Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 54


__ADS_3

Di sisa perjalanan, Lorie hanya diam dan mengamati deretan bangunan di luar kaca jendela. Ia sungguh tidak bisa menduga Daniel akan membawanya ke mana. Beberapa kali mereka melewati restoran bintang lima dengan bangunan yang megah dan papan nama yang mencolok, tapi Daniel terus mengemudi tanpa melirik sedikit pun ke tempat itu. Lorie yang bertanya-tanya hanya bisa menyimpan semua rasa penasarannya di dalam hati. Sepertinya ia sudah salah menebak.


Setelah berkendara sekitar kurang lebih 15 menit, mobil akhirnya melambat di sebuah jalanan yang dipenuhi stand street food. Ada begitu banyak manusia di luar sana, kebanyakan adalah turis asing yang sedang melancong, semuanya berjejalan di jalanan yang tidak terlalu luas dan hampir dipenuhi oleh penjaja makanan.


“Makanan di sini lebih enak daripada restoran mana pun,” ujar Daniel saat melihat Lorie yang terpaku menatap kerumunan di luar sana.


“Atau kamu ingin pergi ke restoran?” tawarnya lagi saat Lorie tak kunjung memberi respon.


“Apa? Oh, tidak. Aku menyukainya,” jawab Lorie cepat. Kini seluruh pandangannya mengenai pria di sampingnya sudah berubah total. Dan sialnya secara tidak sadar ia ikut berbicara dengan gaya bahasa yang tidak formal dengan pria itu.


Tadinya ia pikir Daniel sama seperti orang kaya lainnya yang sombong, dingin dan arogan ... um, seperti Tuan Alex. Yah, meski tuannya itu tidak sesombong yang dibayangkan orang-orang, tapi kebanyakan orang kaya yang ia kenal tidak akan mau datang ke tempat seperti ini. Sedangkan Daniel ini, selain sedikit cuek, juga cukup cerewet untuk ukuran seorang pria. Meski belum sanggup menandingi mulut Billy tentu saja.


“Apa aku berhasil membuatmu terkesan?” tanya Daniel seraya mengedipkan matanya.


Lorie mengangkat alisnya dan menjawab, “Lumayan. Tidak buruk.”


“Bagus sekali!”


Daniel tertawa puas dan memarkir mobilnya di pinggir jalan. Ia lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil untuk Lorie.


“Kamu harus mencoba shawarma di kedai itu,” ucap Daniel seraya menunjuk sebuah kios yang memang tampak sangat ramai.


“Atau shish tawouk sandwich, itu juga lumayan. Ada juga samboosa di sana.” Daniel menunjuk ke sisi kiri. “Luqaimat? Fareed? Falafel?”


“Hey, pelan sedikit,” Lorie tidak bisa menahan tawa melihat antusiasme pria di sampingnya.


“Aku bahkan hampir tidak mengenali separuh nama yang baru saja Anda sebutkan, Tuan Daniel,” lanjutnya lagi sambil menggelengkan kepala.


Daniel berhenti dan menatap Lorie dengan tatapan yang ia gunakan saat mereka pertama kali bertemu. Perlahan sudut bibirnya ikut terangkat, memunculkan sebaris senyum tipis yang tidak terlalu terlihat.

__ADS_1


“Apa?” tanya Lorie karena Daniel menatapnya begitu rupa.


“Kamu sangat cantik saat tertawa. Seterusnya harus lebih sering tertawa,” jawab pria itu sambil mengulurkan tangan untuk mencubit kedua pipi Lorie. "Satu lagi, panggil namaku saja. Daniel. tidak perlu pakai 'Anda' atau 'Tuan'."


Sebelum Lorie sempat memberi reaksi, pria itu sudah berbalik dan berjalan menuju kedai jajanan yang terdekat.


