
Alex membalas sapaan beberapa orang yang dikenalnya sekilas. Ia pura-pura tidak melihat orang-orang yang dulu langsung menghilang atau membatalkan kontrak ketika ia berada dalam titik terendah di hidupnya. Lucu melihat bagaimana manusia-manusia parasit itu bersikap seolah tidak pernah mencemooh atau menertawakannya, mereka tidak segan-segan menjilat ludah mereka sendiri dan kembali merangkak di bawah kakinya. Ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk sampah-sampah itu.
“Alex!”
Tubuh Alex terhenti ketika sebuah tangan yang mulus melingkar di lengannya dengan tiba-tiba.
“Apa yang kau lakukan?” desis Alex dengan nada mengancam ketika melihat siapa yang menahannya.
“Maaf,” ujar Jessica seraya melepaskan kembali tangannya, “Aku cukup sulit beradaptasi dengan kebiasaan lama yang—“
“Jangan menguji kesabaranku, Jessie!” geram Alex sebelum melanjutkan langkahnya.
“Alex, tunggu!” Jessica berlari kecil dan berhenti tepat di depan Alex. “Granny memintamu untuk menemaniku ke atas. Kacamatanya tertinggal di kamar. Dia ingin aku mengambilkannya.”
“Kenapa dia tidak meminta pelayan untuk mengambilkannya?” tanya Alex dengan nada tidak suka yang sangat jelas.
“Kamu tahu, dia tidak mempercayai pelayan.” Jessica menggigit bibirnya dan menampilkan ekspresi wajahnya yang serba salah. “Dia juga mungkin tidak terlalu percaya padaku sehingga memintamu untuk menemaniku.”
Alex mendengkus dan berkata, “Tidak masuk akal!”
“Pergilah sendiri,” ujarnya lagi sebelum berjalan menjauh.
Kedua tangan Jessice mengepal kuat, tetapi ekspresi wajahnya tetap tenang dan datar.. Ia mengambil ponsel dari tas tangannya dan menulis pesan singkat.
Jalankan plan B!
Ia memasukkan kembali ponselnya lalu berjalan di belakang Alex, menjaga jarak agar pria itu tidak curiga. Seringai tipis dan licik muncul di wajahnya ketika seorang gadis yang memakai pakaian seragam seperti seorang pelayan menghampiri Alex dan berbicara padanya.
“Tuan, Nyonya Kinara tidak enak badan. Nyonya meminta saya menyampaikan pada Anda untuk segera ke kamar lama Anda di lantai dua.”
“Apa?” Alex cukup terkejut mendengar informasi itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke lantai atas.
Jessica tersenyum puas. Setelah memastikan tidak ada yang memerhatikan gerak-geriknya, ia memutar ke anak tangga yang berseberangan dengan tangga yang dipakai Alex dan menyelinap ketika tidak ada orang yang menyadarinya.
Seluruh lantai atas terlihat sepi. Alex setengah berlari ke kamarnya, mendorong pintu dengan tergesa dan menyalakan lampu.
“Nara?” panggilnya ketika melihat tidak ada siapa pun dalam ruangan itu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintunya.
“Baby?”
Kening Alex berkerut ketika mendapati kamar mandi pun kosong.
Klik.
Tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Alex belum sempat berbalik dan memeriksa ketika sesuatu yang tajam terasa menyengat tengkuknya.
“Ah!” Ia memekik pelan dan mengusap bagian belakang kepalanya seraya berbalik.
“Kinara?” panggilnya ketika melihat siluet seorang wanita di dekatnya.
Aroma vanilla yang sangat dikenalnya tiba-tiba menyeruak dalam indera penciumannya. Alex menggoyangkan kepalanya untuk menghalau rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Lantai yang dipijaknya terasa berputar. Pria itu merambat di tembok dan terhuyung menuju tempa tidur yang terlihat sangat jauh dan bergelombang.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” gumam Alex sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Ia hampir melupakan sosok yang ada di didekatnya ketika tiba-tiba sebuah tubuh yang hangat dan lembut menempel di lengan kirinya.
“Biarkan aku membantumu,” ujar suara itu pelan, lalu memapahnya dengan sangat hati-hati menuju tempat tidur.
“Baby, kenapa suaramu berubah?” tanya Alex di antara batas kesadarannya yang semakin menipis.
Sosok itu mengabaikan pertanyaan Alex dan mulai melepaskan kancing kemeja pria itu satu per satu.
“Apakah terasa tidak nyaman?” bisiknya sambil menelusuri permukaan kulit Alex yang memerah di bawah cahaya lampu remang-remang.
Alex mengerang pelan. Separuh otaknya yang masih tersadar memberi sinyal untuk menolak sentuhan wanita di depannya. Namun, lebih dari sebagian tubuhnya yang telah terpengaruh oleh sesuatu yang mengalir dalam darahnya mulai memberi respon. Ia membalas sentuhan hangat yang memberi rasa nyaman pada tubuhnya yang membara.
“Kinara? Baby ... aku menginginkanmu ...,” desah Alex seraya menarik lepas pakaian wanita di hadapannya.
Raut wajah wanita itu berubah sekilas dalam kegelapan. Namun hanya sekejap, detik berikutnya ia menyeringai licik dan menarik lepas ikat pinggang Alex, lalu menanggalkan sisa pakaian yang menempel di tubuhnya sendiri.
“Aku juga menginginkanmu, Sayang,” ujar wanita itu lalu menunduk dan melum*at habis bibir Alex.
Ia memekik dan menyeringai puas ketika Alex menarik tubuhnya mendekat. Deru napas mereka saling beradu di udara, mengobarkan bara api yang liar dan berbahaya.
