
Raymond tahu ia tidak akan bisa masuk ke hotel dan menanyakan identitas orang yang menginap di kamar nomor 325. Entah bagaimana cara Alex Smith mendapatkan informasi itu, yang jelas ia tidak memiliki kemampuan yang sama untuk meminta petugas hotel membiarkannya naik, maka ia hanya bisa membuat orang itu turun menemuinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya gadis berseragam ungu muda yang berada di bagian resepsionis.
“Tolong katakan kepada tamu di kamar 325, Raymond Dawson menunggu di lobi."
"Anda adalah?"
"Katakan saja seperti itu."
"Baik, mohon tunggu sebentar."
Satpam yang berhasil menyusul Raymond langsung berdiri di sampingnya dan berkata, “Tuan, mobil Anda—“
“Tolong panggil polisi,” sela Raymond.
“Apa?”
“Panggil polisi,” ulang Raymond. Ia menatap satpam itu dengan sungguh-sungguh dan menambahkan, “Salah satu tamu hotel Anda merencanakan pembunuhan terhadap seseorang. Cepat panggil polisi kalau kalian tidak mau nama hotel terseret di dalam kasus ini.”
“Apa maksud Anda, Tuan?”
Sang petugas keamanan terlihat sangat terkejut. Pria di hadapannya itu menyetir dengan ugal-ugalan dan berhenti seenaknya di depan hotel, lalu mengancam dengan kasus pembunuhan. Lelucon macam apa ini?
“Menyembunyikan pelaku kejahatan, itu bisa dituntut dengan tuduhan sebagai kaki tangan seorang kriminal karena melindungi seseorang yang ingin melakukan pembunuhan berencana. Kalian masih ingin berdebat denganku?” gertak Raymond seraya menunjukkan kartu identitasnya.
Sang petugas keamanan langsung gemetar ketakutan. Kalau benar apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya itu, bukankah nasib hotel tempatnya bekerja akan hancur. Kalau tidak benar, ia juga bisa memperkarakan pria itu dan menuntutnya untuk membayar kerugian. Oleh karena itu, sang penjaga keamanan langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kantor polisi.
Sementara itu, sang resepsionis yang tadinya sedikit ragu saat menghubungi kamar nomor 315 kini menatap Raymond dengan ekspresi yang sedikit rumit. Tadinya ia mengira tamunya akan menolak untuk turun. Siapa yang menyangka tamu itu langsung menyetujuinya dan meminta ia menyampaikan kepada Raymond agar menunggunya turun.
“Tamu kami meminta Anda untuk tidak pergi ke mana-mana, Tuan.” Ia menyampaikan pesan itu dengan sopan.
__ADS_1
Raymond tidak memberikan reaksi. Jantung dan paru-parunya seperti sedang diremas dengan kencang hingga ia kesulitan bernapas. Hanya dengan mengetahui bahwa orang itu bersedia menemuinya, maka ia sudah tahu bahwa semua informasi yang diberikan oleh Alex Smith tadi benar adanya.
Bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin?
Kedua tangan Raymond gemetaran dan ia tidak bisa berdiri dengan kokoh, terpaksa bersandar ke dinding pembatas bagian resepsionis agar tubuhnya tidak tumbang. Ia sama sekali tidak menyangka semua kegilaan ini ada hubungannya dengan ....
“Ray?”
Suara itu ....
Raymond mengangkat wajahnya dan mencari sumber suara itu. Dari kejauhan, wajah yang sangat dikenalnya tampak tersenyum lebar dan tanpa dosa, seolah tidak ada hal mengerikan yang baru saja dilakukan olehnya ... seolah ia tidak melakukan apa pun untuk mencoba merenggut nyawa orang lain.
Betapa mengerikannya ....
“Raymond, itu sungguh kamu? Aku tidak percaya ... kamu datang mencariku? Dari mana kamu tahu—“
Plak!
“Ray! Apa yang—“
“Diam!” Raymond menggertakkan gigi dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melayangkan tamparan lagi ke wajah wanita di hadapannya.
“Seumur hidup aku tidak pernah memukul perempuan, tapi kamu adalah pengecualian, Alice. Kamu benar-benar manusia rendahan. Sampah!”
Raymond sudah tidak memedulikan image-nya lagi. Saat ini seluruh tubuh dan akal sehatnya sedang dikuasai oleh amarah, kebencian, dan juga rasa jijik. Semua itu terpancar jelas dari aura ingin membunuh yang keluar dari tubuhnya.
Alice memandang Raymond dengan mata yang basah. Wajahnya sakit setelah ditampar, tapi kata-kata kasar yang diucapkan oleh pria itu sudah sangat keterlaluan, bukan?
“Ada apa, Ray? Kenapa? Apa yang—“
__ADS_1
“Berhenti berpura-pura!” sentak Raymond seraya melemparkan amplop cokelat ke wajah Alice.
Saat melihat lembar demi lembar foto yang berserak di lantai, juga fotocopy tiket pesawat miliknya dan transaksi pengiriman dana yang ia lakukan ke akun bank seseorang ... semuanya tumpang tindih ... Alice tidak bisa mengelak lagi.
Wanita itu tertawa, tapi derai air mata membasahi wajahnya.
“Jadi sudah ketahuan? Aku tidak mengira akan secepat ini ...,” gumamnya sambil menatap Raymond lekat-lekat.
“Apa dia mati?” tanyanya dengan ekspresi yang sangat puas.
“Kamu!” Raymond melotot dan melompat maju untuk mencekik Alice. “Dasar Ja*lang! Aku pasti buta karena pernah mencintai sampah seperti dirimu!”
Satpam dan orang-orang yang berkerumun tidak berani melerai karena Raymond sudah mengancam dengan pasal menjadi kaki tangan kriminal tadi. Lagi pula, polisi sedang dalam perjalanan, seharusnya sebentar lagi sampai.
Benar saja, saat wajah Alice sudah hampir membiru, dua orang polisi segera menerjang maju dan memisahkan kedua orang itu.
“Tuan, Anda bisa dipenjara jika wanita ini sampai mati,” tegur salah seorang petugas polisi.
Ucapan itu menyadarkan Raymond. Ia mengempaskan Aiice ke lantai dan menyeka tangannya dengan ekspresi jijik.
“Aku ingin semua ini diselesaikan secara hukum. Semua bukti yang kalian butuhkan ada di situ,” ucap Raymond sambil memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin menatap wajah Alice lagi, sungguh membuatnya merasa muak.
Tiba-tiba, dari antara kerumunan ada yang berseru, “Ya, Tuhan. Bukankah wanita itu adalah Alice? Model internasional yang terkenal itu.”
Dalam sekejap kerumunan itu saling berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arah Alice. Melihat hal itu, Alice semakin menggila. Ia tertawa hingga kepalanya mendongak, tapi air mata justru menderas di pipinya.
Semuanya sudah hancur. Sekalian saja hancur bersama-sama!
***
makasih untuk yang selalu like,komen, dan vote...
__ADS_1
bener2 jadi penyemangatku.
love you all