Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
47


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tidak terasa kini usia pernikahan Tara dan juga Gio sudah memasuki bulan ke 10. Namun, sampai sekarang wanita itu tidak kunjung hamil juga. Membuat sang mertua merasa kalau Tara adalah wanita yang mandul. Sebab di dalam keluarga besar Lydia dan Malvin tidak ada yang memiliki riwayat mandul. Dan membuat mereka tidak bisa mencurigai kalau Gio yang mandul.


"Gio apa sebaiknya kamu menceraikan Tara saja dan menikah dengan kakaknya, Avantika?" Lydia yang tidak sabar memiliki cucu dari Gio malah mengatakan itu pada putranya sendiri. Membuat Gio yang saat itu sedang memainkan benda pipihnya segera meletakkan kembali ponselnya itu.


"Apa Mommy sudah kehilangan akal sehat?" Gio bertanya balik pada sang ibu. "Kenapa Mommy malah menyuruhku untuk menceraikan Tara dan memintaku untuk menikah dengan Avantika? Bukankah Mommy juga seorang perempuan, dan bisa-bisanya Mommy malah mengatakan itu padaku. Serta bagaimana jika Tara mendengar semua ini? Tidakkah Mommy memikirkan perasaan istriku itu." Gio memang tahu kalau sang ibu ingin sekali memiliki cucu darinya. Namun, menurut Gio tidak begini juga cara wanita yang sudah melahirkannya itu. "Pokoknya aku tidak setuju, Mom."


"Gio, Mommy dulu setuju kalau Tara menjadi istri kamu, karena Mommy pikir anak itu akan cepat hamil. Tapi nyatanya apa sampai detik ini Tara tidak kunjung hamil," ucap Lydia tanpa memikirkan perasaan putranya saat ini. "Sebelum pernikahan kalian semakin lama, dan tidak kunjung ada hasil, malah mendapat nyinyiran dari kekuarga besar kita, ini suatu hal yang tidak pernah Mommy bayangkan sebelumnya," lanjut Lydia.


"Meskipun Mommy menyuruhku, aku tidak akan mau, karena rasa sayangku pada Tara sudah melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri. Coba Mommy mengertilah perasaanku kali ini sedikit saja," sahut Gio yang merasa sangat sedih mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut sang ibu. "Mommy cukup bersabar saja, karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan memberikan aku dan Tara kepercayaan untuk memiliki anak, dan jangan malah Mommy menyuruhku untuk menikah lagi. Ini bukan solusi melainkan ajaran yang tidak benar." Baru kali ini seorang Gio berani menentang kehendak Lydia.


"Cukup Gio! Mommy sudah bosan dan sangat malu setiap kali Mommy di tanya sama teman-teman Mommy tentang kapan akan punya cucu dari istri kamu. Tidakkah kamu saja yang mengerti perasaan Mommy saat ini seperti apa." Lydia benar-benar ingin melihat Gio bercerai dengan Tara. "Avantika tidak mandul, dan gadis itu saat ini sudah tidak hamil lagi. Oleh sebab itu, Mommy memintamu untuk menikahi dia setelah kamu menceraikan Tara. Karena Mommy lihat juga Avantika adalah gadis yang baik-baik."


"Hentikan omong kosong ini Mom, Avantika bukan gadis lagi dia sudah memiliki anak, tapi bayi itu malah dia le nyap kan karena dia sengaja meminum pil penggugur kandungan. Jadi, aku minta dan mohon dengan sangat hentikan semua ini. Karena seperti kataku yang tadi, aku tidak akan pernah menceraikan Tara." Nafas Gio terlihat naik turun, sebab laki-laki itu saat ini sedang menahan rasa kesal di dalam hatinya, gara-gara Lydia yang terus saja menyuruhnya untuk menceraikan wanita yang sangat ia cintai dan sayangi. "Ingat Mom, memiliki anak atau tidak itu bukan berarti membuatku dan Tara harus berpisah, karena ukuran kebahagian bukan dilihat dari memiliki seorang anak."


Lydia menghampiri Gio yang sedang duduk di pinggir ranjang. "Jika kamu tidak mau menceraikan Tara dan kamu juga tidak mau menikah dengan Avantika, Mommy punya rencana lain, dan pasti kali ini kamu akan setuju," kata Lydia tiba-tiba.


Sehingga membuat sang putra mengerutkan kening. "Rencana apa lagi?" tanya Gio yang merasa kalau pasti Rencana Lydia kali ini pasti lebih di luar nalarnya.


"Menikah dengan adik angkat kamu Sera, dengan begitu kamu tidak akan menceraikan Tara, dan juga Mommy sudah mengecek kesehatan Sera kalau adik angkat kamu itu keadaan rahimnya normal dan sehat-sehat saja. Bagaimana apa sekarang kamu setuju, Gio?"

__ADS_1


Gio merasa ide sang ibu kali ini semakin membuatnya sangatlah kaget. "Apa maksud Mommy aku akan menduakan Tara? Dengan cara menjadikan Sera sebagai madunya, begitu?" Gio malah bertanya balik pada Lydia.


"Iya, betul sekali. Jadi, dengan begitu kamu bisa memiliki dua istri sekaligus," jawab Lydia tanpa ada rasa bersalah.


