Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 55


__ADS_3

Kota Broocklyn.


Alice mematut diri di depan cermin. Lingerie yang ia pakai menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sebagai seorang model, tak ada cacat di tubuhnya, bahkan lemak berlebih pun tidak ada. Semuanya padat dan berlekuk indah. Mustahil ada pria yang bisa menolaknya, apalagi dengan sehelai kain tipis yang hanya menutupi bagian intimnya saja.


Wanita itu memoles pelembab bibir dan merias diri dengan tampilan natural look. Ia tidak mau tunangannya itu mati rasa sebelum niatnya terlaksana. Ya, malam ini ia sudah bertekad harus menaklukan kekasihnya itu di atas tempat ranjang.


Sudah tiga hari ia menginap di rumah Raymond, tapi pria itu masih memintanya untuk tidur di kamar tamu, padahal bulan lalu mereka sempat tidur satu kamar di hotel—meski tidak melakukan aktivitas intim selain berpelukan dan berciuman.


Sementara di sini, meski hanya ada mereka berdua dalam satu rumah, Raymond selalu menolaksaat Alice mencoba melakukan kontak fisik. Walau hal itu tidak dilakukan secara terang-terangan, tetap saja di mata Alice, itu adalah tanda-tanda kemunduran hubungan mereka. Oleh karena itulah, malam ini ia berniat untuk menaklukkan kekasihnya itu. Toh, sebentar lagi, mereka akan segera menikah. Sekarang atau nanti, apa bedanya?


Setelah yakin penampilannya sudah cukup menggoda dan tak bisa ditolak, Alice melapisinya dengan piyama yang berbentuk seperti kimono berwarna hitam dan berjalan keluar.


Ia pegi ke ruang tamu, tapi tidak ada siapa pun di sana. Ia lalu berjalan ke kamar Raymond. Dari bawah pintu, tampak lampu kamar masih menyala. Itu artinya Raymond belum tidur.


Alice mengulum senyum dan pergi ke dapur. Ia menyiapkan segelas kopi, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan transparan dari dalam saku piyama. Dengan sangat cepat ia membuka tutup botol dan menuangkan semua isinya ke dalam kopi. Sambil melirik ke pintu, wanita itu membungkus botol kosong dengan tisu sebelum membuangnya ke tempat sampah.


“Aku tidak percaya kamu tidak akan menyentuhku setelah meminum ini, Ray,” gumam Alice seraya menaruh gelas ke atas nampan. Iris cokelatnya berkilat cemerlang saat berjalan melewati ruang ramu dan kembali ke kamar Raymond.


“Sayang?” panggilnya seraya mengetuk pintu dengan satu tangan.


Tak lama berselang, terdengar suara kunci diputar. Alice tersenyum lebar saat pintu terbuka dan Raymond berdiri di hadapannya.


“Sedang sibuk?” tanya wanita itu seraya menyodorkan nampan. “Ini, aku buatkan kopi untuk menemanimu kerja.”

__ADS_1


Raymond menerima pemberian itu sambil mengulas senyum tipis dan berkata, “Terima kasih. Kenapa belum tidur?”


“Baru mau tidur, tapi kebetulan saat lewat aku lihat lampu kamarmu masih menyala, jadi ....”


Alice tersenyum dan menyelipkan anak rambut ke balik telinga. Ia menatap Raymond dengan ekspresi malu-malu dan berkata, “Kamu coba dulu, kurang manis tidak? Kalau kurang manis, aku ambilkan gula.”


“Um.”


Raymond meniup permukaan gelas sebentar sebelum menyesap kopi satu teguk.


“Enak. Terima kasih,” ucapnya seraya membalas senyuman Alice. “Istirahatlah.”


“Baik,” jawab Alice dengan patuh.


Ia berbalik dan berjalan menjauh. Kilatan di matanya tampak dalam dan jelas. Ia mencampurkan seluruh isi botol, dengan begitu bahkan hanya dengan satu teguk akan memiliki efek yang luar biasa. Ia tahu mungkin Raymond tidak akan menghabiskan kopi itu, jadi ia mengambil risiko dan mempertaruhkan seluruh keberuntungannya.


Mata Alcie berkilat semakin tajam. Ia belok ke dapur, menuangkan tiga sendok cokelat bubuk ke dalam gelas dan menyeduhnya dengan air panas.


“Ah!” Ia memekik tertahan ketika tangannya terkena siraman air dari dispenser.


Tidak sampai tiga detik, terdengar derap kaki menuju ke arahnya dengan cepat. Diam-diam sebuah senyum tumpul muncul di wajahnya. Ia mendesis dan mengerang pelan sambil meniup-niup punggung tangannya yang tampak memerah.


“Ada apa, Alice?” tanya Raymond yang sudah berdiri di samping Alice.

__ADS_1


“T-tidak apa-apa, hanya tersiram air panas,” jawab Alice sambil memaksakan seulas senyum sehingga penampilannya jadi terlihat sedikit menyedihkan karena berusaha tampak tegar.


Raymong menarik tangan wanita itu dan memosisikannya di bawah keran air yang menyala. Setelah beberapa saat, ia mematikan keran dan memeriksa tangan Alice yang terlihat sedikit melepuh.


“Ikut aku. Ada salep untuk luka bakar di kamar,” ucap pria itu tanpa melepaskan cekalan tangannya.


Senyuman di sudut bibir Alice semakin dalam. Ia tidak mengatakan apa pun saat Raymond membawanya ke kamarnya. Pria itu menyuruhnya untuk duduk di kursi kecil di sebelah meja kerja, sementara dia pergi mengambil obat.


Raymond mengerjap beberapa kali saat berdiri di depan lemari. Kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman. Ia melepaskan satu kancing kemejanya untuk mengurangi rasa tercekik yang membuatnya sesak panas, kemudian mengambil salep untuk luka bakar dan membawanya untuk Alice.


“Biar aku saja,” ucap Alice seraya mengambil salep dari tangan Raymond.


Pria itu sedikit terkesiap ketika Alice tanpa sengaja menyentuh tangannya. Permukaan kulit wanita itu terasa sangat dingin, membuatnya ingin menempelkan tubuhnya yang terasa semakin panas dan tidak nyaman.


Saat melihat Alice mengusap salep ke punggung tangannya yang merah, otak Raymond seolah terdistorsi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, lalu buru-buru bangun dan melarikan diri ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Anehnya, meski telah membasuh wajahnya berkali-kali, rasa panas justru menjalar semakin tak terkendali.


Apa yang terjadi?


***


Jangan lupa like dan vote yaa, makasihh

__ADS_1



~B


__ADS_2