"Kinara Lee, aku mencintaimu," ujar Alex dengan mata setengah terpejam. Dadanya bergerak naik-turun tak beraturan. Sesuatu yang meletup-letup dalam pembuluh darahnya menuntut untuk dilepaskan.
"Aku juga mencintaimu, Alex ... aku mencintaimu ...."
Tak lama kemudian, ranjang mulai bergemerisik. Dua tubuh tanpa busana itu saling membelit dan memagut. Desahan dan erangan tanpa malu-malu bergema ke seluruh ruangan. Alex benar-benar kehilangan kesadarannya, terus meracau dan menyebut nama Kinara, menyalurkan hasrat yang tiba-tiba tak tertahankan.
***
Ke mana dia? Apa mungkin ke toilet?
Kinara bergegas menuju lorong di sisi kanan, melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu-buru menuju sayap timur.
“Permisi, apakah kamu melihat tuan Alex?” tanyanya ketika berpapasan dengan salah seorang pelayan.
Pelayan wanita yang membawa kantung sampah besar itu menggeleng.
“Tidak, Nyonya. Maaf,” jawabnya.
“Tidak apa-apa. Aku akan mencarinya lagi,” ujar Kinara seraya mempercepat langkah kakinya menuju toilet di ujung lorong.
Ia berhenti di depan toilet pria dan bertanya lagi pelayan yang berjaga di depan pintu.
“Apakah kamu melihat tuan Alex?”
Pria itu pun menggeleng. "Tidak, Nyonya," jawabnya.
Debaran dalam dada Kinara semakin menjadi. Tubuhnya meremang untuk alasan yang ia sendiri tidak tahu. Rasa masam dan pahit memenuhi mulut dan kerongkongannya. Ia berjalan dengan gugup kembali ke tengah ruangan dan mengedarkan pandangan. Alex tidak ada di mana pun.
"Maaf, Nona, Anda tidak diperkenankan untuk naik."
__ADS_1
Kinara menoleh cepat ke asal suara itu. Seorang gadis yang memakai seragam pelayan tampak menahan beberapa orang yang ingin naik ke lantai dua.
"Tapi semua toilet di lantai ini sudah penuh. Aku tidak bisa menunggu," protes wanita bergaun silver yang memegang kipas seperti seorang puteri.
"Maaf, saya hanya menjalankan tugas," balas pelayan itu sambil menunduk dan mempersilakan tamunya untuk pergi ke toilet di ujung lorong yang lain.
Kedua alis Kinara bertaut. Ia belum pernah melihat gadis pelayan itu sebelumnya.
Bergegas ia menghampiri gadis itu dan bertanya, "Siapa yang menyuruhmu berjaga di sini?"
Wajah gadis itu terlihat cukup terkejut, tetapi ia dapat menguasainya dengan cepat.
"Nyonya Besar melarang tamu ke atas. Tidak ada pengawal dan pelayan yang berjaga di sana," jawabnya sambil menunduk dengan sopan.
Granny melarang orang-orang ke atas? Terdengar mustahil kalau tidak ada yang berjaga sama sekali di atas sana.
Kinara berjalan dan hendak melewati gadis pelayan itu, tetapi gadis itu tidak memberinya jalan untuk lewat.
"Maaf, Nyonya. Anda juga tidak boleh," ujar gadis itu seraya menunduk semakin dalam.
"Kenapa tidak boleh? Aku sedang mencari suamiku."
"Silakan menunggu di tempat Anda, Nyonya. Saya akan meminta pelayan untuk mencari tuan."
"Aku tidak ingin membuat keributan. Menyingkirlah," ancam Kinara dengan ekspresi siap membunuh di wajahnya.
Gadis pelayan itu bersikeras sehingga orang-orang yang berlalu-lalang mulai mengalihkan perhatian mereka pada Kinara dan pelayan itu. Akhirnya Kinara mengalah. Ia berjalan menjauh dan mencari tangga yang lain. Namun, dua orang bodyguard kembali menghadang di depannya ketika ia mencoba untuk naik.
"Maaf, nyonya Besar melarang siapa pun untuk naik," ujar pria bertubuh tegap sambil menghalangi akses ke anak tangga.
Geligi Kinara bergemelutuk. Ia menoleh dan mencari-cari kedua mertuanya dalam kerumunan untuk meminta pertolongan. Namun dua orang itu tidak terlihat di mana pun. Hanya granny yang masih tampak sibuk menyapa ke sana-sini. Wanita tua itu terlihat biasa saja dan sangat menikmati acara malam ini.
Apakah orang-orang ini sedang berkonspirasi untuk menyingkirkanku?
"Baik," jawab Kinara sambil tersenyum lebar pada dua orang bodyguard itu.
Jika memang benar granny ikut terlibat dalam semua ini, maka ia tahu dengan pasti apa yang terjadi jika ia memaksa untuk naik.
Ia berbalik dan berjalan menuju deretan meja makanan. Tangannya bergerak secepat kilat meraih sebilah pisau kecil di atas nampan buah dan menyelinap keluar. Tidak ada waktu untuk mencari Lorie atau Billy. Ia harus bergerak cepat.
Sial! makinya dalam hati ketika sedang berusaha keluar lewat pintu samping yang langsung menuju ke kebun.
Berdosakah kalau ia merasa menyesal telah menyelamatkan wanita tua itu tempo hari?
***
weeeitss,tenangg...
jangan mala2 dulu🤣🤣🤣
tunggu part selanjutnya yaaa😁
__ADS_1