
Setelah sampai di kamar Tara, Gio sama sekali tidak bertanya kepada gadis itu tentang apa penyebabnya gadis itu muntah-muntah, sehingga membuat yang ada di ruang tamu tadi jadi mengira kalau Tara si gadis keras kepala sedang ngidam. Padahal Gio sama sekali belum mengajak gadis itu bercocok tanam.
"Sana kembalilah makan malam bersama Mama dan yang lain," kata Tara membuka suara sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk itu. "Sana Gio, kau kembali saja, jangan marah melihat aku terus dengan tatapan bola matamu yang sangat me sum itu!" ketus Tara yang mengira kalau tatapan sang suami sangatlah me sum. "Gio, keluar sana dan beritahu mereka kalau aku ini merasa mual gara-gara melihat Dion," lanjut Tara sehingga membuat Gio menyerngit.
"Mual, apa jangan-jangan mantanmu itu sudah memberikanmu menghisap lolipop?" tanya Gio tanpa memikirkan pertanyaannya itu akan membuat Tara nanik tensi. "Apa benar begitu Tara?"
__ADS_1
Tara yang di tanya langsung bangun dan duduk sambil bersandar. "Heh bo doh! Pertanyaan apa yang kau berikan itu kepadaku?" Tara memelototi sang suami. "Bisa-bisanya kau berpikiran kalau aku menghisap lolipopnya, sedangkan di pegang saja oleh laki-laki itu aku tidak pernah Gio! Tapi moncongmu malah selalu saja berkata kurang ajar tentang diriku! Apa kau pikir aku ini wanita murahan, hah ... yang bisa di pegang-pegang atau mulut ini yang malah menghisap lolipop? Dasar kau selain bo doh kau juga tidak punya otak! Main nuduh-nuduh tanpa bukti," ucap Tara yang kesal melihat Dion, kini gadis itu malah semakin merasa kesal dan dongkol hanya karena Gio mengiranya pernah menghisap lolipop mantan yang akan sebentar lagi menjadi iparnya iti. "Sungguh mulutmu perlu disekolahkan lagi Gio, supaya bisa membedakan mana cewek gampangan dan murahan. Dan aku tipe gadis yang tidak masuk pada keduanya."
"Perkara lolipop kamu malah berbicara panjang kali lebar, kalau tidak pernah menghisap lolipopnya kamu tinggal bilang tidak pernah. Jangan seperti ini malah ngomong sampai tidak membiarkan aku membuka suara," ucap Al sambil melihat ke arah Ranum. "Aku tidak mau berdebat denganmu, maka dari itu aku lebih baik memilih untuk mengalah, karena mengalah bukan berarti kalah."
"Eleh, eleh ... lagu lama-lama! Aku sangat kesal saat mendengar kalimat apa saja yang keluar dari mulutmu seperti ini, sungguh aku benar-benar kesal!" desis Ranum.
__ADS_1
Tara memalingkan pandangan sambil berkata, "Kau memang tidak bisa di kalahkan, dari segi apapun, Gio!
***
Di ruang tamu, terlihat Marlina heboh sendiri sebab wanita itu, ia malah semakin menjadi-jadi kalau mengira Tara hamil.
__ADS_1
"Selamat ya Jeng, ternyata Jeng akan segera punya cucu. Dan pasti akan ramai di rumah ini karena ada suara tangisan bayi," ucap Marlina sambil melihat Yana.
"Semoga saja ya, doakan saja semoga Tara hamil. Soalnya saya dan Mas Arzan sudah tidak sabar lagi ingin menimang cucu," balas Yana menimpali. "Kalau Tara hamil, berarti dia akan berhenti kuliah untuk waktu yang tidak bisa di tentukan. Karena saya takut putri saya itu kenapa-napa," lanjut Yana dengan mata yang menunjukkan binar kebahagiaan.