"Sungguh ide ini semakin gila Mom, aku tahu Mommy ingin sekali memiliki cucu dariku, tapi tidak dengan cara begini juga. Aku tidak habis pikir kenapa Mommy malah menyuruhku menduan Tara sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja, sebelum rasa ini pada Tara tidak sedalam ini?" Jika saja Gio tidak menghormati Lydia sebagai ibunya, mungkin saja laki-laki itu sudah berkata-kata kasar saat ini. "Mom, jika Mommy berada di posisi Tara maka apa yang akan Mommy lakukan?"


"Kalau Mommy, akan dengan suara rela membiarkan Daddy kamu menikah lagi, demi mendapatkan keturunan. Dari pada kuping Mommy panas mendengar orang-orang bertanya tentang kapan akan memiliki anak." Lydia menjawab dengan sangat lancar tanpa ada kata yang terlewatkan sedikitpun. Dan tanpa mereka berdua tahu saat ini Tara mendengar semua percakapan antara ibu mertua dan suaminya itu.


"Mommy memang memiliki jantung tapi tidak punya hari!" kata Gio ketus saat ia melihat rambut Tara yang saat ini sedang bersembunyi di balik tembok karena pintu kamar itu sedikit terbuka. Jadi, Gio bisa melihat rambut sang istri. "Ingat Mom, semua apa yang ada di dalam pikiran Mommy tidak akan pernah terjadi," sambung Gio sebelum laki-laki itu benar-benar keluar dari kamar itu.


"Gio! Apa sekarang kamu mau durhaka pada wanita yang sudah melahirkan kamu ini? Sehingga kamu mengatakan itu pada Mommy?"


**


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Gio malah menemukan sang istri yang saat ini sedang menangis. Membuat hati laki-laki itu juga merasa sangat sakit.


"Tara ...," panggil Gio lembut. "Maafkan Mommy dan aku harap kamu tidak memasukkannya ke dalam hati, setiap kalimat yang tadi Mommy ucapkan."


Bukan balasan yang Tara berikan pada sang suami, melainkan suara isak tangis yang mulai terdengar sangat memilukan. Karena suasana hati Tara saat ini benar-benar sangat berantakan di tambah saat ia sudah membayangkan Gio akan menduakan dirinya, membuat wanita itu semakin membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Sebab ia berharap supaya suara isak tangisnya tidak kedengaran.

__ADS_1


"Tara, apa yang kamu pikirkan saat ini, percayalah semuanya tidak akan pernah terjadi. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Tolong ingat akan hal itu dan aku minta berhentilah menangis karena saat ini kamu sedang membuang-buang air matamu saja." Gio meraih tangan sang istri, yang saat ini digunakan untuk menutupi wajah wanita itu sendiri. "Tara, jangan begini. Tolong dengarkan aku, dan jangan pernah dengarkan siapa saja selain aku, suamimu ini," kata Gio yang berharap Tara mau mendengarkannya.


"Benar apa kata mommy Gio, kalau kamu harus menceraikan wanita yang mandul seperti aku ini," timpal Tara yang menyahut sang suami dengan suara yang serak. "Iya Gio, lebih baik kamu ceraikan aku saja. Karena aku tidak akan sanggup bila kamu menduakan aku dengan Sera."


"Hei, jangan pernah katakan itu. Aku tidak suka mendengarnya. Karena aku lebih baik memilihmu daripada harta yang Mommy incar." Gio malah keceplosan mengatakan itu pada sang istri.


"Apa maksud kamu Gio? Dan harta siapa yang mommy incar?" Di sela-sela isak tangisnya Tara masih bisa bertanya seperti itu pada sang suami.


Gio yang merasa sudah saatnya memberitahu Tara semuanya terlihat menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya pelan melalui hidungnya. Karena mula-mula laki-laki itu tidak berniat memberitahu sang istri. Namun, karena Gio ini waktu yang tepat membuat laki-laki itu harus berkata jujur saja pada sang istri. "Begini Tara Mommy tidak rela kalau harta yang dimiliki oleh Daddy jatuh ke tangan kedua menantunya yaitu kak Sisil dan Agata, sehingga membuat Mommy memintaku untuk segera memiliki anak darimu, karena jika aku memiliki keturunan maka harta Daddy tidak akan jatuh ke tangan kedua menantunya itu. Sebab kak Sisil dan Agata sudah memiliki anak masing-masing satu," kata Gio menjelaskan, dan pada detik berikutnya laki-laki itu mulai lagi menjelaskan Tara dari A sampai Z.


Setelah beberapa menit Gio memberitahu Tara semuanya. Pada akhirnya Tara bisa tenang dan tidak menangis lagi seperti yang tadi. Kini wanita itu terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Mulai sekarang berhenti meminta cerai dariku, karena aku tidak akan pernah mengabulkan permintaanmu yang satu itu," ucap Gio sambil membawa sang istri ke dalam dekapannya. "Karena aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Tapi, bagaimana dengan mommy, yang ingin memiliki cucu?"


"Sstt, jangan pikirkan itu karena biarkan saja itu semua menjadi urusan Mommy sendiri," jawab Gio yang berusaha menenangkan hati sang istri. "Aku minta tetap percaya pada suamimu ini."


Tara memeluk Gio sambil berkata, "Aku takut Gio, kamu akan berpaling hati. Karena aku yang tidak kunjung memberikan kamu keturunan."

__ADS_1


Gio mengelus rambut sang istri dan beberapa kali mengecup, pucuk kepala wanita itu dengan penuh sayang. "Kita buktikan pada Mommy kalau kamu tidak mandul, andai saja Tuhan yang belum memberikan kita kepercayaan itu."


__ADS_2