan mendekat.


“Bit*h, harusnya kamu—“


Klik.


Blup.


Blup.


Dua pria itu tumbang hampir bersamaan ketika dua butir peluru melesak ke dalam tempurung kepala mereka secara presisi.


Tangan Lorie yang teracung di udara terlihat gemetar. Untung saja ia memutuskan untuk menyelipkan sepucuk bareta di dalam tas sebelum keluar dari hotel tadi.


Wanita itu mengusap keringat dingin di keningnya, kemudian memasukkan kembali senjatanya ke bilik rahasia di sisi dalam tasnya. Ia menekan tembok untuk membantu tubuhnya berdiri tegap, lalu berjalan dengan sedikit terhuyung keluar dari gang. Ia harus bergegas sebelum rekan-rekan para penjahat itu menyusul dan meringkus dirinya lagi.


Setelah berhasil menyeberang dan memasuki lobi hotel, Lorie baru bisa bernapas dengan lega. Ia mengabaikan tatapan keheranan dari orang-orang yang berpapasan dengannya, terus berjalan dan masuk ke lift. Ia yakin penampilannya saat ini pasti sangat berantakan. Pandangannya semakin mengabur, napasnya semakin tidak teratur. Luka di lengan kirinya terasa pedih dan panas. Rafael keparat itu benar-benar sangat bernyali. Lihat saja bagaimana ia membalas pria itu nanti.


“Nona, Anda baik-baik saja?”


Suara yang terasa sedikit familiar itu datang dari balik tubuh Lorie, tapi ia tidak punya tenaga untuk berbasa-basi.

__ADS_1


“Ya.”


Hanya itu yang diucapkannya sebelum melangkah keluar saat lift berdenting. Angka 12 yang berpendar mulai terlihat berbayang. Lorie mengumpat dalam hati dan berjalan di sepanjang lorong hotel sambil menumpu tubuhnya di dinding. Kepalanya seolah membesar dua kali lipat, membuatnya berkali-kali hampir tersungkur ke depan.


118 ....


119 ....


120 ....


Wanita itu menghela napas lega ketika akhirnya nomor kamarnya yang berbayang sudah terlihat, sepertinya hanya berjarak sekitar satu meter di depannya. Ia mengulurkan tangan untuk membuka pintu.


Sial.


Tangannya ada tiga. Gagang pintu yang hendak diraih olehnya tak kunjung tergapai. Angka 120 yang dilihatnya pun bertumpuk seperti ... seperti ....


Apakah ada sesuatu dalam minumannya tadi?


Ceklek.


Lorie mendesah lega ketika akhirnya pintu di hadapannya terbuka. Ia melangkah masuk dengan terhuyung, hampir jatuh bahkan ... tapi sebuah lengan yang kokoh menahan tubuhnya dengan mantap dan menariknya ke dalam pelukan yang terasa hangat.


“Alice. Kamu kembali?”


Suara itu ....


Napas Lorie menderu satu-satu. Ia berusaha membuka mulut untuk menyangkal, tapi yang keluar hanya desah*an tak bertenaga karena pria yang memeluknya sudah membukam mulutnya. Lidah pria itu menerobos masuk dan menjelajah dengan sembarangan.

__ADS_1


Untuk sesaat Lorie merasakan tubuhnya melayang, lalu terbaring di atas kasur, sedetik kemudian ... tubuh panas yang penuh dengan aroma musk dan wiski melingkupinya.


“Ray ... ini ... ak-ahhh ....”


Telapak tangan yang hangat dan menjamah tubuhnya dengan semena-mena itu membuat Lorie gemetar. Sialnya, seberapa keras pun usahanya untuk meronta, seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.


Ia masih bisa melihat dengan samar, bisa bicara, bisa merasakan ... tapi tidak bisa bergerak. Obat mengerikan macam apa yang disuntikkan kepadanya tadi?


“Ray-mond, ini a-aku ... Lorie. Ja-ngan.”


“Aku akan menikahimu, Alice. Apa pun yang terjadi, aku akan menikahimu ....”


“A-aku ... oh! Aku ... bukan—”


“Aku mencintaimu, Alice.”


“Ber-henti, sialan! Aku bu-kan ... akh!”


Lorie memekik ketika rasa sakit yang sangat menyengat di bawah sana. Lengannya yang tertembak memang sakit, tapi rasa pedih di pangkal pahanya seolah sedang merobek tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Sangat sakit hingga ia ingin menendang Raymond agar menyingkir dari tubuhnya. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menggigit bibir erat-erat hingga aroma amis dan rasa asin tercecap oleh lidahnya.


Tubuhnya gemetaran ... gemetar dan mengejang karena rasa sakit itu, tapi Raymond membujuknya dengan sangat lambut sambil terus menggumamkan nama Alice.


Selama proses yang menyakitkan itu, Lorie hanya terbaring seperti patung yang bernyawa. Ia menoleh ke samping, membuat dua bulir bening berkejaran menuruni pipinya yang pucat.


Untuk sesaat, ia merasa benar-benar ingin mendatangi Rafael dan mencincang dagingnya sampai halus, kemudian memberi makan potongan dagingnya yang busuk itu kepada anjing liar.


***

__ADS_1


__ADS_2