Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 108: Jadilah Milikku Selamanya


__ADS_3

“Alex?” Kinara mengguncang bahu suaminya. “Ada apa?”


Ia tidak melihat adanya keanehan pada arah yang ditatap oleh suaminya itu. Selain bianglala raksasa yang tidak terlalu penuh dan pengunjung yang berlalu lalang, ia tidak melihat hal yang mencurigakan.


Alex mengerjap beberapa kali sebelum menoleh ke arah Kinara. “Apa?” tanyanya dengan wajah linglung.


“Siapa Jessie?”


“Jessie? Um, tidak. Aku salah mengenali orang,” jawab Alex seraya menggenggam tangan Kinara, “Ayo, wahana mana yang ingin kamu coba lagi?”


Kinara bergeming. Ia mendengar dengan jelas suaminya menyebut nama itu, tapi sekarang pria itu menyangkal? Ia akan lebih senang kalau Alex menjelaskannya secara langsung, bukannya malah ingin mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya ke wahana lain.


Memangnya aku anak kecil?


“Kamu mengira baru saja melihat Jessica, bukan? Mantan kekasihmu itu?” cecar Alex sambil menatap Alex lekat-lekat.


Alex membuka mulutnya, hendak mengucapkan kata-kata penyangkalan. Namun, melihat tatapan istrinya yang menghujam hingga ke dalam relung jiwanya. Akhirnya ia hanya bisa mendesah pasrah.


“Maaf, aku mengacaukan kencan kita. Seharusnya aku tidak menghiraukannya,” ujarnya seraya mendekap pundak Kinara dan menciumi wajahnya.


“Memang seharusnya tidak!” balas Kinara sambil menjauhkan wajahnya dari serangan ciuman Alex yang bertubi-tubi, “Kalau tadi memang benar dia, apa yang akan kamu lakukan? Mengejarnya dan meninggalkanku di sini?”


“Tidak ... aku ....”


“Kantung hotdog-ku bahkan tertinggal dan kamu tidak menyadarinya!”


“Ayo, kubelikan la–“


“Tidak usah. Kamu menyebalkan! Aku mau pulang!”


“Hey!” Alex menahan lengan Kinara yang sedang meronta dan berusaha meloloskan diri dari pelukannya. “Aku tahu aku salah, maafkan aku ....”


“Kamu masih mencintainya?”


“Tidak!” sanggah Alex membalas tatapan istrinya yang membara, “Aku hanya mencintaimu sekarang. Sudah kukatakan, dia hanya masa lalu. Aku hanya ... mungkin karena kami sudah terbiasa bersama sejak kecil. Aku berutang budi padanya, hal itu membuat ada semacam keterikatan yang ... kau tahu ....”


“Tidak. Aku tidak tahu!” sela Kinara, “Aku mau pulang.”


Alex menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Seharusnya ia tidak bereaksi seperti tadi, meskipun seandainya Jessica benar-benar muncul di hadapannya. Kini semuanya sudah berubah, ia sudah memiliki seorang istri yang luar biasa, dan mungkin sebentar lagi akan ada bayi. Kinara memang pantas untuk memarahinya.


“Paling tidak, ayo cari souvenir sebelum pulang,” bujuknya seraya mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah istrinya.


Kinara menepis tangan suaminya. Hatinya benar-benar panas. Sangat panas hingga ia cukup yakin ada asap yang menguap dari atas kepalanya. Ia berharap Alex bisa melihat kepulan asap kecemburuan itu dan mencoba untuk membujuknya lebih keras lagi.


Sial. Aku benar-benar cemburu ....


“Baby, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Oke?”

__ADS_1


“Aku tidak percaya,” desis Kinara dengan mata menyipit. Melihat dari gelagat suaminya itu, dia pasti akan sangat mudah dimanipulasi oleh Jessica. Hanya dengan melihat bayangannya saja sudah membuat pria itu linglung, bagaimana kalau wanita itu benar-benar muncul nanti?


“Sayang, jangan bertengkar di sini, please ... mari selesaikan kencan kita, lalu kamu boleh menghajarku di rumah,” ujar Alex. Ia berusaha mendekati Kinara, tetapi wanita itu tetap menjaga jarak di antara mereka.


