Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 6


__ADS_3

Setelah makan malam yang hangat dan menyenangkan, Raymond mengajak Lorie berjalan menyurusi tepi sungai sambil menikmati keadaan alun-alun Kota Venice di malam hari. Lorie sangat menikmati suasana yang tenang dan damai itu.


“Jadi, bagaimana keadaan Alex sekarang?” tanya Raymond saat Lorie menyinggung soal triplets.


“Begitulah. Dia sama sekali tidak mau menikah lagi, meskipun alasannya demi anak-anak. Katanya, tidak ada wanita mana pun yang bisa menggantikan sosok Kinara ....”


“Dia memang tidak akan tergantikan.” Raymond menyetujui ucapan wanita di sampingnya. “Salah satu wanita paling baik dan paling tulus yang pernah aku temui.


Lorie menghela napas dan menoleh ke arah Raymond. “Kadang aku pikir Alex sangat menyedihkan, tapi sekaligus sangat kuat. Aku ingin memiliki seseorang yang mencintaiku seperti itu.”


Raymond melempar senyuman menggoda sambil berkata, “Kasihan sekali pria itu, sangat tidak beruntung ... dia harus memilik tekad baja dan mental yang sangat kuat ....”


“Apa maksudmu?” tanya Lorie seraya menghentikan langkah kakinya tiba-tiba.


Awalnya ia mengira Raymond sedang membahas Alex, tapi saat menyadari pria itu terus menatapnya sambil mengulum senyum, ia sadar kalimat barusan merujuk pada keinginannya untuk memiliki kekasih yang mencintainya seperti Alex mencintai Kinara. Apakah pria itu sedang menggodanya?


“Katakan, apa maksudmu?” tanya Lorie lagi seraya bersedekap dan memasang wajah galak.


“Tidak ada,” jawab Raymond, kemudian buru-buru menutup mulutnya.


Lorie tidak percaya dan memilih untuk mencecar pria itu dengan pertanyaan, “Kamu bilang pacarku nanti tidak beruntung? Karena memiliki kekasih seperti aku? Memangnya aku seburuk itu?”


Raymond menahan tawa dan menjawab, “Bukan aku yang bilang.”


“Raymond Dawson! Aku masih sanggup menghajarmu sampai babak belur, kau tahu itu?” teriak Lorie seraya mengacungkan kepalan tangannya ke arah Raymond yang berkelit dan menjauh dari jarak jangkauannya.


“Hey ... aku hanya bercanda, oke?” Raymond mengangkat kedua tangannya ke udara sambil masih tertawa. “Lihat, kamu begini galak. Mana ada yang berani mendekatimu.”


“Tentu saja ada! Aku tidak perlu pria tampan yang kaya raya, cukup bisa menerima diriku apa adanya dan—“


“Sangat klise. Kau tahu itu? Sangat tidak cocok dengan karakter dan penampilanmu yang—Aduh!” Raymond meringis saat sebuah tinju mendarat di perutnya. Memang tidak keras, tapi ia sengaja mendramatisasi pemukulan itu dengan postur tubuh setengah meringkuk dan menyeringai seolah sedang menahan sakit.


“Benar-benar kejam ...,” gerutu Raymond pelan. “Aku keliru, hanya penampilanmu yang berubah, tapi kamu tetap masih segalak dulu ....”


Lorie mendengkus dan berseru dengan galak, “Itu akibatnya karena berani meledekku!”


“Tuan, Nyonya ... kalian tampak sangat serasi,” sapa seorang juru foto yang sedang berdiri di tepi jalan. “Bagaimana kalau ambil sebuah foto untuk kenang-kenangan? Kelak saat kalian memiliki anak, kalian bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kalian pernah datang di kota paling romantis di dunia.”


Lorie sangat terkejut sampai sedikit tergagap ketika ingin mengoreksi ucapan itu, “A-apa? K-kami tidak--”


Pria itu seolah tidak melihat wajah Lorie yang memucat dan panik. Ia tersenyum dengan sangat lebar dan mengambil setangkai bunga mawar merah dari dalam keranjang alumunium di dekat kakinya.

__ADS_1


“Bunga mawar ini sangat cocok dengan kepribadian istri Anda yang ceria, Tuan. Dia pasti akan sangat senang kalau Anda memberikan kepadanya,” imbuhnya lagi seraya menyerahkan tangkai mawar itu kepada Raymond.


Lorie menatap pria tua itu dan Raymond bergantian, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, apa yang dilakukan oleh Raymond membuatnya semakin terbelalak. Alih-alih meralat ucapan juru foto itu, Raymond justru mengambil tangkai bunga dan menyerahkannya kepada Lorie. Sang juru foto dengan sigap mengabadikan momen itu, kemudian menunjukkannya kepada mereka berdua.


Di bawah cahaya lampu jalan, seorang pria tersenyum lembut sambil menyerahkan setangkai bunga mawar kepada wanita yang tampak terkejut dan tersipu. Dengan latar belakang tembok pembatas dan air sungai yang mengalir tenang, foto itu terlihat seperti muncul dari lukisan masa lalu. Terlihat sangat indah dan hidup. Lorie sampai kehilangan kata-kata saat menatap foto di tangannya.


