Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 93


__ADS_3

Melihat Alice yang terbahak dan terus memprovokasi dirinya, Raymond sangat marah sampai ingin mencekiknya lagi. Akan tetapi, dua orang petugas polisi menghadangnya dan menyeret tubuh Alice menjauh. Orang-orang yang berkerumun untuk menonton pertikaian itu semakin banyak, tapi sepertinya Alice tidak peduli.


Tiba-tiba wanita itu semakin bersemangat saat mendengar dering ponselnya menyalak kencang. Ia meronta sehingga cekalan polisi di tangannya terlepas. Secepat kilat ia mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans, lalu membaca pesan yang masuk. Sekejap kemudian, wajahnya terlihat semakin bahagia dan bersemangat.


Ya, wajahnya terlihat sangat bahagia dan tawanya terdengar semakin mengerikan sehingga Raymond merasa wanita itu benar-benar sudah gila.


“Anakmu sudah tidak ada! Apa kamu menyesal?” teriak Alice. Ada perpaduan antara rasa sakit dan putus asa dalam getaran suaranya, berbanding terbalik dengan seringai lebar di wajahnya yang dipenuhi air mata.


Raymond tercengang.


“Apa maksudmu?” tanyanya.


Mengapa wanita sinting itu tiba-tiba menyebut anak, dan lagi mengatakan bahwa itu adalah anaknya. Apakah ... jangan-jangan ...


“Lorie?” tanyanya lagi dengan suara yang tercekat. Rasa dingin merambat dari kaki dan menyebar ke seluruh tubuhnya dengan cepat.


Tidak!


Ia tidak berani memikirkan kemungkinan itu. Lebih tidak berani lagi untuk membayangkannya.


Melihat Raymond yang tampak terpukul, Alice sangat senang. Ia merasa sangat senang hingga sangat ingin bertepuk tangan!


Anaknya sudah mati karena manajer tua bangka itu. Bisa dikatakan itu adalah salah Raymond juga. Sekarang, menerima kabar dari orang suruhannya bahwa Lorie keguguran, rasanya ia sangat senang hingga masuk penjara pun ia rela. Itu sepadan dengan rasa sakit Lorie dan keterpurukan Raymond Dawson!

__ADS_1


Heh. Siapa suruh mereka mempermainkan dirinya dengan sewenang-wenang. Rasakan akibatnya!


Dengan sedikit terhuyung Raymond melangkah maju dan mencekal lengan Alice sekuat tenaga. Bahkan dua orang polisi di sampingnya tidak bisa melepaskan cengkeraman tangannya.


“Kamu hanya ingin membuatku emosi, bukan? Kamu hanya menggertakku, kan? Dia bilang itu anaknya bersama calon suaminya.”


Amarah yang meluap-luap terpancar jelas dari sorot mata Raymond, tapi suaranya justru terdengar seperti sedang merintih kesakitan. Hal itu bahkan membuat Alice semakin senang lagi. Ia membalas tatapan Raymond dengan penuh provokasi dan cibiran.


“Anak itu milikmu. Dari awal hanya milikmu. Raymond Dawson, apa kamu bodoh? Bahkan anak sendiri tidak kamu kenali, wanita sendiri tidak bisa kamu lindungi! Jangan bilang aku sampah, kamu adalah sampah!” Alice tertawa seperti orang gila.


“Sekarang kalian benar-benar tidak akan bisa bersama, dia tidak akan memaafkanmu! Dia akan membencimu seumur hidup!” raung Alice sambil menuding wajah Raymond, lalu kembali terbahak hingga suaranya serak.


“Bagaimana bisa itu menjadi salahku?” tanya Raymond tanpa sadar. Informasi ini terlalu mendadak, dan ia tidak bisa mencerna semuanya sekaligus.




Sekujur tubuh Raymond gemetar hebat. Gemetar dengan sangat kuat hingga bunyi gemerutuk giginya pun terdengar jelas. Cekalan tangannya pindah ke leher Alice dan menjepitnya dengan keras. Ia mendorong tubuh wanita itu hingga menempel ke tembok dan terus mencapitnya seperti tang besi yang kokoh.


Alice tersedak dan terbatuk-batuk, tapi masih memberi tatapan penuh cemoohan kepada Raymond. Benar-benar memancing emosi pria itu sampai ke akar!


“Aku akan membunuhmu, Ja*lang! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!”

__ADS_1


Raymond sudah seperti kerasukan iblis. Tenaga dua orang polisi tidak mampu membuat cekalan tangannya di leher Alice mengendur. Matanya yang semerah darah terlihat sangat mengerikan. Akan tetapi, sesaat kemudian pandangannya mengabur. Cairan panas berkumpul di pelupuk matanya, lalu meluncur turun melewati pipi dan dagu.


Anaknya ....


Ia bahkan tidak tahu kalau tadinya ia akan menjadi seorang ayah. Ia tidak tahu kalau ia akan memiliki anak bersama Lorie. Walau terbentuk dari ketidaksengajaan, itu tetaplah anaknya, darah dagingnya!


Hanya dengan memikirkannya saja membuat tenaga bertambah berkali-kali lipat sehingga membuat wajah Alice membiru.


Dugh!


Satu pukulan keras di tengkuk Raymond membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai bersama tubuh Alice yang sudah tidak bergerak. Ia ingin melompat bangun dan mencekik wanita itu lagi, tapi seorang polisi menahan kedua tangannya ke balik tubuhnya, sedangkan polisi yang satunya menyeret tubuh Alice pergi.


“Menyingkir! Aku ingin membunuh ja*lang itu! Lepaskan aku!” teriak Raymond sambil menggeliat dan berusaha melepaskan diri.


“Tuan, tenangkan diri Anda. Jika Anda ingin melawannya, datanglah ke kantor polisi untuk memberi kesaksian,” ucap sang petugas polisi.


Setelah melihat rekannya telah membawa Alice masuk ke mobil patroli, ia baru melepaskan kunciannya di kedua tangan Raymond dan beranjak pergi.


Raymond yang ditinggalkan di tengah lobi hanya berdiri seperti patung. Penampilannya yang berantakan mengundang simpati orang-orang yang berkerumun, tapi tidak ada yang berani mendekat untuk menghiburnya.


Lagi pula, Raymond memang tidak membutuhkan simpati dari siapa pun saat ini. Yang ia inginkan adalah bertemu dengan Lorie dan mengonfirmasi semua ucapan Alice barusan.


Namun, bagaimana caranya? Bagaimana ia akan menghadapi Lorie dan menebus kesalahan fatal yang sudah ia lakukan? Bagaimana caranya menghibur wanita itu?

__ADS_1


Anak mereka ... sudah tidak ada ....


***


__ADS_2