“Aku tidak ingin kencan lagi,” balas Kinara seraya berjalan menuju gerbang ke luar.


“Kinara!” panggil Alex sembari berusaha menyamakan langkah kakinya dengan istrinya, “Baby, paling tidak, ayo beli sepasang kaos couple. Bukankah itu yang sering dilakukan orang-orang ketika berkencan?”


Kinara menghentikan kakinya dengan tiba-tiba hingga Alex harus mengerem langkahnya yang terlalu lebar. Pria itu berbalik dan mendapati Kinara sedang berkacak pinggang dan menatapnya dengan sorot menyelidik.


“Dari mana kamu tahu semua mengenai kencan ‘orang biasa’ ini?” tanya Kinara.


Sejujurnya, perhatian Alex mampu membuat hatinya meleleh. Kalau dibandingkan dengan tingkahnya yang mengejar bayangan Jessica tadi, itu tidak ada apa-apanya. Setelah semua masalah dan badai yang mereka lewati untuk sampai di tahap ini, ditambah satu orang wanita pengganggu seharusnya tidak akan menggoyahkan ikatan di antara mereka, bukan?


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Daun telinganya memerah. Pria itu terlihat sangat imut dengan latar belakang langit biru dan bianglala raksasa.


“Aku mencarinya di internet,” akunya sambil mengusap ujung hidungnya.


Kinara mendesah pelan. Kedua pundaknya yang tegang seperti banteng yang siap bertarung luruh ketika ia menghambur ke dalam pelukan suaminya.


“Terima kasih,” ujarnya dengan wajah menempel di dada Alex, “Terima kasih sudah berusaha keras untuk menyenangkanku.”


Alex terpaku sejenak. Perubahan emosi wanitanya yang tiba-tiba membuatnya cukup terkejut. Kedua tanganya yang mengembang di udara perlahan turun dan mengusap pundak istrinya dengan penuh rasa sayang. Ia menunduk dan menciumi puncak kepala Kinara, menghidu aromanya yang menyenangkan. Seperti ice cream vanilla.


“Sudah tidak marah lagi?” bisiknya pelan.


“Cemburu?” Alex menjauhkan kepala Kinara dan menatap wajahnya. “Kamu cemburu padaku?”


“Hum. Cemburu sampai aku hampir berubah menjadi seekor naga betina gila yang siap menyemburkan api kapan saja.”


Alex terkekeh hingga kepalanya mendongak. Ia mengetatkan pelukannya dan membiarkan rasa nyaman membuat hormon endorfin menyebar ke seluruh tubuhnya.


“Kamu sangat menakutkan ketika marah ... um, maksudku cemburu, tapi aku menyukainya," ucap Alex di sela tawanya, "Naga Betina Gila, ayo selesaikan kencan kita.”


Kinara mendelik dan mencubit pinggang Alex hingga pria itu berteriak kesakitan.


“Rasakan!” seru Kinara.


Alex meringis dan mengejar istrinya yang sedang berjalan menuju stand permen gulali kapas.


“Aku mau yang warna pink dan biru,” ujar Kinara sambil menyodorkan selembar pecahan 10 dollar pada penjual.


Setelah menerima uang kembali dan permennya, Kinara menyodorkan gumpalan berwarna biru pada Alex, lalu berjalan seraya menyuapkan potongan permen kapas ke mulutnya.


“Cobalah. Ini enak sekali,” ujarnya pada Alex yang sedang menatap permen kapas di tangannya dengan ekpresi tidak terbaca.


Kinara menarik sedikit permen miliknya dan menyodorkannya ke mulut suaminya.

__ADS_1


Alex tersenyum ketika gumpalan permen kapas mencair dalam mulutnya. Memang enak. Ia membuka bungkusan permen kapasnya dan memakannya seperti Kinara memakannya. Sepasang suami istri itu kembali berjalan mengelilingi arena bermain untuk mencari kaos couple.


Akhirnya mereka menemukan stand pakaian untuk pasangan di dekat air mancur yang ada di tengah arena bermain. Tadinya Alex ingin membeli semua pakaian yang ada di stand itu, tetapi Kinara memelototinya. Akhirnya setelah memilih hampir setengah jam, Alex mengambil sepasang kaos hitam bertuliskan “Mr” dan “Mrs”, sedangkan Kinara memilih sepasang kaos putih dengan gambar sepasang sayap malaikat di bagian punggung.