“Terima kasih, Tuan. Fotonya sangat indah,” ucap Raymond seraya menyerahkan beberapa lembar euro kepada pria tua itu.


“Sama-sama. Semoga hubungan kalian abadi selamanya.”


Lorie tersadar. Ia segera mendongak dan menyela, “Kami tidak—“


Punggung si juru foto sudah menghilang di antara para pejalan kaki. Lorie menoleh ke arah Raymond dan menatapnya dengan ekspresi yang rumit.


“Kenapa kamu tidak meralatnya?” tanya wanita itu.


“Untuk apa? Dia hanya mencari uang, kata-kata seperti itu dia ucapkan kepada setiap pasangan yang dia temui. Kamu tidak perlu memikirkannya,” jawab Raymond sambil tersenyum tipis. “Lagi pula foto itu memang sangat cantik. Bunga mawarnya juga sangat segar. Simpan saja untuk kenang-kenangan.”


Lorie mengepalkan tangan dan menelan kembali semua kalimat yang ingin diutarakannya. Akhirnya ia memilih untuk melihat jam di pergelangan tangannya dan berkata, “Sudah cukup malam, sebaiknya aku kembali ke hotel.”


“Sudah mau pulang?”


“Um. Besok bisa jalan-jalan lagi,” jawab Lorie.


“Tidak perlu,” tolak Lorie tanpa berpikir dua kali. “Aku bisa naik taksi. Kamu tidak perlu repot-repot untuk—“


“Tidak repot. Ayo ....” Raymond menggamit tangan Lorie dan menuntunnya menuju bagian depan alun-alun.


“Kamu tidak takut kekasihmu memergokimu sedang menggandengku seperti ini kemudian salah paham?” tanya Lorie seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Raymond.


Raymond menoleh sekilas ke arah Lorie sambil tersenyum.


“Tidak akan. Alice sangat berpikiran terbuka. Dia tidak akan marah hanya karena aku menggandeng perempuan lain di jalan.”


Lorie mengangkat alis dan menatap Raymond dengan ekspresi tak percaya.


“Dia sangat mempercayaimu sampai pada tahap seperti itu?” tanyanya.


“Hum.”


“Atau aku rasa ... sebenarnya dia tidak mencintaimu sampai tahap harus merasa cemburu kepada wanita lain,” imbuh Lorie lagi, terkekeh ketika melihat wajah Raymond berubah menjadi masam sambil memelototinya.

__ADS_1


“Kamu masih sangat menjengkelkan. Mulutmu juga masih sangat pedas,” gerutu pria itu.


Lorie menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tangannya sambil membalas, “Aku bersungguh-sungguh, Raymond. Jika itu adalah aku ... aku pasti akan sangat posesif kepada pacarku yang tampan.”


“Benarkah? Jadi menurutmu aku ini tampan?” tanyanya.


“Lumayan. Sama sekali tidak buruk ... tapi masih sangat jauh dari kriteria idamanku.”


Raymond mencebik dan mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Lorie dengan gemas.


“Katakan, di mana kamu menginap?”


“Hotel Amber.”


“Oh ... itu sangat ... kebetulan ....” Raymond melambai ke arah taksi yang lewat. “Aku juga menginap di sana.”


“Oh ... benarkah?”


“Eng.”


“Sial sekali nasibku.”


Raymond menggeram, “Lorie ....”


Lorie terkekeh dan menghampiri taksi yang menepi di dekat mereka. Raymond membukakan pintu mobil dan mempersilakan Lorie untuk masuk, sebelum ia sendiri masuk dan duduk di sebelah wanita itu.


“Hotel Amber, Pak,” kata Raymond kepada sopir taksi.


“Baik, Tuan.” Pria tua itu menyalakan lampu sein dan memutar ke arah jalan utama.


“Ngomong-ngomong ... terima kasih sudah menemaniku mengobrol. Tadinya aku berpikir akan menghabiskan waktu sendirian sambil menunggu Alice pulang,” kata Raymond.


“Ck. Benar-benar tragis. Kamu harus mempertimbangkan apakah wanita itu benar-benar mencintaimu atau tidak,” goda Lorie seraya memasang wajah serius dan menatap pria di sampingnya.


“Kamu sangat menjengkelkan, Lorie.” Raymond mendesah tak berdaya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.


“Oh ... aku memang begitu ....”


Kedua orang itu tertawa dan saling menatap sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke luar kaca jendela. Cahaya dari lampu penerang jalan dan gedung-gedung bertingkat tampak membentuk garis warna-warni saat kecepatan mobil bertambah.


Lorie mendesah pelan. Entah karena suasana Kota Venice yang membuatnya jadi melankolis atau karena pria di sampingnya yang tampak sangat tampan, ia merasa tidak bisa bernapas dengan benar.

__ADS_1


***


__ADS_2