
Rupanya jemputan yang dikatakan oleh Lorie tiba lebih awal. Billy dan Alex sudah datang sebelum pukul 11.00. Kedua orang itu tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Raymond, tapi sedikit bertanya-tanya ketika melihat Daniel juga ada di sana.
“Tuan Alex, Tuan Billy,” sapa Raymond dan Daniel bersamaan.
Raymond yang masih berdiri sedikit menyingkir dan memberi jalan agar Alex dan Billy bisa duduk di sofa.
Setelah kedua pria itu duduk, mendadak ruangan itu terasa sempit karena diisi oleh empat orang pria dengan aura yang saling menekan satu sama lain.
Lorie diam-diam menunduk dan merasa menyesal dalam hati karena sudah meminta Alex dan Billy datang. Kalau tahu begini, lebih baik ia naik taksi saja. Sekarang hanya bisa menghela napas dan mendengarkan kalimat sindiran tidak masuk akal yang akan dilontarkan oleh pria-pria kekanakan itu.
“Rupanya CEO EON’s Company benar-benar santai,” sindir Billy.
Lihat. Benar ‘kan tebakannya? Lorie mendengkus dan menatap Billy dengan sangat emosi. Pria itu benar-benar ... suatu hari nanti dia pasti akan sial karena mulutnya yang tidak bisa dikontrol itu.
Daniel hanya tersenyum sekilas tanpa merasa bersalah mendengar perkataan Billy. Ia bahkan tidak mau repot-repot menanggapi sindiran itu. Baginya, orang yang tidak ada urusan dengannya sama sekali tidak penting.
Untungnya Billy tidak bisa mengetahui pemikiran Daniel itu, kalau tidak ... mungkin dia sudah mendeportasi Daniel ke Dubai setelah membuatnya babak belur lebih dulu.
Alex yang tidak mau ikut campur urusan remeh seperti itu memilih untuk tidak memedulikan kedua orang itu. Ia duduk dengan tenang dan bertanya kepada Lorie, “Bagaimana kondisimu? Kenapa terburu-buru untuk keluar?”
“Tidak apa-apa. Dokter bilang sudah oke kalau ingin keluar hari ini.”
“Itu karena kamu terus memaksa dan bertanya,” timpal Billy.
Lorie tersenyum kaku dan tidak tahu harus bagaimana membalas ucapan itu. Billy benar, ia yang sudah memaksa dokter untuk memberinya izin keluar dari rumah sakit.
“Sudahlah, yang penting tetap jaga kondisi tubuhmu setelah pulang nanti. Aku akan meminta perawat untuk lebih memperhatikan asupan makanan dan jadwal istirahatmu,” kata Alex saat melihat Lorie sedikit kesulitan karena ucapan Billy barusan.
__ADS_1
“Baik, terima kasih, Tuan.”
Alex hanya bergumam dan mengangguk sekilas. Ia lalu menatap Raymond dan berkata, “Terima kasih karena sudah membantu menjaga Lorie. Lain kali kamu bisa datang ke mansion untuk menjenguknya.”
Raymond tertegun mendengar perkataan itu. Apakah Alex Smith baru saja memberi lampu hijau kepadanya? Dalam sekejap ia menyeringai lebar hingga terlihat seperti orang bodoh.
Raymond mengangguk cepat dan mengatakan terima kasih berulang kali. Jika bukan karena ada banyak orang di dalam ruangan itu, rasanya ia ingin sekali melompat dan bersorak kencang.
Bukankah sekarang skornya menjadi 2-0?
Sementara itu, di dekat jendela Daniel mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas paha dengan tempo acak. Jika Raymond diperbolehkan untuk berkunjung kapan saja, lalu bagaimana dengan dirinya? Ia juga ingin mendekati seseorang, oke? Untuk mendapatkan perhatian wanita itu saja sudah cukup susah, apakah masih harus ditambah dengan mendapatkan restu dari orang-orang di sekelilingnya lagi? Memikirkan hal itu membuat wajah Daniel benar-benar terlihat sangat jelek.
Tiba-tiba pintu terbuka lagi dan Ana melangkah masuk. Ia sudah menebak akan ada Daniel di dalam ruangan, jadi ia langsung mencari wajah Lorie dan tersenyum kepadanya.