“Kenapa ini lebih mirip sayap kelelawar?” protes Alex ketika melihat gambar pada kaos pria yang dipilih oleh istrinya.


Kinara menyeringai lebar sambil berkata, “Gambar pada kaos-kaos tidak bermerk seperti ini tentu saya berbeda sangat jauh dari yang seharusnya, Sayang. Kamu yakin mau memakainya? Kalau tidak, aku akan menukarnya dengan yang lain.”


“Tidak usah. Ini pilihanmu. Tentu saja aku akan memakainya,” ujar Alex tetap bersikeras. Ia memasukkan pakaian itu ke dalam kantung belanja dan membayarnya.


Kinara tersenyum puas. Ia benar-benar sangat menyukai kencan mereka ini. Ia akan menganggap sikap Alex yang menyebalkan tadi sebagai pengecualian, atau menganggap suaminya tidak pernah melakukan hal menjengkelkan itusama sekali. Ia juga tidak akan menyimpannya dalam memori. Kencan mereka terlalu indah untuk dirusak dengan kenangan seperti itu.


Semburat cahaya jingga membias di langit menjelang senja. Kinara melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul lima sore. Waktu berjalan sangat cepat. Rasanya ia belum puas mencoba semua wahana, tapi ... ada satu yang sangat ingin dilakukannya.


“Ayo, naik bianglala!” ajaknya ketika Alex selesai membeli kaos couple mereka.


Alex tersenyum lebar dan mengikuti langkah kaki istrinya. “Pelan sedikit, nanti jatuh,” tegurnya ketika melihat Kinara mulai berlari kecil.


“Cepatlah! Kita harus menunggu kloter selanjutnya kalau tidak bergegas,” ujar Kinara ketika melihat bianglala masih berhenti dan menunggu hingga semua keranjang besinya penuh.


“Baiklah, Naga Betina,” jawab Alex sambil mulai berlari mengikuti Kinara.


Pria itu langsung menuju loket dan membeli karcis. Kinara benar, untung mereka tiba lebih cepat. Mereka adalah pasangan terakhir yang masuk dalam keranjang besi. Bianglala langsung berputar, perlahan naik seakan sedang menuju langit.


“Indah sekali,” desah Kinara sambil menatap ke luar.


“Memang indah,” gumam Alex seraya menatap wajah istrinya yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja, benar-benar terlihat seperti seorang malaikat.


Putaran bianglala semakin tinggi. Mereka hampir mencapai puncak.


Alex merengkuh pinggang Kinara. Ia menarik wajah istrinya agar mendekat, lalu berbisik, “Menurut mitos, jika sepasang kekasih berciuman di puncak teratas bianglala, maka cinta mereka akan abadi selamanya.”


Mata Kinara mengerjap pelan. Dari mana suaminya tahu hal ini? Ia memang sengaja meminta Alex menaiki wahana ini karena mitos itu. Ia juga sengaja menunggu ketika sudah hampir senja karena pemandangannya pasti lebih cantik. Namun perkataan suaminya barusan membuat semuanya terasa seribu kali lebih indah.


Kinara menyentuh dagu Alex dengan sangat lembut, mengusap bibir pria itu perlahan dengan jemarinya.


"Aku sungguh berharap mitos itu menjadi kenyataan," balasnya seraya tersenyum manis.


“Kinara Lee, jadilah milikku selamanya,” ujar Alex seraya menutup jarak di antara mereka dengan satu kecupan lembut di bibir istrinya.


Mata Kinara terpejam erat ketika Alex melum*at habis bibirnya, lidahnya mencecap manis permen kapas yang masih tertinggal. Angin sepoi-sepoi ditambah perpaduan kenikmatan dan keindahan ini ... rasanya benar-benar seperti di surga.


Jadilah milikku selamanya ....


Kalimat itu terus terngiang di telinga Kinara sampai Alex melepaskan ciuman mereka, dan mungkin akan terus terngiang sampai akhir hidupnya.


***

__ADS_1



__ADS_2