Lorie mematung beberapa saat dan menatap punggung pria itu. Tinggi dan kokoh. Saat berdiri di sampingnya, Lorie menyadari ia hanya mencapai dada pria itu. Sedikit lebih tinggi dari Raymond.


Wanita itu mengerjap cepat beberapa kali saat menyadari pikirannya sudah berkelana terlalu jauh. Buru-buru ia menyusul Daniel yang sedang melambai ke arahnya. Saat ia mendekat, pria itu mengulurkan tangan untuk mengait lengannya.


“Di sini terlalu ramai, jangan sampai hilang. Nanti waktu satu jamku terbuang hanya untuk mencarimu,” ucap pria itu sambil terus berjalan, seolah menggandeng tangan Lorie adalah hal yang wajar dan biasa dilakukannya sebelumnya.


Lorie menatap tangan yang memegangnya tidak terlalu kencang juga tidak terlalu longgar, lalu menatap pemilik tangan itu dengan pikiran yang rumit. Bukankah interaksi ini terlalu intim?


Diam-diam ia berusaha menarik tangannya saat sedang menerobos para pejalan kaki. Akan tetapi, alih-alih melepaskan cekalannya, Daniel justru menurunkan tangannya dan meraih jemari Lorie. Sepersekian detik, rasanya seperti ada aliran listrik yang mengalir dari ujung jari pria itu dan menggelitik permukaan kulit Lorie, membuatnya sedikit berjengkit karena terkejut.


Bahkan dengan Raymond pun ia belum pernah sedekat itu.


Lorie jadi penasaran, bagaimana rasanya kalau Raymond yang menggandengnya seperti ini.


Sialan, Lorie. Berhentilah memikirkannya.


“Hey?”


“Huh?”


“Aku bilang, kamu ingin makan yang mana?”


“Oh ....”

__ADS_1


Lorie mengedarkan pandangan, melihat aneka makanan yang tersaji di kedai-kedai sepanjang jalan. Aromanya sangat berempah, aroma yang belum pernah tercium olehnya sebelumnya. Untungnya perutnya bisa bekerja sama dan tidak bergejolak.


“Semuanya terlihat enak,” gumam wanita itu pada akhirnya. Ia tersenyum pasrah dan menyerahkan keputusan kepada Daniel.


“Baiklah.” Daniel menarik tangan Lorie menuju kedai yang ia tunjuk paling awal.


“Antriannya cukup panjang. Kamu keberatan?” tanya pria itu setelah tiba di depan kedai.


“Hanya tersisa 30 menit untukmu, dipotong 15 menit untuk perjalanan pulang dan 5 menit untuk antri, seharusnya 10 menit cukup untuk makan? Itu juga kalau antrian ini hanya 5 menit,” ujar Lorie sambil menaikkan alisnya dan menatap Daniel dengan sorot penuh arti.


“Argh ....” Daniel meremas rambutnya dengan frustasi.


“Kamu sangat perhitungan,” protesnya. “Bisa tambahkan sepuluh menit? Hanya sepuluh, please?”


“Tidak bisa,” jawab Lorie sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Seorang gentlemen harus memegang janjinya ... Daniel.”


Daniel mengerang lagi dan mengusap wajahnya dengan kesal.


“Lain kali aku akan mencari restoran di samping kantormu saja,” gerutunya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Lorie.


“Tidak ada lain kali. Kamu sudah berjanji untuk tidak menggangguku lagi kalau aku setuju untuk makan siang,” tegur Lorie.


“Oh. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi untuk sisa hari ini. Untuk besok dan seterusnya, bisa kita perdebatkan kemudian,” balas Daniel seraya menarik tangan Lorie masuk ke kedai.


“Kamu ...!”


Sekali lagi Lorie dibuat kehabisan kata-kata, hanya bisa mengikuti pria itu ke dalam dan memesan makan siang mereka dengan wajah masam. Ia benar-benar merasa sudah dibodohi oleh pria itu.


Sialan.

__ADS_1


***


__ADS_2