“Administrasi sudah selesai aku urus. Ayo, kamu sudah bisa pulang,” ucapnya.
Diam-diam ia menghela napas panjang. Sekarang kamar ini benar-benar sangat ramai. Ia hendak pergi mengambil kopernya di ruangan sebelah, tapi Raymond yang tahu tujuannya bergegas pergi mengambilkan benda itu. Ia memberi tatapan terima kasih kepada Raymond, lalu berbalik ke arah pintu ke luar.
“Perlu aku ambilkan kursi roda?” tawar Ana.
Lorie memutar bola matanya dan menunjukkan ekspresi bosan.
“Aku tidak lumpuh. Cukup berjalan pelan-pelan saja,” balasnya.
Ana terkekeh dan memapah Lorie keluar dari ruang perawatan, sama sekali tidak menyadari tatapan tajam yang sejak tadi ditujukan kepadanya oleh seseorang.
Billy dan Alex menyusul di belakang Ana dan Lorie. Raymond menyeret koper di belakang mereka, sedangkan Daniel berjalan paling akhir.
Di sepanjang lorong rumah sakit, iring-iringan itu terlihat sangat mencolok. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Beberapa gadis berbisik-bisik dan menunjuk ke arah Daniel dan Raymond secara terang-terangan. Sebagian lainnya justru mengambil ponsel dan memfoto pria-pria itu sambil cekikikan.
“Dasar remaja puber,” gerutu Ana saat melihat tingkah remaja-remaja itu.
__ADS_1
Lorie hanya tertawa pelan dan terus berjalan tanpa memedulikan itu semua. Ada satu hal yang membuatnya sangat bersemangat kali ini. Ia sudah sangat tidak sabar.
“Lorie, kamu dan Ana naik mobilku saja,” ujar Raymond saat mereka sudah tiba di tempat parkir.
“Tidak perlu, dia akan naik mobilku,” sela Ana.
Ia segera memapah Lorie menuju mobilnya yang berada di sebelah mobil Billy. Namun, saat tiba di samping mobilnya, ia terkejut mendapati kedua ban belakangnya kempes.
“Apa yang terjadi? Mobil ini masih baik-baik saja ketika aku meninggalkannya tadi,” gumam Ana tak percaya.
“Ada apa?” tanya Alex.
“Ban mobilku kempes.”
“Mungkin kamu melindas paku,” kata Lorie.
“Tidak mungkin. Aku—“
“Sudahlah, naik mobilku saja. Nanti aku akan menyuruh orang untuk membawa mobilmu ke bengkel untuk diperbaiki,” ucap Daniel yang tiba-tiba sudah berada di dekat kedua wanita itu.
Ana bahkan tidak menoleh ke arahnya. Ia langsung membawa Lorie ke arah Raymond dan berkata, “Kami naik mobilmu.”
“Baik.”
Raymond tersenyum lebar dan membukakan pintu untuk Lorie dan Ana. Setelah mereka naik, ia menyalakan mobil dan melaju meninggalkan Daniel yang masih terpana karena dicampakkan begitu saja.
Karena terlalu bahagia, Raymond sampai lupa berpamitan kepada Alex dan Billy yang masih berada di tempat parkir.
Ia melonggarkan dasinya dan bersorak dalam hati. Skornya menjadi 3-0!
Daniel yang masih terbengong hanya menjawab asal saat Billy dan Alex menegurnya dan pergi dengan mobil mereka.
Tak lama kemudian, sesosok pria yang memakai jaket kulit keluar dari lorong sebelah kanan dan membungkuk di hadapan Daniel dengan ekspresi bersalah.
“Tuan, maafkan saya,” ucap pria itu tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Dasar tidak berguna,” gerutu Daniel seraya menepis tangannya dengan kesal. “Seharusnya tadi kamu mengempeskan ban mobil milik pria sialan itu juga.”
“Saya bersalah, Tuan. Lain kali—“
“Tidak ada lain kali! Minggir!” seru Daniel dengan kesal sebelum masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Lain kali ... bagaimana caranya menjerat wanita itu?
***